PUBLIKASI MINISTRIES “A GRAIN OF WHEAT”
Oleh David W. Dyer
Diterjemahkan oleh L. Yunnita
Dalam buku ini, kita akan menyelidiki beberapa penglihatan kenabian tentang akhir zaman ini. Pembaca akan menemukan bahwa hampir semua yang disajikan di sini adalah hal yang baru atau cukup berbeda dari apa yang umumnya dipahami atau diajarkan. Oleh karena itu, saya ingin mendorong semua orang agar tidak memberikan reaksi secara spontan atas apa yang dikatakan. Jangan menutup mata spiritual dan pikiran Anda.
Sebaliknya, bukalah Alkitab Anda dan bacalah ayat-ayat ini sendiri. Selidiki Firman Tuhan lebih mendalam. Jangan terlalu memercayai kata-kata saya. Pertimbangkan baik-baik apa yang dikatakan di sini. Mendekatlah kepada Tuhan melalui doa dan kerendahan hati, dan terimalah pemahaman langsung dari-Nya.
Oleh karena sifat nubuat Alkitab dan sulitnya untuk mengetahui masa depan tanpa wahyu ilahi pribadi, maka akan ada beberapa spekulasi dalam buku ini.
Penulis akan menyampaikan ide-idenya dengan menggunakan kata-kata seperti kemungkinan, bisa jadi, dan lain-lain. Harap jangan menganggap semua ini sebagai suatu prediksi pasti atau kebenaran Alkitab. Mungkin saja penulis melewatkan sesuatu atau pun keliru tentang beberapa poin ini.
Banyak dari apa yang akan kita pelajari di sini melibatkan penglihatan kenabian. Hal ini misterius dan sulit untuk dimengerti. Mungkin Tuhan menganggap memberikan jadwal kronologis dari peristiwa demi peristiwa secara tepat tidak perlu. Dia sengaja menutup masa depan dengan selubung kerahasiaan dan simbolisme.
Allah tidak mungkin dan juga tidak mengharapkan kita dapat memahami semua perincian peristiwa yang akan datang dengan sempurna. Bagaimana semua penglihatan dari semua penguasa, saksi, pembantu terpilih, dan yang lain-lain menjadi sesuai antara satu dengan yang lain tidak dijelaskan. Pasti ini karena kita diharuskan untuk mengetahui persis hal-hal ini.
Bagaimanapun juga, yang penting bagi kita adalah untuk mendengar dari Allah. Semua penglihatan ini mengandung pewahyuan tentang Tuhan dan kehendak-Nya.
Di sini kita juga menemukan banyak hal untuk membangun, menantang, dan mempersiapkan diri untuk apa yang akan terjadi di dunia. Doa penulis adalah agar Allah dapat memakai tulisan ini untuk memberikan peringatan, melengkapi, dan memperkuat umat-Nya untuk kedatangan akhir zaman.
D.W.D.
Dalam bab ini saya ingin membahas topik yang telah menjadi sumber banyak spekulasi di kalangan agama. Suatu topik di mana beberapa orang Kristen mungkin memiliki pandangan kuat terhadapnya atau juga sikap doktrinal yang kaku. Meskipun demikian, saya ingin mendorong semua pembaca untuk mengesampingkan sejenak, sebanyak mungkin, gagasan yang sudah terbentuk sebelumnya dan berusaha terbuka terhadap tuntunan Roh Kudus. Dengan demikian, Anda akan mengizinkan-Nya untuk berbicara apa pun yang Dia ingin sampaikan ke dalam hati Anda melalui pesan ini.
Saya tidak bermaksud untuk memaksakan bahwa apa yang akan Anda baca di sini adalah jawaban “benar” yang pasti, tetapi saya hanya ingin agar Anda dapat mendengar firman dari Tuhan sendiri.
Jika, melalui kata-kata ini, Yang Mahakuasa menyatakan diri-Nya dan maksud-tujuan-Nya kepada Anda dengan cara yang lebih dalam daripada yang pernah Anda ketahui sebelumnya, maka semua upaya yang dilakukan baik dalam menulis maupun membaca bab ini akan berguna.
Nubuatan Alkitab sangat sulit untuk dipahami. Tidak ada satu orang pun yang tahu tentang akhir zaman ini. Jika ada, ini malah mungkin suatu tanda bahwa orang tersebut tidak bisa dididik oleh Tuhan. Oleh karena itu, apa yang disampaikan di sini mungkin merupakan upaya untuk menjelaskan apa yang telah diungkapkan oleh Roh Kudus yang tidak sempurna.
Namun, terlepas dari keterbatasan ini, saya yakin Anda akan menemukan beberapa gagasan baru untuk menyegarkan kembali pemikiran Anda tentang akhir zaman ini dari bab ini.
Sebelum kita mulai membahas topik ini bersama-sama, saya pikir adalah bijaksana bagi setiap pembaca untuk meluangkan waktu dan membaca Wahyu 11:1-15, ayat-ayat yang menyampaikan tentang dua saksi ini.
Jika Anda belum mengetahui bagian firman Tuhan ini, mungkin akan sulit bagi Anda untuk memahami pembahasan berikut. Selain itu, menerima pendapat orang lain tentang hal-hal ini begitu saja tanpa berusaha menyelidikinya secara menyeluruh adalah sangat tidak bijaksana.
