PUBLIKASI MINISTRIES “A GRAIN OF WHEAT”
Oleh David W. Dyer
Diterjemahkan oleh L. Yunnita
Hari ini, kita hidup dalam apa yang disebut sebagai “akhir zaman”. Artinya, kita berada di hari-hari terakhir zaman gereja. Meskipun masih ada satu “zaman” lagi yang akan datang di bumi ini, yaitu zaman kerajaan, tetapi yang harus menjadi perhatian kita saat ini adalah fakta bahwa zaman di mana kita sekarang ini berada sedang cepat berakhir. Pernyataan ini dapat dengan mudah diverifikasi dengan melihat beberapa ayat Alkitab yang terkenal. Ayat-ayat ini menggambarkan bagaimana “akhir zaman” ini akan terlihat dan beberapa peristiwa yang akan terjadi di dalamnya.
Dalam 2 Tesalonika 2:1-3 kita membaca: “Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilahm roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Janganlah kamu disesatkan orang dengan cara bagaimanapun juga! Sebab sebelum hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka[...]”
Di sini kita belajar bahwa ada dua peristiwa penting yang harus terjadi sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali. Dua peristiwa penting itu adalah “kemurtadan” dan pengungkapan “manusia dosa”. Meskipun ada dua tanda yang disebutkan di sini, tetapi untuk saat ini pembahasan kita akan di dipusatkan pada tanda pertama, yaitu kemurtadan besar.
Beberapa orang mencoba menggunakan ayat ini untuk membenarkan tentang “pengangkatan sebelum tribulasi” dengan mengajarkan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “kemurtadan” dapat berarti “kepergian”. Dengan demikian, mereka berpendapat bahwa gereja akan “pergi” sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali.
Namun, kata Yunani yang sebenarnya di sini adalah “apostasia” yang secara harfiah berarti “murtad”. Pada kenyataannya, kepergian ini adalah kepergian dari iman. Ini adalah kemurtadan dari ajaran-ajaran dan pribadi Yesus Kristus. Kemurtadan ini adalah penyimpangan dari pesan Injil yang sejati dan dari hubungan yang murni dengan Tuhan kita. Ini tentu saja bukan hal yang sama dengan pengangkatan.
GEREJA MASA KINI
Ebenarnya sulit bagi saya untuk memulai pembahasan berikut ini. Berbicara, menulis, bahkan memikirkan tentang subjek ini sungguh-sungguh membuat hati saya berduka. Namun, sepertinya penting untuk melakukannya agar pembaca dapat memiliki pemahaman yang jelas tentang di mana kita berada dalam garis waktu Tuhan.
Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa gereja saat ini sudah murtad. Saat ini gereja makin jauh dari Tuhan. Jauh sekali dari rancangan dan tujuan-Nya. Semua bukti menunjukkan bahwa kita sekarang berada di tengah-tengah penggenapan nubuatan penting ini. Kita adalah generasi yang sebenarnya menyaksikan persis apa yang telah diprediksi Alkitab.
Saya tidak akan menyangkal bahwa ada beberapa titik terang di gereja saat ini. Ada beberapa orang yang masih mengasihi Tuhan. Ada beberapa yang setia melakukan pekerjaan-Nya. Namun, pada umumnya, kondisi sebagian besar gereja masa kini sangat menyedihkan. Gereja benar-benar tenggelam dalam dosa, kegelapan, dan kebingungan. Kondisi ini sepertinya hanya makin buruk.
Bagaimana saya bisa mengatakan hal seperti itu? Apakah saya sedang menghakimi? Saya rasa tidak. Saya hanya sedang mengamati. Saya tidak pernah mencari tahu tentang hal-hal ini secara mendalam. Kisah-kisah yang menunjukkan bukti tentang fakta ini hanya datang ke telinga saya.
Apa yang akan saya nyatakan di sini adalah pengetahuan umum. Namun, bagi mereka yang belum memahami situasinya, sepertinya perlu untuk menyajikan beberapa bukti tentang kondisi murtad dan jatuh ini. Perlu untuk menyebutkan beberapa statistik.
1. Saat ini, insiden perzinaan (seks di luar pernikahan) di antara orang percaya (ini berlaku untuk gereja di sebagian besar dunia) tidak ada bedanya dengan dunia. Dengan kata lain, seks bebas banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku “percaya” sama seperti mereka yang tidak memiliki iman.
Salah satu bukti kecil ini ditunjukkan oleh seorang pria yang menjadi penatua di gereja Metodis “yang diperbaharui”. Dia mengatakan bahwa selama 22 tahun melayani sebagai penatua, hanya ada tiga pasangan yang menikah di sana tanpa melakukan hubungan seks sebelumnya. Dua dari tiga pasangan ini adalah anak-anaknya sendiri.
2. Secara statistik, perzinaan di gereja masa kini sama umumnya seperti di luar gereja.
3. Sayangnya, prevalensi perceraian lebih tinggi di kalangan jemaat gereja daripada di kalangan mereka yang berada di luar gereja.
4. Gereja makin memaklumi aktivitas yang dikatakan Alkitab adalah dosa. Sebagai contoh, homoseksualitas diterima sebagai suatu hal yang normal dan tidak kontroversial. Baru-baru ini saya melihat di televisi sebuah upacara pernikahan dua pendeta sesama jenis di mana jemaat “beribadah” dan menangis bersama. Cincin pernikahan mereka diikat dengan pita dan diletakkan dalam Alkitab yang terbuka. Ini adalah sesuatu yang menyedihkan hati Tuhan.
5. Beberapa tahun lalu ada seorang psikolog Kristen populer di AS yang menyatakan bahwa melalui pengalamannya memberi nasihat kepada orang percaya, dia menemukan bahwa 50% pria yang duduk di bangku gereja pada hari Minggu pagi dan setidaknya 30% pendeta kecanduan pornografi secara daring. Angka-angka ini sebenarnya bisa terlalu rendah.
6. Jumlah pengkhotbah dan pemimpin gereja lainnya yang terlibat dalam perzinaan dan dosa seksual lainnya dengan anggota jemaat mereka juga mengejutkan. Baru-baru ini saya memperhatikan bahwa di sebuah gereja di kota terdekat ada tiga dari pendeta mereka yang terlibat dalam perzinaan dengan wanita jemaat gereja tersebut.
Salah satu dari tiga pendeta tersebut pernah melakukan hubungan seks dengan 14 wanita yang berbeda dalam kelompok itu. Makin banyak gereja yang mengabaikan atau bahkan membenarkan tindakan dari para pemimpin semacam itu alih-alih mengutuknya.
Seorang pria lain, yang lulus dari sebuah seminari teologi konservatif terkenal di Texas, mengatakan bahwa setiap orang yang pernah belajar bersamanya dan pernah dia hubungi, mengaku pernah terlibat dalam hubungan di luar nikah dengan anggota jemaat mereka. Kemunafikan semacam inilah yang membuatnya meninggalkan pelayanan. Contoh-contoh ini bisa terus berlanjut.
7. Daftar dosa yang lebih jelas ini tentu saja tidak termasuk hal-hal seperti berbohong, membenci, serakah, gosip, menjelek-jelekkan, iri hati, pemimpin yang menggunakan karunia dan posisi mereka untuk memperkaya diri sendiri, mengambil keuntungan dari orang lain, kesombongan, kecongkakan, percekcokan, perselisihan untuk mendapatkan kuasa, ketenaran, dan kekuasaan, tidak mengembalikan uang pinjaman dan dosa lainnya yang jumlahnya hampir tak terbatas. Hal-hal ini begitu umum di gereja sehingga hampir tidak ada yang memperhatikan atau bahkan menganggapnya dosa lagi.
Saya tidak bermaksud untuk terus-menerus membahas situasi memalukan ini. Ini hanya untuk menunjukkan bagaimana gereja telah jatuh dan murtad. Dia tidak suci seperti yang diperintahkan oleh penciptanya. Dia berkata: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Kita juga diperingatkan bahwa tanpa kekudusan, tidak seorang pun di antara kita akan melihat Tuhan (Ibr. 12:14).
Sudah pasti banyak yang akan bersikeras bahwa, meskipun kekudusan yang tampak tidak ada, kekudusan yang dimaksudkan Allah ada di dalam pikiran-Nya. Dalam beberapa hal, Dia percaya atau membayangkan kita sebagai orang yang kudus, bahkan pada saat-saat ketika kita tidak kudus. Jika hal itu benar, maka berarti Allah telah kehilangan akal atau mungkin telah menjadi pikun.
Di gereja masa kini, konsep pengudusan, yang sebenarnya berarti “dibuat kudus”, telah dikurangi menjadi sekadar “dipisahkan”. Dari pengamatan saya, yang tampaknya sedang dipersiapkan oleh kebanyakan orang dan sedang “dipisahkan” adalah penghakiman Allah.