Jika Anda tidak mengenal ayat-ayat ini dengan baik, maka akan sulit bagi Anda untuk mengetahui apakah yang saya atau orang lain katakan itu benar. Di sisi lain, begitu Anda mengenal firman Tuhan ini dengan baik, maka hal ini akan menjadi berkat bagi Anda saat Tuhan berbicara ke hati Anda melaluinya.
Banyak dari Anda mungkin pernah mendengar bahwa kedua saksi ini merupakan kemunculan kembali dari dua tokoh Alkitab sebelumnya. Beberapa orang berpendapat bahwa kedua tokoh tersebut adalah Musa dan Elia, sementara yang lain berspekulasi bahwa kedua tokoh ini adalah Henokh dan Elia.
Pada umumnya, yang lebih sering dipilih adalah Henokh dan Elia karena hanya merekalah dua orang yang diangkat tanpa mengalami kematian. Jadi, untuk beberapa alasan, mereka harus kembali lagi dan dibunuh karena “[...] ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja [...]”. (Ibr. 9:27).
Namun, kesulitan dari penalaran ini adalah ketika kita mencoba untuk mengaitkannya dengan kebangkitan orang percaya yang akan datang atau yang biasa disebut sebagai “pengangkatan”. Pada peristiwa ini banyak manusia yang akan diangkat untuk menemui Tuhan di angkasa tanpa harus mengalami kematian jasmani (1Tes. 4:17). Dari sini kita bisa mengartikan bahwa ayat Ibrani 9:27 tidak mengharuskan setiap orang mengalami kematian fisik.
Sementara pemahaman bahwa kedua saksi ini adalah dua nabi mungkin benar karena ada beberapa hal tentang bagian dari Wahyu ini yang tampaknya menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda dari interpretasi semacam itu. Ada beberapa tanda yang diberikan kepada kita di sini yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan bahkan lebih menakjubkan yang dapat dipertimbangkan.
DUA “PRIA” – SATU “TUBUH”
Saudara seiman saya dari Inggris menunjukkan kepada saya salah satu petunjuk penting bahwa ada lebih banyak hal lagi yang berperan di sini daripada sekadar kehadiran dua orang ini. Dia menunjukkan kepada saya bahwa di sebagian besar manuskrip Yunani asli kata “tubuh” (ayat 8 dan 9) sebenarnya muncul dua kali dalam bentuk tunggal.
Banyak terjemahan Alkitab dalam bahasa lain yang berusaha “membantu” kita memahami ayat-ayat ini dengan lebih baik dengan mengubah dua kata tunggal tersebut menjadi kata jamak, tetapi ini bukanlah yang ditulis oleh rasul Yohanes. Untungnya, kebanyakan versi Alkitab di Indonesia tidak mengikuti cara seperti ini.
Ayat-ayat ini seharusnya berbunyi, “Mayat [tubuh] mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar [...]” dan “Orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan umat, melihat mayat [tubuh] mereka selama tiga setengah hari …” (Wahyu 11:8, 9).
Yang agak aneh adalah, jika memang ada dua saksi, mengapa ayat-ayat ini membuat “kesalahan” tata bahasa semacam ini dua kali? Apa yang dapat kita pelajari dari kesalahan ini? Apakah mungkin jika memang tidak ada kesalahan sama sekali, tetapi Tuhan sedang menunjukkan kepada kita beberapa makna lebih lanjut tentang nabi-nabi masa depan ini.
Di sini ada indikasi pertama bahwa kitab suci mungkin tidak hanya mengacu pada dua orang individu, tetapi kepada sekelompok orang atau suatu entitas bersama. Kata tunggal “tubuh” ini mengingatkan kita pada penggunaan kata tunggal yang sama dalam kalimat “tubuh Kristus” yang terdiri dari individu-individu yang tak terhitung jumlahnya. Ada tertulis di satu bagian bahwa “[...] karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (Ef. 5:30).
Selanjutnya, dalam Wahyu 11:5 tertulis bahwa api akan keluar dari “mulut” mereka, dalam bahasa Yunani, kata ini merupakan kata tunggal.
Ayat-ayat seperti ini jika digabungkan dengan ayat-ayat lainnya dapat menjadi dasar kitab suci yang memadai untuk mengandaikan bahwa kata “tubuh” dapat merujuk pada kelompok yang jauh lebih besar daripada sekadar dua nabi yang disebutkan sebelumnya.
Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan bahwa yang disampaikan kitab suci tentang sejumlah besar pria dan wanita yang pada akhir zaman ini, memainkan peran penting dalam mempersiapkan dunia untuk penghakiman dan kedatangan Tuhan kembali.
Mungkin kebanyakan orang akan bertanya: “Jika saksi-saksi ini benar-benar sekelompok orang, mengapa Alkitab menggunakan kata ‘dua’? Bukankah itu cukup membingungkan?” Ya, mungkin sedikit membingungkan, tetapi ada penjelasan yang sangat alkitabiah untuk itu.
Alkitab mengajarkan kita sebuah asas yang teguh bahwa penghakiman hanya dapat dilaksanakan terhadap seseorang yang berdosa jika setidaknya ada dua saksi yang hadir untuk membuktikan keabsahan pelanggaran tersebut. Dalam kitab Ulangan 17:6 tertulis: “Atas keterangan dua atau tiga orang saksi, orang yang dihukum mati harus mati; janganlah ia dihukum mati atas keterangan satu orang saja.” Angka “dua” adalah angka yang dipakai Tuhan untuk membuktikan kebenaran dari setiap tuduhan. Jika kurang dari dua, maka kebenaran dari tuduhan tersebut tidak dapat diterima.
Dalam tulisan suci, angka dua menunjukkan “jumlah suatu kesaksian”. Ketika harus bersaksi tentang kebenaran Yesus, murid-murid mula-mula diutus “berdua-dua”.
Tabut Perjanjian menyimpan dua loh batu yang memberikan kesaksian tentang perintah Tuhan. Tentu saja Tuhan bisa menulis sepuluh perintah ini di atas satu batu, tetapi Dia memilih untuk menggunakan dua — angka yang menunjukkan jumlah suatu kesaksian.
Sementara itu, di bagian penutup Tabut Perjanjian ditempatkan dua kerub yang secara simbolis merupakan saksi dari pemercikan darah serta membuktikan bahwa persyaratan kebenaran Tuhan telah terpenuhi. Tentu saja di surga ada lebih dari dua kerub, tetapi hanya dua yang secara simbolis “bersaksi” tentang pemercikan darah. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa kata “dua” di sini merupakan suatu simbol dari dua saksi yang diperlukan Tuhan sebelum Dia menjatuhkan hukuman-Nya.
Pada akhir zaman ini, Tuhan akan menghakimi umat-Nya (Ibr. 10:30) dan dunia yang berdosa. Cawan murka-Nya akan dicurahkan kepada umat manusia yang berdosa. Namun, sesuai dengan hukum yang Dia telah tetapkan, penghakiman dapat dilaksanakan jika setidaknya ada “dua” saksi yang dapat memberikan kesaksian atas dosa-dosa mereka yang akan dihakimi. Tanpa kesaksian dua saksi ini, penghakiman tidak dapat dimulai.
Tentu saja Yang Mahatinggi tidak membutuhkan siapa pun untuk memberitahu Dia tentang apa yang ada di dalam hati manusia. Dia sudah tahu apa yang terjadi di hari-hari yang jahat ini. Namun saksi-saksi ini ada untuk memenuhi syarat-syarat hukum yang telah Dia tetapkan, dan mungkin yang lebih penting lagi, untuk mengingatkan dunia yang akan binasa dan gereja yang murtad agar bertobat sebelum penghakiman datang.
SAKSI SELURUH DUNIA
Pemikiran lain yang membuat kita percaya bahwa saksi-saksi ini mungkin lebih dari sekadar “dua” adalah keuniversalan dari kesaksian mereka. Kesaksian mereka pasti akan memengaruhi “orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan umat” (Why. 11:9).
Tampaknya, peringatan kematian mereka bersifat universal, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa dunia telah banyak menerima pengaruh dari mereka. Dalam situasi ini, para nabi tidak sedang mengungkapkan dosa-dosa beberapa individu, tetapi pemberontakan seluruh dunia.
Karena penghakiman yang akan datang berlaku untuk seluruh dunia atau universal, maka sangatlah masuk akal jika tuntutan yang akan diajukan nanti mungkin memerlukan saksi yang lebih banyak daripada sekadar dua orang saja. Jika saksi yang ada hanya dua, maka ini akan menimbulkan masalah yang luar biasa. Bagaimana mungkin dua orang dapat menyampaikan nubuatan ke seluruh dunia dalam waktu 1.260 hari?
Mungkin saja menurut pemikiran kekristenan modern, kesaksian kedua orang ini dapat disebarkan ke seluruh dunia melalui televisi, tetapi jika dipertimbangkan lebih jauh, rasanya hal ini sangat tidak mungkin.
Jika kita renungkan secara logis, apakah mungkin saluran berita utama bersedia memberikan banyak waktu tayang kepada dua nabi ini untuk mengungkap dan mengutuk dosa-dosa zaman kita? Bukankah ini dosa-dosa yang selama ini sering ditayangkan oleh banyak produser TV?
Waktu tayang di televisi itu mahal. Apakah mungkin kedua saksi ini bersedia membeli jam tayang prime time untuk menyampaikan nubuat mereka ke berbagai negara? Apakah acara ini akan ditonton oleh banyak orang? Apakah media berita akan memberi kesempatan yang adil kepada mereka untuk menyampaikan pesan penghakiman Tuhan secara lengkap?
Mungkin juga ada beberapa orang yang berpikir bahwa kedua nabi ini akan menyampaikan pesan penghukuman melalui televisi Kristen.
Tetapi apakah dunia akan menyaksikan stasiun TV ini? Siapa yang akan benar-benar mendengarkan atau diyakinkan melalui cara ini? Apakah penanggung jawab acara Kristen ini akan senang mendengar apa yang dikatakan kedua nabi ini?