Dia memperingatkan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Juga, “Sebab kita mengenal Dia yang berkata, ‘Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan,’ kata Tuhan. Dan lagi, “Tuhan akan menghakimi umat-Nya” (Ibr. 10:30). Selanjutnya, kita baca: “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” (Ibr. 10:31).
Kenyataan yang menyedihkan dan tak terelakkan adalah bahwa kita berada di tengah-tengah penggenapan nubuatan akhir zaman yang penting. Kita menyaksikan kemurtadan besar, yaitu murtad yang sudah diperkirakan Alkitab.
Karena jelas bagi setiap orang yang jujur bahwa gereja tenggelam dalam dosa dan kenajisan, ada pertanyaan yang muncul: Bagaimana gereja bisa menjadi seperti ini? Kesalahan apa yang telah kita lakukan? Sebagian besar jawabannya terletak pada fakta bahwa gereja telah diperdaya dan dirampas. Dia telah menerima pengajaran yang salah dan tidak memadai. Gereja telah disesatkan oleh banyak orang yang telah memutarbalikkan atau salah memahami firman dan kehendak Allah. Mereka telah meredakan Injil untuk membuatnya lebih mudah diterima dan mudah. Mereka telah memutarbalikkannya sehingga tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengubah orang menjadi citra Kristus. Tidak lagi menghasilkan kekudusan dan hasil lain yang dicari Allah.
Sebagian besar pemutarbalikan Injil ini telah disebarkan oleh para pengkhotbah dan guru masa kini yang berusaha memberikan “hasil”. Banyak yang ingin memenuhi gereja mereka dengan anggota untuk tampak sukses. Jadi mereka menyesuaikan khotbah mereka agar tidak menyinggung perasaan dan mudah diterima. Mereka mencari teknik baru, doktrin, ide, atau praktik yang dapat menarik orang masuk ke gereja atau pelayanan mereka.
Mereka memutarbalikkan Injil yang sejati — jika memang mereka benar-benar memahaminya — untuk memajukan ambisi pribadi mereka dan memuaskan ego mereka sendiri. Subjek-subjek yang tidak menyenangkan, seperti pengakuan dosa dan kekudusan yang sejati, dikesampingkan sehingga tidak ada yang merasa tidak nyaman atau tersinggung.
ROH PENYESAT
Salah satu ayat yang secara akurat menggambarkan kesalahan masa kini ditemukan dalam 1 Timotius 4:1 di mana kita baca, “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan[...]”. Di sini kita mendapat konfirmasi bahwa di “zaman akhir” banyak orang yang akan meninggalkan atau murtad dari iman. Kesalahan ini akan didukung oleh roh-roh yang menyesatkan atau “menggoda” (istilah yang dapat ditemukan pada versi Alkitab King James) dan pengajaran doktrin yang berasal dari ranah kegelapan spiritual.
Mengingat bahwa sekarang pun hal ini sedang terjadi, maka bagaimana cara kita agar bisa mengenali kesalahan-kesalahan ini? Bagaimana kita bisa tahu jika memang, hal-hal ini terjadi di antara mereka dengan siapa kita bersekutu hari ini? Bagaimana kita bisa membedakan zaman dengan benar dan juga menghindari jebakan yang sama?
Sebagai permulaan, mungkin akan berguna untuk mempelajari arti dari disesatkan atau digoda. Ini adalah sesuatu yang terjadi melalui kekuatan (termasuk pikiran, perasaan, dan pengajaran) roh-roh jahat. Ketika kita disesatkan, kita tergoda untuk melibatkan diri dalam sesuatu yang tidak benar. Kita sering menyadari di lubuk hati paling dalam bahwa tindakan atau keyakinan kita sebenarnya salah. Namun, kita membiarkan diri kita terpengaruh karena ada sesuatu dalam diri kita yang menginginkannya. Secara diam-diam, kita ingin melakukan atau percaya pada sesuatu sehingga kita membiarkan diri kita terpengaruh meskipun ada bagian dari kita yang tahu itu tidak benar.
Sebagai contoh, seorang pria atau wanita yang tergoda untuk berzina pasti menyadari bahwa itu adalah perbuatan salah. Namun, keinginan duniawi mereka begitu kuat sehingga mendesak untuk dipenuhi. Akibatnya, mereka membiarkan diri mereka diyakinkan oleh pikiran mereka sendiri dan dihanyutkan oleh perasaan hingga akhirnya terjerumus ke dalam dosa.
Demikian juga, banyak orang percaya yang membiarkan diri mereka dipersuasi untuk percaya pada hal-hal tertentu atau melibatkan diri dalam praktik tertentu karena hal-hal tersebut menarik bagi keinginan daging mereka.
Mungkin mereka mengadopsi sistem keyakinan yang membebaskan mereka dari dosa-dosa tertentu yang sebenarnya mereka tidak ingin tinggalkan. Mungkin mereka menerima pengajaran tertentu karena menarik bagi akal mereka. Sementara yang lain memeluk praktik-praktik tertentu yang membuat perasaan mereka baik. Yang lainnya mengikuti aliran pengajaran tertentu yang dapat mengurangi rasa bersalah mereka terhadap hal-hal di masa lalu yang belum mereka akui di hadapan Allah. Yang lainnya hanya mengikuti keyakinan dan praktik gereja mereka karena ingin diterima oleh kelompok dan menikmati kebersamaan dengan orang lain.
Dengan cara-cara ini dan banyak cara lainnya, orang percaya disesatkan ke dalam praktik dan pengajaran yang tidak mencerminkan hati atau ajaran Yesus Kristus.
Tentu saja, dalam tulisan ini tidak mungkin untuk mengidentifikasi semua cara yang membuat pria dan wanita berpaling dari kebenaran hari ini. Tidak praktis untuk mencantumkan semua kesalahan yang begitu banyak dalam satu tulisan. Sebaliknya, yang bisa kita lakukan adalah mencoba mengidentifikasi dan membahas beberapa sistem keyakinan dan praktik keliru yang lebih besar lainnya yang umum terjadi di gereja.
Bersamaan dengan ini, kita akan memeriksa apa kebenaran Yesus Kristus yang sebenarnya. Harapan dan doa penulis adalah bahwa dengan mempelajari hal ini dengan saksama banyak orang yang akan dibawa keluar dari kesalahan mereka dan masuk ke dalam kebenaran yang akan membuka bagi mereka tingkat hubungan yang lebih erat dengan Juruselamat mereka.
Sangat sedikit orang yang akan tertipu oleh sesuatu yang jelas-jelas salah. Oleh karena itu, roh-roh setan penggoda, alih-alih mencoba menciptakan doktrin palsu baru, sering kali hanya memodifikasi sesuatu yang benar dengan halus. Mereka memutarbalikkan dan mengubah apa yang diajarkan Yesus dan para rasul untuk menciptakan doktrin baru yang dekat dengan kebenaran, tetapi tidak persis sama dengan kebenaran.
Ketika orang-orang mulai menerima penyimpangan ini, mereka memilih jalur menuju kesalahan serius. Makin jauh seorang percaya berada di jalur yang salah, makin jauh dia dari kebenaran.
Analoginya mungkin seperti dua jalan yang mulai sedikit menyimpang satu sama lain. Awalnya, jalan ini cukup dekat, namun setelah menempuh ribuan kilometer, jarak antara mereka menjadi sangat jauh. Seiring berjalannya waktu, penyimpangan kecil dalam pemahaman kita tentang Injil dapat mengarah pada kesalahan besar dalam kehidupan kita.
Oleh karena itu, diskusi kita tentang hal-hal ini mungkin tidak mudah. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menerangkan hal ini sejelas mungkin. Namun, karena banyak dari kesalahan ini sudah berlangsung lama dan sangat melekat dalam gereja saat ini, jadi mungkin memerlukan waktu, studi, meditasi, dan doa untuk dapat kembali kepada kebenaran yang sebenarnya. Ini melibatkan tidak hanya membaca pesan ini, tetapi juga menuntut setiap pembaca untuk dengan sungguh-sungguh mencari Tuhan sendiri, supaya mereka dapat mendengar dari Tuhan dan memahami kebenaran-Nya seperti apa yang Dia sajikan.
Untuk mencoba menyederhanakan penyelidikan ini, kita akan membagi studi kita menjadi dua bagian. Bagian pertama akan fokus pada bagaimana gereja saat ini telah menyimpang dari ajaran yang sehat. Bagian kedua akan melihat bagaimana kita telah menyimpang dari Pribadi Yesus Kristus. Kedua hal ini sudah pasti saling berkaitan, tetapi untuk memberikan kemudahan pemahaman, kita akan membaginya menjadi dua bagian.