Apakah mungkin jika mereka juga akan menjadi yakin atas apa yang diberitakan? Apakah mereka bersedia memberikan semua waktu yang diperlukan oleh kedua nabi tersebut? Kecil kemungkinan hal ini akan berhasil. Selain itu, ada juga konsep Kristen modern yang mengatakan bahwa kedua nabi ini akan berkeliling ke seluruh dunia dengan pesawat terbang atau muncul begitu saja lalu menghilang. Setelah pertimbangan lebih mendalam, tampaknya hal ini juga sangat tidak mungkin atau pun konyol.
Pertama, saat ini ada lebih dari 194 negara di dunia kita. Jika nabi-nabi ini ingin mengunjungi setiap negara ini dalam waktu 1.260 hari, maka mereka harus mengunjungi masing-masing negara setiap enam setengah hari (termasuk waktu yang akan dihabiskan dengan perjalanan, jika ada).
Tampaknya mustahil bagi nabi mana pun yang berusaha untuk membuat suatu bangsa bertobat atas dosa-dosanya hanya dalam enam setengah hari. Ini tidak mungkin berhasil. Bagaimana mungkin pesan mereka dapat menjangkau seluruh penduduk negara-negara ini, di mana beberapa di antaranya mungkin memiliki lebih dari satu miliar penduduk, hanya dalam enam setengah hari?
Misalnya saja, pada saat ini ada beberapa stasiun televisi di beberapa negara yang menayangkan pengkhotbah terkenal, beberapa di antaranya mungkin bisa mengudara di stasiun televisi nasional setiap hari selama berjam-jam. Hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, apakah mereka telah menjangkau semua orang di negara tersebut? Apakah seluruh penduduk telah mendengar pesan mereka? Besar kemungkinan, hal ini belum terjadi. Oleh karena itu, sebuah pelayanan yang sedemikian intensif dan meluas seperti ini sangatlah tidak logis atau tidak mungkin.
Kedua, jika yang harus disampaikan bukan saja “bangsa-bangsa”, tetapi juga “umat”, “suku” dan “bahasa”, maka kemungkinan besar perjalanan semacam ini tidak bisa dilakukan. Sangat tidak mungkin bagi dua orang, seberapa cepatnya mereka bekerja atau dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk melakukan pelayanan seperti itu dalam waktu 1.260 hari. Hanya dengan sedikit logika dan pemikiran rasional pemikiran kekeliruan imajinatif seperti ini dapat dengan mudah dipatahkan.
“DUA” PASTI MERUPAKAN ANGKA SIMBOLIS
Dengan mempertimbangkan semua hal ini, kita bisa mengambil kesimpulan logis bahwa angka “dua” adalah angka simbolis. Angka ini mewakili jumlah kesaksian yang Tuhan perlukan dan tidak sekedar menunjukkan kepada dua orang. Sebaliknya kita dituntun untuk percaya bahwa “tubuh” ini adalah sekelompok pria dan wanita yang telah dipersiapkan dan dibangkitkan Tuhan untuk bersaksi atas generasi yang penuh dosa dan gereja yang murtad serta mempersiapkan dunia untuk menerima penghakiman Tuhan.
Tampaknya logis untuk menyimpulkan bahwa saat ini Tuhan sedang mempersiapkan orang-orang beriman yang setia di setiap bangsa, kelompok masyarakat, suku dan bahasa, yang akan diurapi dan diangkat pada waktu yang telah ditentukan untuk melaksanakan pelayanan yang sangat penting ini.
Tampaknya juga masuk akal bahwa dengan jumlah nabi yang lebih banyak, kesaksian ini dapat dilaksanakan dalam waktu yang ditentukan.
Namun, perlu juga dipertanyakan apakah kesaksian “dua” orang yang sebenarnya adalah “dua saksi” ini efektif? Dua orang luar yang memberikan kesaksian dari jarak yang cukup jauh mungkin tidak cukup kuat untuk menghukum orang-orang yang bersalah. Bisa jadi mereka malah dianggap bukan saksi yang benar.
Kesaksian atas setiap bangsa atau kelompok orang yang mungkin dapat meyakinkan adalah jika disampaikan oleh mereka yang benar-benar mengenal masing-masing situasi secara akurat.
Misalnya saja, Anda dipanggil ke pengadilan untuk bersaksi dalam persidangan tentang kecelakaan lalu lintas. tetapi Anda tidak mengerti mengapa Anda dipanggil. Anda tidak ada di lokasi kecelakaan terjadi dan tidak melihat kecelakaan itu. Anda tidak tahu apa-apa baik tentang orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan itu, kendaraan, atau situasinya. Oleh karena itu, Anda tidak bisa dianggap sebagai saksi yang benar.
Saksi adalah seseorang yang dapat memberikan kesaksian atas apa yang telah dia lihat dan dengar. Hanya mereka yang tinggal di masing-masing negara, budaya, dan situasi, dan telah melihat dosa-dosa yang terjadi di sana, yang dapat memberikan kesaksian terhadap penduduknya. Kesaksian dari beberapa orang luar tidak akan diterima begitu saja. Meskipun beberapa orang mungkin membayangkan bahwa Henokh dan Elia sedang memperhatikan dan mencatat dosa masing-masing bangsa, bahasa, suku, dan lainnya dari surga, tetapi hal ini tampaknya agak konyol.