INJIL LAIN
Paulus menulis: “Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Gal. 1:6, 7). Di sini kita memiliki konfirmasi bahwa banyak kesalahan dalam gereja hanyalah penyimpangan dari Injil yang asli.
Di tempat lain, Paulus dengan mengejutkan menyatakan bahwa orang-orang percaya mudah tertipu. Mereka sangat mudah percaya. Mereka juga tidak punya pengertian dan dengan mudah menerima guru dan ajaran palsu. Kita baca: “Sebab kamu sabar saja, jika ada seseorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima.” (2Kor. 11:4).
Apa sebenarnya karakteristik “injil lain” ini yang tampaknya begitu merajalela di gereja hari ini sehingga menyebabkan banyak orang tersesat? Jelas ini merupakan suatu karakteristik yang secara alami memiliki daya tarik tertentu bagi manusia. Suatu ajaran yang menyingkirkan hal-hal yang menyinggung perasaan dan membuat injil mudah diterima. Suatu pengajaran yang tidak membuat tuntutan serius, menerima semua orang, dan mendorong setiap orang untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Ini adalah injil yang hampir tidak memerlukan pengorbanan pribadi apa pun, tetapi menawarkan banyak keuntungan yang dianggap ada.
MENYALAHARTIKAN PENGAMPUNAN
Mari kita mulai penyelidikan kita dengan berbicara tentang “injil pengampunan” yang hanya sebagian benar, sangat dilebih-lebihkan dan salah tafsir. Sebagian besar gereja hari ini tampaknya mengabarkan injil ini. Pesannya kira-kira seperti ini: Jika kamu menerima Yesus, semua dosa-dosamu (baik dosa masa lalu, sekarang dan masa depan) akan diampuni. Dengan demikian, kamu diselamatkan dari neraka dan ditakdirkan untuk surga. Ketika Yesus kembali suatu hari, kehidupan dan sifat berdosamu akan seketika berubah dan kamu akan mendapatkan rumah mewah di surga di mana kamu akan hidup menikmati segala macam kenikmatan selamanya.
Apa yang salah dengan pesan ini? Hampir seluruh gereja mengabarkannya. Bagaimana mungkin pesan “baik” ini salah? Apakah penulis buku ini semacam orang yang keras kepala, legalistik, tidak penuh kasih yang mencoba merusak apa yang Yesus lakukan untuk kita?
Ketika kita melanjutkan pembahasan ini, ingatlah bahwa injil yang tidak lengkap hanyalah sedikit penyimpangan dari Injil yang benar, pada awalnya.
Mungkin kita harus mengingat bahwa Alkitab tidak pernah menyebut injil lain dengan “injil pengampunan”. Sebaliknya, kita menemukan “injil kerajaan”, “injil Yesus Kristus”, “injil damai”, “injil Allah”, “injil anugerah Allah”, “injil kemuliaan Kristus”, dan yang terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya, “injil keselamatanmu” (Ef. 1:13).
Namun, apa yang hampir secara universal diberitakan hari ini adalah pesan yang berfokus pada “menerima Yesus” dan kemudian menerima pengampunan. Tampaknya, ini merupakan inti seluruh pesan. Sekarang bagaimana dan di mana ini bisa salah?
Kita bisa mulai dengan menekankan bahwa Yesus tidak menginginkan penerimaan kita. Dia tidak menunggu di surga dengan cemas, mengepalkan tangannya, berharap bahwa seseorang atau siapa pun akan menerima Dia. Kemudian, ketika kita “menerima” Dia, hal itu akan memenuhi kebutuhan emosional-Nya sehingga Dia mengampuni semua dosa kita di masa lalu, sekarang, maupun masa depan, dan kemudian dengan murah hati memberi hadiah di surga untuk mereka yang mengetahui kebutuhan-Nya dan menerima Dia.
Tentu saja tidak ada yang memberitakan Injil dengan cara ini. Mereka menggunakan istilah dan cara ekspresi yang berbeda. Namun, itu merupakan kesimpulan yang dengan mudah diambil dari apa yang diajarkan hari ini. Pemahaman seperti itu sering kali diambil oleh orang-orang pemikir dan logis, yang mendengar khotbah yang menyesatkan hari ini dan akibatnya mulai menganggap pesan Injil sebagai sesuatu yang lemah, menyedihkan, dan tidak menarik.
Selanjutnya, harus dinyatakan dengan jelas dan tegas bahwa tujuan utama Yesus mati di kayu salib bukan untuk mengampuni kita karena dosa kita. Benar, tujuan utama Yesus bukanlah pengampunan, tetapi untuk menyelamatkan kita dari dosa kita!
Meskipun pengampunan tentu saja merupakan bagian penting dan berharga dari pesan Injil, tetapi itu bukan fokus utama atau maksud dari Injil. Lebih dari sekadar mengampuni kita, Yesus mati agar kita dapat berhenti berbuat dosa! Dia disalibkan untuk menghapuskan dosa dari kita sepenuhnya, bukan hanya mengabaikannya atau mengampuni kita.
Allah berkata kepada Yusuf tentang tunangannya Maria dalam Matius 1:21, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka”. Dia tidak mengatakan bahwa Yesus hanya akan mengampuni umat-Nya karena dosa mereka, tetapi benar-benar menyelamatkan mereka dari dosa mereka.
Yesus datang untuk menciptakan umat yang kudus, dikuduskan yang telah berubah sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi berdosa! Tujuan-Nya bukan hanya untuk mengampuni mereka dan kemudian membiarkan mereka terus berdosa sampai akhirnya Dia membawa mereka ke surga.
“Injil pengampunan” yang ada pada saat ini adalah injil yang menyajikan cara yang mudah dan tanpa rasa sakit untuk merasa baik tentang kehidupan abadi dan kondisi saat ini, tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Oleh karena itu, hanya sedikit atau bahkan tidak melakukan apa-apa untuk benar-benar mengubah dan menyelamatkan mereka yang mengikutinya. Tidak membebaskan mereka dari dosa.
Sebaliknya, hanya memberikan alasan untuk kondisi berdosa mereka. Pada dasarnya, ini hanya izin untuk terus melakukan dosa karena tidak memberikan harapan untuk benar-benar berubah atau dibebaskan dari dosa. Banyak yang sebenarnya percaya bahwa begitu mereka “menerima” Yesus, dosa mereka tidak lagi penting bagi Tuhan atau bahkan Dia tidak lagi dapat melihatnya. Betapa sesatnya ini! Ketidakbenaran dan kebenaran sebagian tidak akan, bahkan tidak dapat membebaskan Anda. Jelas, pengampunan sangat penting bagi pesan Injil. Tanpa mengampuni kita, Tuhan tidak bisa bersekutu dengan kita. Keberadaan-Nya yang kudus tidak bisa berinteraksi dengan dosa kita. Ya, Tuhan dapat dan memang mengampuni kita ketika kita benar-benar bertobat. Namun, ini hanya satu langkah menuju rencana utama-Nya! Apa yang Dia benar-benar ingin lakukan adalah mengubah kita (menyelamatkan kita) sehingga kita menjadi seperti Dia, kudus dan tanpa dosa (1Ptr. 1:16).
Jika Anda tidak berubah, tidak menjadi kudus, dan tidak diubahkan makin menjadi serupa dengan gambar Kristus, maka pengampunan-Nya tidak banyak memberi manfaat bagi Anda.
Ini mungkin mengejutkan Anda, tetapi Tuhan tidak dapat mengampuni dosa (tunggal). Benar sekali. Tidak ada ayat dalam Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa Tuhan akan mengampuni dosa. “Dosa” adalah kata yang menggambarkan siapa kita. Dosa (jamak) merujuk pada apa yang kita lakukan. Ya, Yesus dapat dan akan mengampuni hal-hal salah yang kita lakukan (dosa-dosa kita), tetapi Dia tidak bisa dan tidak akan mengampuni siapa diri kita. Dia memiliki solusi yang sama sekali berbeda untuk itu.
Rencana Yesus adalah memanggil pria dan wanita keluar dari sistem dunia ini, mengisi mereka dengan hidup-Nya sendiri, dan kemudian mengubah mereka menjadi serupa dengan gambaran-Nya. Untuk melakukan itu, Dia harus membuang kehidupan dan sifat berdosa lama dari diri kita.
Tentu saja, pengampunan merupakan bagian dari proses itu, tetapi itu hanya bagian saja. Bagian lainnya melibatkan penyaliban manusia lama kita. Ini melibatkan kematian dari kehidupan dan sifat berdosa kita.
Ketika orang-orang hanya memberitakan sebagian dari pesan Injil dan menyajikannya sebagai suatu keseluruhan, ini merupakan kesalahan. Ini menyesatkan orang dan memberi mereka kesan palsu tentang apa yang Tuhan inginkan dan coba lakukan.
Ketika kita hanya menyampaikan bagian-bagian “mudah”, yang lebih dapat diterima dari Injil dan meninggalkan bagian yang akan merugikan kita, bagian yang sulit dan yang terasa “terlalu keras”, maka kita menipu orang dengan kebenaran sebagian dan menuntun mereka ke kesalahan. Dengan menyajikan kebenaran sebagian sebagai kebenaran utuh, kita sebenarnya menghalangi orang lain untuk menyenangkan Tuhan. Ini bukan pekerjaan Tuhan, tetapi pekerjaan yang lebih gelap.
Sebagian besar waktu, mereka yang memberitakan Injil “pengampunan” meninggalkan pesan tentang salib. Ini terlalu menyinggung (Gal. 5:11). Namun, kebenaran adalah agar diselamatkan dari dosa kita (tunggal) kita perlu mati. Hanya orang mati yang tidak melakukan dosa. Oleh karena itu, kematian Kristus harus menjadi nyata dalam hidup kita! Salib harus benar-benar bekerja dalam diri kita setiap hari. Kita juga harus disalibkan! Kita harus benar-benar mengalami kematian dan kebangkitan Yesus untuk mengetahui apa arti keselamatan sebenarnya. Mati seperti itu tidak menyenangkan atau mudah.
Pada zaman Yesus, ketika orang melihat seseorang membawa salib, orang itu tidak pernah sendirian. Sebaliknya, dia selalu dikelilingi oleh prajurit Romawi. Selain itu, dia tidak hanya berkeliling membawa potongan kayu berbentuk salib tanpa tujuan. Dia memiliki tujuan tertentu. Dia akan mati. Dia akan disalibkan dengan cara yang menyakitkan.
Jika kita akan mengikuti Yesus dan memenuhi kehendak-Nya, kita juga harus membawa salib (Mat. 10:38, 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23, 14:27). Tidak ada pengganti. Tidak ada alternatif untuk kematian kita. Kita juga harus disalibkan. Kita juga harus mati.
Yesus mengampuni kita agar kita bisa memasuki persekutuan dengan Dia. Kemudian, melalui persekutuan ini, seluruh rencana-Nya bisa bekerja dalam hidup kita. Rencana ini termasuk kebebasan dari dosa. Kebebasan ini hanya datang dengan kematian kita. Selama hidup kita yang lama masih ada, kita akan cenderung melakukan dosa. Ini adalah fakta sederhana. Solusi Yesus untuk ini adalah menerapkan penyaliban-Nya dalam kehidupan kita dan kemudian menggantikannya dengan kehidupan kekal-Nya. Ini adalah pesan Injil yang sebenarnya.
Kebebasan luar biasa ini dari dosa, yang diwujudkan dengan benar-benar mengalami kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita, bisa terjadi oleh pengampunan. Namun, jika kita hanya fokus pada pengampunan dan tidak pernah mengalami keselamatan penuh dan lengkap melalui salib, maka kita telah dirampok dan ditipu.
Mereka yang mengikuti pesan seperti itu tidak akan pernah bebas dari dosa, tidak akan pernah berubah, dan tidak akan pernah dipersiapkan untuk semua yang telah Tuhan sediakan bagi kita di masa depan. Mereka telah tertipu oleh kebenaran sebagian yang akhirnya menjadi kesalahan yang serius.
KESALAHPAHAMAN TENTANG IMAN
Setiap orang Kristen harus tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman. Iman kita pada Yesus yang membenarkan kita di mata Tuhan, bukan karena pekerjaan yang kita lakukan atau perilaku kita. Namun, iman di gereja masa kini juga telah rusak. Yang diajarkan sebagai iman saat ini adalah filsafat murah dan mudah yang tidak bisa menyelamatkan siapa pun.
Tampaknya, “iman” saat ini menyetujui beberapa fakta Alkitab atau ide-ide “Kristen”. Bagi banyak orang, “iman” ini hanya latihan mental semata untuk mencoba meyakinkan diri sendiri atau orang lain tentang hal-hal yang tertulis dalam Alkitab. Lebih buruk lagi, banyak yang mencoba untuk percaya dan mengkhotbahkan banyak filosofi “Kristen” yang bahkan sering kali tidak alkitabiah. Ini adalah aktivitas yang tidak berguna.
Akibat dari kesalahan ini adalah banyak gereja saat ini yang dipenuhi dengan orang-orang yang hanya diyakinkan tentang sesuatu, tetapi tidak benar-benar mengalami perubahan diri. Mereka tidak pernah mengaku dosa, tidak pernah benar-benar bertobat, dan karena itu tidak benar-benar diselamatkan dari siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.
Sebaliknya, iman yang sejati timbul dari hati manusia sebagai respons terhadap pewahyuan langsung dari Tuhan sendiri. Ketika Tuhan menyatakan diri-Nya, barulah kita bisa percaya. Kita membaca: “[...] dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” (Yoh. 2:11). Dan juga: “Hal ini dikatakan oleh Yesaya, karena ia telah melihat kemuliaan-Nya dan telah berkata-kata tentang Dia.” (Yoh. 12:41). Lebih lanjut kita diberi tahu tentang Abraham, bapa segala orang beriman: “Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan[...]”, dan kemudian: “Abram pun percaya kepada TUHAN dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kej. 15:1, 6). Urutan hal-hal ini penting. Pertama, Tuhan menyatakan diri-Nya. Kemudian, manusia percaya.
Seperti yang kita lihat dari ayat-ayat di atas, untuk benar-benar percaya, kita harus terlebih dahulu melihat sesuatu dari Tuhan sendiri. Dia harus menyatakan diri-Nya dengan cara tertentu kepada kita. Ini bisa melalui firman-Nya, kotbah seseorang, atau banyak cara lain.
Namun, iman yang sejati hanya bisa timbul ketika kita benar-benar mengalami sendiri beberapa aspek Tuhan sendiri. Hati kita kemudian akan merespons ini dengan percaya.
Kita memang dibenarkan oleh iman saja, tetapi harus iman kepada Pribadi yang hidup, bukan hanya kepada beberapa fakta tentang Pribadi itu. Jika Tuhan belum pernah menyatakan diri kepada Anda, maka tidak mungkin Anda bisa percaya kepada-Nya atau menganggap diri Anda sebagai salah satu anak-Nya.
Tidak ada yang bisa dibenarkan hanya dengan percaya pada kebenaran tentang Tuhan saja. Di sisi lain, setiap orang dapat dibenarkan dengan percaya pada Pribadi Tuhan. Untuk mencapai hal ini, mereka harus mengalami Tuhan dengan cara tertentu. Dia telah menyatakan diri-Nya kepada mereka. Kemudian, mereka merespons wahyu ini dengan percaya kepada-Nya.
Percaya pada informasi, meskipun sangat alkitabiah dan benar, tidak dapat menyelamatkan kita. Hanya menerima dan percaya pada wahyu Tuhan yang hidup saja yang akan menyelamatkan kita dari siapa dan apa kita. Untuk dianggap sebagai orang percaya yang sejati, kita harus memiliki pertemuan yang sungguh-sungguh dengan-Nya.
Harap jangan salah paham dengan pernyataan berikut. “Firman Tuhan” yang sebenarnya bukanlah sebuah buku, tetapi Seorang Pribadi yang bernama Yesus Kristus, Anak Tuhan.
Saya percaya dan ingin menegaskan bahwa Alkitab yang kita miliki saat ini adalah catatan yang akurat dan benar tentang perkataan dan wahyu Tuhan. Alkitab tersebut diilhami oleh-Nya. Saya sama sekali tidak mempertanyakan kebenaran ini. Namun, percaya pada sebuah buku, bahkan ketika itu adalah Alkitab, tidak dapat menyelamatkan kita. Kita harus percaya pada Pribadi Yesus. Untuk melakukan ini, Dia sendiri harus telah menyatakan diri kepada kita dengan cara tertentu dan kita harus telah meresponsi Dia dengan percaya pada-Nya. Hanya kemudian kita bisa dianggap sebagai salah satu anak-Nya. Sangat mungkin bagi orang-orang untuk percaya pada beberapa kebenaran alkitabiah, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu dengan Yesus Kristus.
Banyak orang percaya hari ini mencoba percaya pada sesuatu yang tidak benar-benar nyata bagi mereka. Mereka memilih beberapa ayat Alkitab yang menarik bagi mereka dan kemudian mencoba memercayai ayat-ayat tersebut. Misalnya, beberapa orang membayangkan bahwa mereka akan segera menjadi kaya atau disembuhkan. Lainnya percaya bahwa mereka telah diampuni atas dosa-dosa yang tidak mereka akui dengan sungguh-sungguh atau bertobat dengan tulus. Yang lainnya menganggap bahwa Tuhan tidak melihat ketika mereka melakukan dosa atau bahkan tidak benar-benar peduli apakah mereka melakukan dosa atau tidak.