Jauh lebih masuk akal untuk menganggap bahwa Tuhan akan memberikan kesaksian yang terakhir atas setiap orang dalam bahasa mereka sendiri oleh seseorang dari budaya mereka sendiri, mengungkapkan dosa-dosa mereka dengan cara yang mudah mereka pahami.
Itulah sebabnya kenapa sangat mungkin jika ada sejumlah agen-agen suci “setempat” yang akan diangkat dan diurapi Tuhan untuk menjadi saksi penghakiman-Nya yang adil di akhir zaman.
Sebagai catatan tambahan, beberapa orang mungkin ingin tahu tentang alasan di balik teks Yunani yang menggunakan bentuk jamak untuk kemunculan ketiga kata “tubuh” dalam ayat 9. Dalam Wahyu 11:9 ada tertulis, “[...] dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat [tubuh] mereka dikuburkan”.
Penjelasannya adalah sebagai berikut: Mungkin saja dunia melihat “tubuh” yang bersatu (ayat 8). Mungkin juga “tubuh” yang berkelompok itu “terbaring di jalan” (ayat 9a). Namun, ketika Anda hendak menguburkan mereka, Anda juga harus menguburkan “tubuh” (dalam bentuk jamak). Tampaknya menguburkan sekelompok kolektif tubuh yang tersebar di seluruh dunia pada saat bersamaan agak merepotkan.
Penggunaan kata “tubuh” dalam bentuk jamak di bagian terakhir dari ayat 9 memperkuat gagasan bahwa dua penggunaan pertama kata “tubuh” dalam bentuk tunggal bukanlah kesalahan tata bahasa, tetapi merupakan bagian dari wahyu penting.
PERANG TERHADAP ORANG-ORANG KUDUS
Kata lain dalam ayat-ayat ini yang menunjukkan bahwa “dua saksi” tersebut bukan hanya “dua” ada dalam ayat 7. Dalam ayat ini kita menemukan binatang yang akan datang untuk berperang melawan para saksi. Kata “perang” dalam bahasa Yunani adalah polemos. Kata ini berarti suatu keterlibatan dalam waktu yang cukup lama, dan mungkin melibatkan banyak pertempuran.
Arti ini sangat berbeda dengan kata Yunani phoneuo, yang berarti membunuh, dan juga dengan kata mache, yang digunakan untuk menunjukkan satu pertempuran. Perbedaan antara kata-kata ini tentu penting. Mengapa antikristus perlu melakukan perang yang berkepanjangan untuk melawan dua individu? Tidak bisakah dia membunuh mereka begitu saja?
Mungkin ada beberapa orang yang berpendapat bahwa bisa saja kekuatan mereka besar sehingga tidak dapat dikalahkan dalam satu serangan karena mereka berada dalam perlindungan Tuhan. Selama jangka waktu ini, mereka tak terkalahkan.
Namun, begitu perlindungan ini tidak ada lagi, mereka dapat dikalahkan tanpa harus melibatkan “perang”, hanya dengan cara dibunuh. Selain itu, kata “perang” ini biasanya mengacu pada pembantaian dalam skala yang jauh lebih besar daripada sekadar pembunuhan dua nabi.
Hal ini juga memperkuat anggapan bahwa ini bukan hanya dua orang, melainkan sebuah sekelompok, yang mengharuskan adanya “perang” untuk melawan mereka dan bukan hanya pertempuran tunggal.
Menariknya, ada beberapa bagian lain di dalam Alkitab di mana kata “perang” ini digunakan dalam konteks yang mungkin ada kaitannya dengan pokok bahasan kita.
Dalam Perjanjian Lama, kitab Daniel pasal 7 ayat 21 menyampaikan tentang “tanduk” (yang di sini melambangkan “manusia berdosa” yang akan datang) yang melakukan “perang melawan orang-orang kudus” dan menang melawan mereka. Rupanya orang menakutkan dan jahat ini akan memulai perang salib untuk memusnahkan setiap umat Tuhan yang menentangnya.
Dalam Wahyu 13:7 kita diingatkan untuk kedua kalinya bahwa orang ini diberikan izin untuk “berperang (polemos) melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka”.
Jadi, kami menyimpulkan bahwa ada suatu saat di mana perlindungan yang diberikan kepada orang-orang kudus ini akan disingkirkan dan antikristus/binatang diberi kuasa untuk memulai pertumpahan darah besar-besaran.
Sebuah perang yang luar biasa yang akan dilancarkan terhadap pria dan wanita Kristen yang kehidupan dan kesaksiannya menentang tujuan orang gila yang diilhami setan ini.
Meskipun sulit untuk memberikan bukti dari kitab suci bahwa “perang” yang dilancarkan terhadap saksi-saksi akhir zaman ini sama dengan “perang melawan orang-orang kudus” yang disebutkan di atas, tetapi kemiripan ini harus dipertimbangkan.