Izinkan saya menyatakan setegas mungkin. “Iman” semacam itu tidak berguna! Latihan mental bukan iman. Mengulang ayat-ayat Alkitab dan mencoba meyakinkan diri sendiri tentang sesuatu yang alkitabiah atau bentuk kecerdasan intelektual lainnya tidak akan membantu perjalanan Anda dengan Tuhan. Hanya dengan melihat Dia melalui Roh Kudus kita dapat memiliki iman yang menyelamatkan dan sejati. Jenis “iman” yang dimiliki banyak orang di gereja hari ini hanyalah imajinasi. Banyak orang yang berbicara tentang, bahkan mengkhotbahkan hal-hal yang tidak nyata bagi mereka. Hal-hal ini mungkin alkitabiah dan benar dalam pengertian kekal, tetapi hal-hal ini tidak tampak nyata dalam kehidupan mereka yang sering membicarakannya.
Akibatnya, banyak gereja saat ini yang tidak berpijak pada realitas. Ini adalah hasil dari iman yang palsu dan khayalan yang tidak menyelamatkan siapa pun.
SALAH MENGARTIKAN PEMBENARAN
Konsep yang berharga tentang pembenaran kita melalui iman juga telah diselewengkan oleh setan dengan penggambaran yang keliru kepada gereja. Seperti yang telah kita lihat, iman sejati bukan hanya sekadar mental. Ini adalah respons kita terhadap pernyataan diri Tuhan.
Ketika kita merespons secara positif, kita akan dibenarkan. Namun, jika dan ketika kita menolak untuk mengakui dan menaati apa yang Dia nyatakan kepada kita, kita menjadi tidak taat.
Sesungguhnya, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada anak-anak-Nya setiap hari, bahkan setiap saat. Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita merespons wahyu ini? Apakah kita mengenalinya? Apakah kita menerimanya? Apakah kita menaati perintah dan arahan-Nya? Apakah kita menanggapinya dalam iman? Jika tidak, maka kita tidak lagi sedang hidup dalam iman dan tidak lagi sedang dibenarkan.
Mari kita coba ilustrasikan ini dengan contoh. Misalkan seseorang menerima Yesus lima tahun yang lalu. Tuhan dinyatakan kepada mereka dengan penuh anugerah dan luar biasa, dan mereka percaya kepada (dalam bahasa Yunani “ke dalam”) Dia. Dalam contoh ini, kita akan diyakinkan bahwa orang ini benar-benar dan sungguh-sungguh diubahkan.
Sekarang mari kita bayangkan, bahwa seiring berjalannya waktu individu ini mulai melakukan dosa. Mungkin dia mulai terlibat dalam seks di luar pernikahan.
Yesus sudah pasti akan menegur mereka tentang dosa ini. Dia pasti tahu dan tidak akan mengabaikan masalah ini. Darah-Nya yang berharga tidak akan membutakan mata-Nya terhadap hal-hal yang melanggar kekudusan-Nya. Sebaliknya, Dia akan menunjukkan ketidakpuasan-Nya terhadap anak yang tidak taat itu dengan berbagai cara.
Namun, misalkan orang ini tidak menanggapi teguran Yesus dengan positif. Dia menutup telinga rohaninya dan mengeras hatinya. Keinginannya akan kenikmatan sensual membuatnya terus berdosa dan menolak Roh Kudus yang berbicara di hatinya.
Apakah mungkin Tuhan akan menganggap orang seperti benar dan dibenarkan? Apakah mungkin Dia masih melihat anak-Nya ini sebagai orang yang benar? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Kudus tidak menarik kehadiran-Nya dari mereka yang melakukan pelanggaran terhadap Dia? Tentu saja, dosa ini akan memisahkan individu ini dengan Tuhan. Makin individu ini menentang dan menolak peringatan Yesus untuk menghentikan dosa ini, maka jurang antara dia dan Tuhan menjadi makin besar.
Jadi, orang seperti itu tidak lagi berjalan dalam iman. Dia menolak pikiran dan perasaan Tuhan yang disampaikan Tuhan kepadanya. Alih-alih beriman, dia malah memberontak dan tidak taat terhadap apa yang dikatakan Roh Kudus kepadanya. Oleh karena dia tidak lagi menanggapi Tuhan dalam iman, maka dia tidak lagi dibenarkan.
Yakobus membuatnya sangat jelas bahwa iman yang mati tidak akan membenarkan kita (Yak. 2:14-36). Namun, apa itu iman yang mati? Iman yang mati adalah iman yang tidak memberikan respons positif dan benar terhadap Tuhan. Ini hanya iman dari masa lalu. Ini adalah iman yang tidak bekerja saat ini. Ini adalah iman tanpa perbuatan, yaitu melakukan apa yang Roh Kudus arahkan kepada kita. Tanggapan kita adalah dengan menaati Yesus pada saat ini.
Perbuatan yang dibicarakan Yakobus tidak hanya berarti memenuhi tugas agama tertentu atau terlibat dalam kegiatan amal. Perbuatan ini tidak berarti ketaatan kita terhadap beberapa peraturan Kristen, kepemimpinan Kristen, atau kepatuhan kita terhadap hukum Perjanjian Lama. Sebaliknya, perbuatan di sini adalah respons kita terhadap apa yang Yesus nyatakan terhadap kita, saat ini, hari ini.
Jika kita tidak melakukan apa yang Yesus katakan kepada kita saat ini, termasuk berhenti melakukan dosa, maka kita tidak berjalan dalam iman. Oleh karena itu, kita tidak dapat dibenarkan. Iman kita tidak hidup. Iman itu telah mati. Hanya iman yang murni yang dapat membenarkan kita di hadapan Tuhan. Fakta bahwa kita mungkin telah memiliki iman di masa lalu, tidak dapat menutupi fakta bahwa kita tidak menaati apa yang Dia nyatakan kepada kita saat ini dengan iman.
Namun saya bayangkan bahwa sebagian besar gereja saat ini tidak akan setuju dengan ini. Banyak yang akan berargumen bahwa karena orang seperti itu sudah menerima Yesus, apa pun yang dia lakukan, dia masih dibenarkan di hadapan Tuhan. Mereka berpikir bahwa apa yang kita lakukan setelah menerima Yesus tidak akan membuat perbedaan dalam hubungan kita dengan Tuhan atau upah kekal kita.
Saudara-saudaraku yang terkasih, orang seperti itu berada dalam kegelapan besar. Ini adalah penipuan yang luar biasa! Keyakinan seperti itu mengungkapkan kesalahpahaman total tentang iman, kesalahan besar dalam menafsir tentang pembenaran dan, yang lebih buruk lagi, kekurangan besar dalam mengenal Tuhan secara pribadi, yaitu benar-benar mengetahui seperti apa Pribadi-Nya.
Para setan berharap Anda akan percaya pada doktrin seperti itu. Setelah Anda menerima pengajaran seperti itu, Anda kemudian berhenti peduli tentang dosa. Anda tidak peduli lagi tentang menyenangkan Tuhan Anda dan Anda membayangkan bahwa dosa tidak membuat perbedaan bagi Dia atau bagi Anda.
Oleh karena itu, hidup Anda menjadi taman bermain para setan. Mereka sangat menyukainya karena mereka dapat memengaruhi Anda untuk melakukan segala macam hal yang menyakiti diri Anda sendiri dan orang lain. Hidup dan tindakan Anda mulai merusak kesaksian Anda dan iman orang-orang di sekitar Anda. Anda menjadi alat yang hebat di tangan pangeran kegelapan untuk merusak dan menyesatkan orang lain. Dosa yang membuat Yesus mati untuk membebaskan Anda menjadi sesuatu yang Anda lakukan setiap hari.
Sahabat-sahabat terkasih, jika ini yang menjadi teologi Anda, Anda akan berada dalam kegelapan yang mendalam dan serius. Anda salah besar dan Anda membutuhkan pertemuan baru secara langsung dengan Tuhan, serta pertobatan yang mendalam dan menyeluruh.
Harap mengerti bahwa dalam contoh yang disebutkan di atas, saya tidak sedang berbicara tentang orang berdosa yang akan pergi ke surga atau neraka. Pembahasan kita di sini adalah apakah orang Kristen yang berdosa dapat menganggap diri mereka dibenarkan (dianggap adil) di hadapan Tuhan saat melakukan hal yang diketahuinya sebuah dosa.
Jawaban yang secara Alkitabiah benar adalah tidak! Ini tidak mungkin. Hidup berdosa seperti itu adalah hidup yang tidak berdasarkan iman atau melalui iman. Sebaliknya, hidup seperti ini adalah penolakan terhadap wahyu Tuhan. Ini adalah kebalikan dari iman, suatu ketidaktaatan.
Tanpa iman yang sejati, siapa pun tidak akan mungkin untuk dibenarkan. Jika dan ketika kita berhenti merespons Roh Kudus, kita tidak lagi berjalan dengan iman. Iman kita menjadi mati. “Perbuatan” kita (respons kita terhadap wahyunya) berhenti. Iman seperti itu tidak dapat membenarkan kita (Yak. 2:17, 26).
TRANSFORMASI YANG SALAH
Banyak jemaat di gereja saat ini yang salah mengerti mengenai transformasi. Tidak sedikit yang membayangkan transformasi jiwa mereka adalah sesuatu yang akan terjadi ketika Yesus kembali. Mereka menganggap hal ini sebagai sesuatu yang instan, yang akan terjadi dalam sekejap mata, sebagaimana disebutkan dalam 1 Korintus 15:52.
Kenyataannya, transformasi adalah sesuatu yang harus kita alami setiap hari. Ketika Yesus datang untuk kedua kalinya transformasi jiwa bukannya dimulai, tetapi sebenarnya berhenti. Pada saat itu, waktu kita untuk melakukan transformasi sudah berakhir. Keselamatan bekerja dalam jiwa kita adalah “hari ini” (2Kor. 6:2), bukan esok hari.
Yang akan berubah “[...]dalam sekejap mata” (1Kor. 15:52) bukan jiwa kita, melainkan tubuh kita. Membaca konteks ayat ini dengan cermat akan membuat kebenaran ini sangat jelas.
Seperti disebutkan sebelumnya, Yesus datang untuk mengubah kita sedemikian rupa sehingga kita tidak lagi berdosa. Untuk mencapainya, langkah pertama adalah kita harus mati terhadap kehidupan kita yang berdosa. Ini terjadi ketika kita benar-benar mengalami salib Kristus melalui tindakan Roh Kudus. Kita harus mengalami kematian bersama Yesus setiap hari. Saat kita bekerja sama dengan Dia, Roh-Nya akan menerapkan kematian ini pada identitas dan eksistensi kita.
Selanjutnya, kita akan makin dipenuhi oleh kehidupan-Nya melalui kelahiran baru. Ketika kehidupan-Nya yang ilahi dan tanpa dosa makin memenuhi hidup kita, keakuan kita akan makin berkurang. Ini merupakan suatu proses yang memakan waktu dan perhatian. Ini bukan peristiwa. Meskipun menerima Yesus melalui kelahiran baru adalah peristiwa, tetapi pendewasaan diri kita harus berlangsung setiap hari.
Banyak yang percaya bahwa mereka tidak akan pernah bisa berhenti melakukan dosa. Jadi, mereka menyerah dan mencari doktrin yang tidak menuntut kekudusan sejati atau membuatnya sebagai sebuah konsep yang hanya ada dalam pikiran Allah.
Memang benar bahwa manusia tidak dapat berhenti melakukan dosa. Satu-satunya yang tidak berdosa adalah Allah, tetapi inilah intinya. Rencana Yesus adalah untuk mematikan hidup berdosa kita sendiri. Setelah itu, Dia akan memenuhi hidup kita sampai meluap dengan hidup-Nya yang tanpa dosa.
Ketika dan jika hidup kita dipenuhi oleh-Nya, kita tidak akan melakukan dosa lagi karena bukan lagi diri kita yang hidup. Sebaliknya, Yesuslah yang hidup di dalam dan melalui kita. Betapa kita semua sangat membutuhkan untuk makin dipenuhi dengan Hidup Allah! Ini adalah satu-satunya cara kita dapat bebas dari dosa.
Ini adalah proses Alkitabiah yang disebut “transformasi”. Dalam bahasa Yunani kata itu adalah “metamorphoo”, yang merupakan asal dari kata “metamorfosis” (Rm. 12:2). Metamorfosis mengacu pada proses yang dialami ulat kupu-kupu ketika berubah dari larva menjadi kupu-kupu.
Pertama, ia mengeluarkan zat yang menyelimutinya dan mengeras menjadi kepompong. Selanjutnya, ulat ini akan diam seperti mati dalam kepompong untuk waktu yang lama. Ketika muncul, ulat ini akan berubah total sehingga sulit untuk menghubungkannya dengan ulat aslinya.
Tahap pertama, “ulat” ini akan merayap di tanah atau di tanaman. Tahap kedua adalah makhluk indah ini akan terbang bebas di langit.
Transformasi kita adalah sesuatu yang harus terjadi hari ini. Ini terwujud dengan melihat dan kemudian mencerminkan kemuliaan Yesus (2Kor. 3:18). Jika dengan iman kita dapat memahami, menerima, dan kemudian mencerminkan Dia hari demi hari, maka kita benar-benar sedang bertransformasi dan disiapkan untuk kedatangan-Nya yang kedua kali.
TIDAK ADA PENGHAKIMAN
Salah satu konsekuensi dari doktrin “injil pengampunan” adalah bahwa sangat sedikit orang Kristen saat ini yang percaya bahwa mereka akan dihakimi. Mereka tidak berpikir bahwa akan ada konsekuensi negatif dari tindakan mereka. Mereka membayangkan bahwa, apa pun yang mereka lakukan setelah mereka “menerima Yesus,” Allah tidak akan menghukum mereka.
Karena mereka menganggap bahwa mereka sudah diampuni untuk semua dosa mereka, baik dosa masa lalu, sekarang, dan masa depan, maka mereka hanya akan menerima berkat dari Allah, baik sekarang maupun di akhirat. Mungkin beberapa akan mendapatkan banyak berkat, yang lain mungkin lebih sedikit, tetapi hanya berkat belaka.
Ini, saudara-saudaraku yang terkasih, yang merupakan definisi dari apa artinya tertipu. Kita baca: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Ayat ini ditulis untuk orang percaya! Jika ada yang berpikir bahwa mereka dapat terus berdosa dan Bapa di surga tidak akan memperhatikan, peduli, atau mendisiplinkan mereka karena kesalahan mereka, mereka sangat keliru. Mereka telah tertipu.
Bagaimana kita bisa yakin tentang hal ini? Mari kita lihat Alkitab bersama-sama. Untuk memahami dengan tepat, kita harus mulai dengan menganalisis pertanyaan penting. Mungkin pada awalnya pertanyaan ini tampak tidak berhubungan, tetapi Anda akan segera memahami betapa pentingnya pertanyaan tersebut.
Pertanyaannya adalah: Berapa banyak orang yang tak percaya yang akan mengalami pengangkatan? Berapa banyak penolak Allah yang akan diangkat bersama gereja ketika Yesus kembali? Jelas, jawabannya adalah tidak ada. Tidak satu pun orang yang tidak memiliki hidup kekal yang akan “[...]diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan untuk menyongsong Tuhan di angkasa.” (1Tes. 4:17). Hal itu tidak akan dan tidak bisa terjadi.
Oleh karena itu, apa pun dan segala sesuatu yang diajarkan Alkitab akan terjadi pada saat itu (saat kebangkitan kita) hanya akan terjadi pada orang percaya. Semua ayat Alkitab yang merujuk pada peristiwa ini hanya dapat diterapkan pada orang Kristen. Ketika kita membaca tentang apa yang akan terjadi pada “kedatangan kedua” dan ketika kita berdiri di hadapan Takhta Penghakiman Kristus, hal-hal ini, tanpa ragu, hanya berlaku bagi kita yang telah menerima Yesus dan menjadi anak-anak-Nya. Ini karena tidak ada orang yang tidak diselamatkan yang akan berada di sana.
Kita membaca: “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” (2Kor. 5:10). Penghakiman ini terjadi segera setelah “pengangkatan” atau kebangkitan orang percaya. Di sini kita semua akan “menerima” akibat dari tindakan kita di bumi ini (semasa ‘di dalam tubuh’), apakah itu “baik ataupun jahat”.
Kita juga diajarkan: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang menjadi upahmu. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. Siapa saja yang berbuat salah akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.” (Kol. 3:23-25). Menerima “warisan” ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi ketika kita berdiri di hadapan Yesus pada Hari itu. Begitu juga, dihakimi karena berbuat “salah” dan “dibayar” untuk ini juga akan terjadi pada saat itu. Di sini tidak ada “pilih kasih”. Tidak ada yang bisa lolos atau menghindari hukuman yang setimpal karena siapa atau apa mereka.
Sekarang kita akan menyelidiki apa saja upah atau disiplin yang setimpal ini. Sebelum kita melakukannya, kita harus ingat bahwa konsekuensi negatif ini tidak akan sama dengan konsekuensi yang akan diterima oleh orang-orang yang tak percaya. Semua orang yang tak percaya akan dihakimi nanti, ketika mereka berdiri di hadapan apa yang disebut “Takhta Putih Agung” yang disebutkan dalam (Why. 20:11). Peristiwa ini terjadi 1.000 tahun kemudian. Di hadapan Takhta Pengadilan-Nya, Yesus hanya akan menghakimi anak-anak-Nya, yaitu keluarga-Nya.