1.260 HARI
Sekarang mungkin selaras untuk membahas beberapa elemen waktu yang ada dalam ayat-ayat ini. Ada kemungkinan periode hampir 3,5 tahun (1.260 hari) yang ada dalam ayat 3 merujuk pada paruh pertama dari periode tujuh tahun yang sering disebut “tribulasi”. Bisa jadi ini merupakan waktu di mana kesaksian kenabian yang berdampak besar terjadi. Namun, ada nomor 3,5 lain yang juga disebutkan, yaitu durasi “hari” di mana “mayat (tubuh) mereka” terbaring tidak terkubur di jalan-jalan (Why. 11:9).
Memang sedikit aneh bahwa sepersekian hari harus dicatat di sini. Apakah kita bisa memahami bahwa “tubuh” ini dibiarkan membusuk sampai tepat pada tengah hari di hari keempat? Apakah hal ini sedang menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar hari-hari biasa? Meskipun nubuatan Alkitab sulit untuk dibuktikan, tetapi tampaknya masuk akal untuk menganggap bahwa angka 3,5 yang kedua ini mungkin ada hubungannya dengan yang pertama.
Sebelumnya dalam buku yang sama, ada tertulis bahwa beberapa orang beriman dari gereja di Smirna akan mengalami penderitaan selama “sepuluh hari” (Why. 2:10). Walaupun arti yang tepat dari frasa ini masih belum jelas, ini mungkin berarti periode sepuluh tahun penganiayaan yang berat.
Jika kita menerapkan rumus satu tahun untuk satu hari ini pada pertimbangan saat ini, maka kita dapat berhipotesis bahwa pembantaian orang-orang kudus yang akan datang akan terjadi selama 3,5 tahun kedua dari masa kesengsaraan besar.
Di akhir periode ini mereka akan dibangkitkan, mungkin pada masa “pengangkatan”. Hal ini ditegaskan oleh fakta bahwa kebangkitan mereka dipicu oleh “suara nyaring dari surga”, yang mungkin menyerupai “teriakan penghulu malaikat” dalam 1 Tesalonika 4:16.
Selain itu, peristiwa ini terjadi tepat pada saat sangkakala ketujuh dibunyikan yang mungkin sama dengan sangkakala “terakhir” (Why. 11:15; 1Kor. 15:52). Hal ini sama seperti “sangkakala Allah” yang juga disebutkan dalam ayat yang sama (1Tes. 4:16).
ROH KUDUS TERCURAHKAN
Ada sebuah nubuat yang sangat penting dicatat dalam Yoel 2:28-32 dan Kisah Para Rasul 2:17-21. Rasul Petrus mengutip ayat-ayat ini sehubungan dengan pengalaman para murid pada hari Pentakosta. Namun, pengamatan cermat atas nubuat ini akan menunjukkan bahwa Pentakosta hanyalah penggenapan sebagian dari nubuat itu. Kita dapat dengan mudah menyimpulkan ini karena tidak semua yang dinubuatkan terjadi di Yerusalem pada hari itu.
Meskipun Rasul Petrus mungkin berpikir bahwa dia sedang berada di “hari-hari terakhir”, tetapi secara konteks, ayat-ayat ini jelas menghubungkannya dengan “hari-hari terakhir” yang lebih belakangan yaitu penyelesaian zaman. Sebagai contoh, ada tertulis bahwa “matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu” (Kis. 2:20).
Nubuat ini belum sepenuhnya digenapi ketika Yesus mati. Meskipun ada “kegelapan” (Mat. 27:45), tetapi tidak ada informasi apa pun tentang bulan yang berubah menjadi darah.
Namun, dalam kitab Wahyu yang menyampaikan tentang peristiwa masa depan, kita melihat bahwa ketika meterai keenam dibuka: “[...] sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah” (Why. 6:12). Ini adalah sesuatu yang akan terjadi di masa depan.
Juga ada tertulis: “Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiganya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari” (Why. 8:12). Ini juga belum terjadi.
Tentu saja, ada aspek tambahan yang perlu dipertimbangkan. Ingatlah pernyataan awal dalam tulisan ini, bahwa nubuat sering kali memiliki beberapa penggenapan. Dalam hal ini, terlihat jelas bahwa penggenapan dari nubuat yang dikutip Petrus ini adalah sesuatu yang akan terjadi di masa datang.
Sekarang kita sampai pada pertimbangan lebih lanjut. Nubuat ini sepertinya terbagi menjadi dua bagian, dipisahkan oleh kata “dan” di ayat 18. Pada bagian pertama, Roh Kudus dicurahkan ke atas “semua manusia” (ayat 17). Ini sepertinya berarti siapa saja dan setiap orang yang percaya kepada Yesus dapat menerima Roh.
Namun, kelompok orang percaya yang menerima Roh dalam ayat 18 bukanlah setiap orang atau sembarang orang. Sepertinya kelompok lain. Ini terbatas pada orang percaya khusus, yaitu “pelayan laki-laki” dan “pelayan wanita”.
Sementara setiap orang yang percaya kepada Yesus dan ingin dianggap Tuhan sebagai “pelayan” harus memiliki ketekunan dan kesetiaan. Ini merupakan hal yang sangat berbeda.
Pembagian ayat-ayat ini ke dalam dua bagian menjadi jelas ketika kita memperhatikan hasil pengurapannya. Selain nubuat, hasil dari pengurapan pertama adalah “mimpi” dan “penglihatan”.
Sementara pengurapan kedua adalah khusus untuk saksi kenabian. Di sini tertulis bahwa di “hari-hari terakhir” akan ada urapan rohani yang luar biasa yang dicurahkan ke atas para hamba Tuhan. Pengurapan ilahi ini diberikan dengan maksud tertentu, yaitu agar mereka dapat bernubuat.
Oleh karena itu, kami menemukan petunjuk bahwa pada suatu saat di masa depan, akan ada pencurahan Roh Kudus untuk kedua kalinya. Kemungkinan ini sesuai dengan apa yang dilihat banyak orang sebagai “hujan awal dan hujan akhir” (Ul. 11:14; Hos. 6:3; Yl. 2:23; Zak. 10:1; Yak. 5:7). Dalam Perjanjian Lama di Israel, curah hujan pertama terjadi pada saat musim tanam. Sementara “hujan akhir” terjadi tidak lama sebelum musim panen tiba.
Pada hari Pentakosta, terjadi pencurahan Roh Kudus yang pertama — yang sering disebut sebagai hujan awal. Oleh karena itu, tampaknya sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, akan ada pencurahan Roh Kudus yang kedua dan dahsyat atas hamba-hamba Yesus yang setia, atau yang disebut sebagai hujan akhir. Pengurapan yang luar biasa ini akan menghasilkan satu kesaksian nubuatan terakhir, yang menggetarkan dunia tentang kebenaran Tuhan dan menentang kerusakan di dalam dunia dan gereja yang murtad.
Pemikiran ini selaras dengan kitab Wahyu yang menyebutkan tentang “dua saksi”. Penting untuk diingat bahwa semua orang beriman sudah memiliki satu “bagian” dari Roh Kudus. Namun, di dalam kitab Wahyu ini tampaknya “keduanya” diberikan urapan atau bagian tambahan. Ada tertulis: “Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat …” (Why. 11:3). Pemberian kuasa ini jelas menunjukkan sesuatu yang lebih dari apa yang telah diberikan pada hari Pentakosta.
Di sini ada beberapa bukti substansial bahwa mungkin ada pencurahan terakhir dari Roh Kudus atas mereka yang akan bernubuat tentang Yesus pada akhir zaman. “Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat” (Why. 19:10).
MENGUKUR “BAIT SUCI”
Wahyu pasal 11, yang berbicara tentang dua saksi, dimulai dengan skenario yang menarik. Saat melihat penglihatan ini, rasul Yohanes diperintahkan untuk mengukur bait suci.
Mengapa bagian kecil ini disertakan di sini? Apakah Tuhan tiba-tiba lupa akan dimensi bangunan ini? Dia tidak hanya mengukur bait suci, tetapi juga “mazbah” (tempat pengorbanan) dan yang paling penting, “mereka yang beribadah di dalamnya” (ayat 1).
Mungkin setiap orang Kristen menyadari bahwa setiap anggota tubuh Kristus adalah “bait dari Allah yang hidup” yang sejati (2Kor. 6:16). Oleh karena itu, cukup masuk akal jika Yohanes tidak sedang menilai bangunan fisik, melainkan sedang mengamati orang-orang beriman. Mungkin sebelum Tuhan mencurahkan urapan akhir zaman-Nya, Dia sedang mencari mereka yang hidupnya telah dipersiapkan untuk menerimanya. “Pengukuran” ini mungkin merupakan ujian untuk menentukan siapa di antara umat Tuhan yang siap dan mampu memenuhi amanat agung yang terakhir ini.
Dan apakah ukuran yang akan diharapkan dari mereka yang terpilih? Apa tolok ukur yang akan digunakan untuk menilai mereka? Pasti ini berkaitan dengan mazbah. Dengan kata lain, pria dan wanita yang dipilih haruslah mereka yang hidupnya telah berubah menjadi persembahan yang hidup bagi Tuhan, mereka yang memahami makna dari kematian yang sepenuhnya bersama Kristus.
Ibadah juga tampaknya menjadi faktor. Agar memenuhi syarat untuk menjalankan tugas seperti itu, orang-orang ini harus menghabiskan banyak waktu “di bait suci” atau di hadirat Tuhan.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Dia. Mereka tidak hanya “pergi ke kebaktian” pada hari Minggu pagi. Mereka memberikan seluruh hidupnya untuk menjadi persembahan rohani bagi Dia. Mereka mencurahkan jiwa mereka detik demi detik untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tentu saja, persyaratannya adalah hidup hanya untuk Yesus. Mereka adalah orang-orang yang telah dipersiapkan dan memenuhi persyaratan Tuhan untuk menerima “bagian” kedua dari Roh Kudus dan melaksanakan pelayanan kenabian yang penting pada akhir zaman.
DATANGNYA ELIA
Pembahasan tentang topik ini tidak akan lengkap tanpa menyebutkan peristiwa yang sangat penting yaitu kemunculan nabi Elia sebelum “hari Tuhan yang besar dan dahsyat” (Mal. 4:5). Sebelum kedatangan Yesus yang pertama kali, nubuat ini telah digenapi dalam pribadi Yohanes Pembaptis. Ada tertulis bahwa dia datang dalam “[...] roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:17). Misinya adalah untuk mempersiapkan satu ras tertentu yang berada di sebuah wilayah kecil di dunia untuk kedatangan Mesias yang mereka nantikan.