Tidak ada orang Kristen yang akan kehilangan hidup kekalnya pada saat itu. Tolong jangan salah paham tentang ini. Tidak ada ruang untuk keraguan atau diskusi di sini. Ini adalah kesimpulan logis yang sederhana saja.
Misalnya kalau kita menganggap bahwa seseorang bisa melakukan sesuatu untuk kehilangan hidup kekal atau “keselamatan” mereka, maka mereka tidak akan diangkat dan oleh karena itu tidak dapat berdiri di hadapan takhta penghakiman Yesus.
Tidak ada non-Kristen yang berada di sana pada saat itu. Demikian juga halnya dengan mereka yang tidak memiliki hidup yang kekal. Ini mustahil. Oleh karena itu, semua peristiwa yang diperkirakan Alkitab pada saat itu akan terjadi pada orang percaya.
Ketika kita berdiri di hadapan-Nya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita, kita akan menerima upah dan hukuman. Salah satu hukuman yang menurut Yesus akan diberikan adalah untuk “[...]menerima banyak pukulan” (Luk. 12:47). Hukuman ini akan diberikan kepada orang percaya yang “[...]tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya”. Ayat 43 dari pasal ini dengan jelas mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang terjadi ketika “Tuan” datang, yaitu ketika Yesus kembali.
Sementara beberapa orang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “hamba” di sini adalah orang Yahudi yang tidak percaya atau kelompok lainnya, tetapi mereka adalah orang-orang yang tidak akan diangkat dan oleh karena itu tidak dapat menjadi orang yang dimaksud ayat ini! Kemungkinan besar hamba yang dimaksud di sini adalah orang-orang percaya.
Selanjutnya, disampaikan kepada kita bahwa beratnya hukuman ini akan bergantung pada tingkat pemberontakan yang ditunjukkan oleh masing-masing individu. Telah ditulis: “Tetapi siapa saja yang tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk. 12:48).
Konsekuensi negatif lain dari melakukan dosa terhadap Allah dan tidak taat kepada-Nya saat kita di bumi adalah dengan tidak menghadiri perjamuan pernikahan yang akan datang dan pemerintahan Seribu Tahun. Hamba yang tidak taat akan ditinggalkan. Orang percaya yang berdosa juga akan dikecualikan.
Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bodoh, yang hampir semua orang tahu, dengan jelas mengajarkan kebenaran ini (lihat Mat. 25:1-13). Ketika lima gadis bodoh mencoba masuk ke perjamuan kawin, mereka ditolak masuk.
Kita dapat merasa yakin bahwa gadis-gadis ini pasti mewakili orang-orang Kristen karena beberapa alasan. Pertama, mereka adalah “gadis-gadis” (2Kor. 11:2). Kedua, mereka memiliki sedikit “minyak” di pelita mereka, yang melambangkan kehadiran Roh Kudus. Ketiga, mereka menunggu Tuhan, mempelai pria. Dan terakhir, karena hanya orang percaya yang akan dibangkitkan pada saat itu!
Paulus menjelaskan dalam surat-suratnya, fakta bahwa orang Kristen yang tidak taat tidak akan mewarisi Kerajaan Allah yang akan datang. Dia mengulangi kebenaran ini tiga kali dalam tiga surat yang berbeda.
Ini bukan pengajaran yang tidak jelas atau sulit dipahami. Ini dengan jelas diajarkan oleh Yesus, Paulus, dan rasul-rasul lainnya. Ini adalah “kebenaran Injil.” Silakan tinjau 1 Korintus 6:9-12, Galatia 5:19-21, dan Efesus 5:1-5 yang merupakan beberapa ayat yang menjelaskan fakta ini dengan jelas.
Hukuman tidak dapat masuk ke pemerintahan Seribu Tahun tidak saja keras, tetapi juga akan berlangsung lama. Hukuman ini akan berlanjut sepanjang kerajaan berdiri atau selama 1.000 tahun. Jadi, kesimpulan seperti itu logis karena mereka dikecualikan dari pemerintahan “Seribu Tahun”.
Hukuman lain untuk orang Kristen yang tidak setia dijelaskan bagi kita dalam Matius 25, ayat 14-30. Ini adalah perumpamaan yang terkenal tentang talenta yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya untuk digunakan selama Dia pergi.
Hamba yang bodoh dan tidak melakukan apa-apa dengan talentanya dihukum dengan dilemparkan ke tempat yang disebut “kegelapan yang paling gelap”. Di tempat ini, dia akan mengalami penderitaan yang menyebabkan “ratapan dan kertakan gigi”.
Tempat “kegelapan yang paling gelap” ini tidak bisa sama dengan neraka atau lautan api. Meskipun banyak yang menganggap kedua tempat ini—kegelapan yang paling gelap dan neraka—sebagai tempat yang serupa, tidak ada satu pun ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa keduanya sama. Sebaliknya, kegelapan yang paling gelap adalah tempat hanya untuk anak-anak Tuhan yang memberontak.
Semua referensi Alkitab menunjuk pada fakta ini. Tidak ada ayat-ayat yang mengatakan tentang orang-orang yang tak percaya akan ditempatkan di sana. Dalam Alkitab hanya orang-orang percaya yang akan menderita hukuman ini.
Kata “orang kafir” dalam Lukas 12:46, yang salah diterjemahkan dalam versi Alkitab Terjemahan Lama, seharusnya dibaca “orang-orang yang tidak setia” menurut Kamus Ekspositori Vine tentang Kata-Kata Perjanjian Baru. Jelas, orang-orang tak percaya dan orang percaya yang tidak setia adalah dua hal yang berbeda.
Faktanya adalah Yesus akan menghakimi, mendisiplinkan, menghukum, dan mencambuk anak-anak-Nya yang tidak taat ketika Dia datang. Telah ditulis: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu. Sebaliknya, yang ada ialah penantian akan penghakiman yang mengerikan dan kobaran api yang dahsyat yang akan menghanguskan para pembangkang. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Bayangkan betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah dan menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan menghina Roh anugerah! Sebab kita mengenal Dia yang berkata, ‘Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.’ Dan lagi, ‘Tuhan akan menghakimi umat-Nya.’” (Ibr. 10:26-30).
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa Allah pasti akan “menghakimi umat-Nya”. Siapa saja yang memilih untuk mengabaikan kebenaran ini sedang sengaja membutakan diri dan akan menanggung akibat dari pilihan tersebut.
Dalam bab ini, tidak ada ruang yang cukup untuk membahas subjek ini dengan semua detail yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau keraguan semua orang. Oleh karena itu, untuk diskusi yang lebih detail dan lengkap tentang subjek ini, saya ingin mengajak pembaca merujuk ke buku yang telah diterbitkan oleh pelayanan ini berjudul: Datanglah Kerajaan-Mu. Buku ini tersedia secara gratis, cukup dengan memintanya. Kunjungi situs web: www.agrainofwheat.com/indonesia.
PENGHAKIMAN TIDAK TERJADI HARI INI
Banyak yang tertipu karena mereka tidak melihat Yesus menghakimi anak-anak-Nya di zaman ini. Akibatnya, mereka membayangkan Dia tidak akan pernah melakukannya. Meskipun orang-orang percaya yang berdosa menderita beberapa konsekuensi alami dari tindakan mereka yang tidak benar, mereka tidak dapat melihat tangan Allah turun dari surga untuk memberikan disiplin yang layak mereka terima.
Oleh karena itu, mereka mulai membayangkan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Mereka salah mengartikan ketiadaan hukuman sebagai kekurangan dalam kebijaksanaan atau keadilan Allah.
Contoh dari ketiadaan penghakiman ini adalah seperti yang tertulis dalam Ibrani 13:4, yaitu: “[...]sebab Allah akan menghakimi orang-orang sundal dan pezina.” (Ibr. 13:4). Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa di dalam gereja masa kini ada banyak sekali orang yang terlibat dalam percabulan dan perzinaan, baik di antara jemaat maupun pendeta.
Namun, kita tidak melihat penghakiman Allah atas orang-orang ini. Jadi, orang-orang mulai menganggap bahwa semuanya baik-baik saja. Mungkin, Allah telah mengubah sikap-Nya dan tidak akan pernah menghakimi mereka. Masalahnya adalah mereka tidak bisa melihat masa depan.
Tuhan kita telah menunda penghakiman-Nya sampai Dia datang kembali. Saat itulah setiap orang akan menerima upah yang setimpal untuk tindakan mereka, entah perbuatan itu baik atau jahat.
Sekarang adalah zaman kasih karunia. Zaman Kerajaan yang akan datang adalah zaman penghakiman. Saat itulah Yesus akan mendisiplinkan dan menghakimi anak-anak-Nya yang tidak taat. Allah akan menggenapi firman-Nya dan menghakimi umat-Nya. Dia tidak akan mungkin melakukan hal lain.
Di zaman kasih karunia ini, Yesus sedang menunjukkan kebaikan-Nya yang tidak layak kita terima. Tetapi kita tidak boleh menipu diri kita sendiri karena hal ini. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa periode kebaikan Allah ini seharusnya membawa kita kepada pertobatan.
Paulus memperingatkan kita dengan berkata: “Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, apakah engkau sangka bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? Apakah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Rm. 2:3-4).
Kita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan tidak peduli atau tidak melihat dosa kita, atau akan mengampuni dosa kita tanpa perlu ada pertobatan. Sebaliknya, kita harus takut akan Tuhan dan menyerahkan diri kita kepada-Nya dalam kerendahan hati agar Dia dapat membersihkan dan mengubah hidup kita hari ini. Dengan cara ini, kita dapat dipenuhi dengan kehidupan-Nya dan dibebaskan dari dosa. Dengan cara ini, kita akan siap saat Dia datang dan terhindar dari hukuman apa pun.
MENJAUH DARI YESUS
Bukan hanya gereja masa kini yang telah berpaling dari iman, tetapi mereka juga telah menjauhkan diri dari Tuhan mereka. Mereka lebih mementingkan banyak hal lain daripada hubungan mereka dengan Yesus. Yang mengejutkan, banyak dari hal-hal yang menggantikan Dia dalam kehidupan orang Kristen adalah hal-hal yang dilabeli sebagai “Kristen”.
Sebagai contoh: Bagi banyak orang, keterlibatan mereka dalam gereja dan mendapat penerimaan dari anggota lain jauh lebih penting daripada menyenangkan Yesus. Sementara yang lain, lebih mementingkan pendeta mereka dan ajaran, petunjuk, serta pendapatnya daripada mencari Tuhan sendiri. Ada juga yang lebih mementingkan mempelajari teologi dan doktrin dari hubungan yang erat dengan Tuhan sendiri. Mengapa saya mengatakan hal seperti itu? Hal-hal ini menjadi jelas berdasarkan ratusan jika tidak ribuan interaksi saya dengan orang-orang yang mengaku dirinya Kristen.
Pertama, sangat sedikit yang mencari Tuhan setiap hari dengan tekun. Sebagian besar bergantung pada orang lain untuk melakukan ini bagi mereka. Mereka tidak sering membuka Alkitab mereka atau berkomunikasi dengan Tuhan. Mereka tidak sungguh-sungguh mencari Dia untuk menceritakan tentang hal-hal lain di samping masalah mereka. Semangat mereka bukan untuk melayani Dia dengan melayani orang lain.
Hal ini terbukti kalau Anda berbicara dengan banyak “orang percaya”, Anda akan menemukan bahwa percakapan mereka bukan tentang hal-hal rohani. Pikiran mereka tidak dipenuhi dengan wahyu dan pengalaman dengan Tuhan. Sulit untuk mengadakan percakapan dengan mereka tentang Tuhan atau Alkitab, karena hal itu tidak sangat menarik atau relevan bagi mereka.
Memang benar bahwa mulut kita akan berbicara tentang apa yang memenuhi hati kita (Mat. 12:34). Jika tidak sebagian besar, ada banyak orang Kristen yang tidak sering berbicara tentang Tuhan karena hati mereka terfokus pada hal-hal lain.
Banyak orang yang merasa diri mereka benar di hadapan Tuhan jika mereka pergi ke gereja untuk memenuhi kewajiban Kristen, dan agak tunduk kepada pendeta mereka. Yang lain mungkin juga menambahkan dalam paket ini, bahwa memiliki “keyakinan yang benar” tentang sejumlah doktrin Alkitab tertentu juga penting.
Terlepas dari persyaratan khusus, banyak yang percaya bahwa jika kelompok mereka menerima dan menganggap mereka sebagai “orang Kristen yang baik”, maka mereka juga memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan. Mereka hanya mengandalkan pendapat kelompok untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri, tanpa menjaga hubungan yang erat dengan Tuhan untuk memahami perspektif-Nya tentang masalah ini.
Namun, kenyataannya hal ini sangat mirip dengan Agama Katolik. Ini adalah “pembenaran oleh gereja”. Ini bukan Kekristenan yang sejati. Ini adalah pengganti duniawi. Ini adalah pembenaran palsu yang didasarkan pada standar eksternal dan bukan pada persekutuan dengan Yesus sendiri yang satu-satunya yang membenarkan kita.
Pembenaran dari kelompok atau pemimpin yang menyetujui kita, sangat nyaman bagi kedagingan kita. Manusia biasa sangat senang dengan mekanisme semacam itu. Dalam pikiran banyak orang, mereka bebas untuk mengejar kepentingan dan keinginan mereka sendiri setelah memenuhi tuntutan gereja.
Pekerjaan, hobi, keluarga, dan hiburan mereka yang kemudian akan mengisi hidup dan menguasai pikiran mereka, tanpa perlu khawatir banyak tentang apa yang mungkin diinginkan Tuhan dari mereka. Dengan demikian, kerangka “Kristen” yang baik sering kali membuat kita memprioritaskan hal-hal untuk menyenangkan dan melayani diri kita sendiri tanpa banyak memberikan perhatian pada kerajaan Tuhan dan pekerjaan-Nya di bumi.
Dengan cara ini, sebagian besar gereja masa kini telah jatuh dari Yesus sendiri. Mereka masih memiliki penampilan yang saleh, tetapi tidak memiliki kuasa (2Tim. 3:5). Kehidupan mereka sendiri tidak mengalami perubahan radikal dan orang-orang di sekitar mereka juga tidak terpengaruh banyak.
Bentuk “Kekristenan” yang mereka praktikkan telah menggantikan Kristus dalam kehidupan banyak orang yang menganggap diri mereka sebagai “orang percaya” yang baik. Perlahan-lahan, agama mereka telah mengganti hubungan yang erat dengan Yesus.
Saat ini, praktik mengikuti doktrin, kelompok, atau pemimpin Kristen telah menjadi epidemi. Bahkan, praktik tersebut sering diajarkan sebagai hal yang baik dan benar untuk dilakukan.
Namun, hasilnya adalah banyak hati orang percaya sebenarnya jauh dari Tuhan. Mereka melakukan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kekristenan, tetapi sebenarnya mereka tidak mengasihi Dia dengan seluruh jiwa, pikiran, dan kekuatan mereka. Mereka memperlakukan kegiatan gereja mereka, pendeta, dan lain-lain sebagai pengganti bagi Yesus sendiri. Tuhan sendiri telah mengatakannya: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku.” (Mrk. 7:6).
Ketergantungan pada alat-alat keagamaan untuk pembenaran kita akan mengakibatkan banyak orang akan menjauh dari kehadiran Yesus yang nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka. Fokus mereka bukan pada Dia karena Dia bukan kasih semula mereka (Why. 2:4). Dia bukan segalanya bagi mereka.
Mereka benar-benar telah menjauh atau murtad dari Yesus. Namun, praktik keagamaan mereka menyamarkan kesalahan ini dengan menciptakan ilusi bahwa mereka melakukan hal yang benar. Mereka terus merasa benar tentang diri mereka sendiri ketika, pada kenyataannya, mereka sama sekali tidak selaras dengan Tuhan.
Hasil yang menyedihkan dari semua kesalahan ini adalah bahwa gereja masa kini tidak berdaya. Sangat sedikit yang dibebaskan dari dosa dan diubahkan. Meskipun banyak orang bergabung dengan jemaat-jemaat yang berbeda, tetapi sebagian besar kehidupan mereka sehari-sehari masih mencerminkan sifat alamiah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Injil yang mudah dan disederhanakan mungkin berhasil untuk menarik anggota-anggota ke dalam kelompok-kelompok tertentu, bahkan dalam jumlah besar, tetapi injil tersebut hanya memberikan sedikit atau bahkan tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap perkembangan kerajaan Tuhan dan penggenapan tujuan-tujuan kekal-Nya.
Semoga Tuhan memberi rahmat kepada kita sehingga kita dapat bertobat dari kesalahan-kesalahan ini sebelum terlambat dan menemukan kasih karunia-Nya untuk berkenan kepada-Nya sebelum Dia datang.
Semoga Tuhan mengasihani kita sehingga kita bisa bertobat dari kesalahan ini sebelum terlambat dan menemukan kasih karunia-Nya untuk menyenangkan-Nya sebelum Dia datang.
Akhir bab 4
Baca bab-bab lain secara online:
We are always looking to offer books in more languages.