Ketika para murid bertanya kepada Yesus tentang kedatangan Elia, Dia menjawabnya dengan cara yang sangat aneh. Pada intinya Dia berkata bahwa “Dia sudah datang [...] dan dia masih akan datang di masa depan”.
Ada tertulis: “Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, ‘Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?’ Jawab Yesus, ‘Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan [ini adalah kedatangan Elia di masa depan]. Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.’ Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis” (Mat. 17:10-13).
Sekarang yang harus kita pertimbangkan adalah kemungkinan bahwa “kedatangan Elia yang kedua kali” ini mungkin merupakan pencurahan “roh dan kuasa Elia” atas ribuan orang beriman yang telah disiapkan oleh Tuhan di seluruh dunia. Mereka akan bersaksi ke seluruh dunia bahwa penghakiman Tuhan yang adil sudah hampir tiba dan setiap orang harus mempersiapkan diri.
Mereka akan memiliki ciri-ciri seperti Yohanes Pembaptis yang melayani secara independen dan tidak terikat pada organisasi keagamaan mana pun. Kesaksian kenabian Yohanes memang benar-benar terpisah dari, bahkan melawan kemunafikan pendirian gerejawi pada zamannya.
Mereka akan menjadi pria dan wanita yang tidak kenal kompromi, serta tidak akan menyerah pada pengaruh apa pun. Semangat mereka tidak akan didorong oleh keinginan untuk ketenaran, kekayaan, atau kekuatan duniawi. Sebaliknya, mereka akan terbakar oleh api yang memuliakan Tuan mereka. Mereka akan menjadi nabi yang berani dan tak kenal takut, dan akan menyampaikan kebenaran yang tidak disukai orang. Mereka akan menjadi juru bicara Tuhan, menyingkapkan dosa-dosa dunia dan gereja duniawi, mendesak mereka agar segera bertobat sebelum terlambat.
Selain itu, mereka juga akan diberikan Tuhan kuasa sehingga perkataan mereka akan didukung oleh berbagai malapetaka supernatural.
Tidak bisakah Anda melihat mengapa semua orang membenci nabi-nabi ini? Ini karena manusia tidak mau kejahatan yang mengakar di dalam hatinya diungkapkan. Misalnya, berapa banyakkah orang Kristen yang terus-menerus berusaha menutupi dosa-dosa mereka dan tidak mau bertobat serta menerima kuasa penyucian Tuhan?
Kita sering kali berusaha meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita telah memenuhi standar yang ditetapkan Tuhan. Kita suka berpura-pura bahwa kita melakukan segalanya untuk melayani Yesus. Dan kita merasa tidak nyaman mendengar teguran nabi-nabi tersebut yang mengatakan bahwa kita tidak sungguh-sungguh benar di hadapan Tuhan. Jika gereja saja seperti ini, orang-orang di dunia akan bereaksi lebih keras lagi terhadap nabi-nabi yang mencoba menegur kejahatan mereka.
Inilah tujuan dari kesaksian yang terdiri dari dua bagian ini. Kesaksian ini bertujuan untuk mendorong pertobatan bagi mereka yang mau mendengarkan, mempersiapkan mereka untuk kedatangan Sang Raja dan memperingatkan mereka yang dengan keras menolak untuk tunduk di hadapan-Nya.
Yohanes datang dengan pakaian yang terbuat dari bulu unta, makan serangga dan madu hutan. Dia tampil berbeda, tidak mengikuti norma, dan menyinggung perasaan banyak orang, serta ditolak oleh umat beragama. Demikian pula saksi-saksi yang akan datang yang disebutkan dalam Wahyu 11:3 akan datang dengan “mengenakan pakaian berkabung”. Seberapa pun jumlahnya, mereka tetap tidak akan disambut.
Tokoh-tokoh yang tidak disukai ini tidak akan mendapatkan keuntungan duniawi. Mereka sudah meninggalkan hal-hal duniawi. Mereka tidak lagi berusaha untuk melayani orang banyak pada hari Minggu pagi. Mereka juga tidak mengharapkan persembahan para janda, janda cerai, pengangguran, dan orang-orang kudus miskin lainnya yang pernah mereka kuras sampai sen terakhir dengan janji-janji palsu tentang kesehatan, kesuksesan, berkat, atau kemakmuran, untuk mengisi dompet “pelayanan” mereka.
Mereka tidak lagi tertarik dengan proyek-proyek megah atau pertunjukan teater. Mereka juga tidak tertarik dengan pujian dan hal-hal materialistis yang berhubungan dengan “kekristenan yang sukses”. Satu-satunya yang mereka harapkan adalah kematian karena kesetiaan mereka untuk bersaksi akan kebenaran Tuhan.
Para nabi yang bersemangat ini tampaknya dibunuh di “kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, tempat Tuhan kita juga disalibkan” (ayat 8). Sementara beberapa orang menafsirkannya sebagai Yerusalem dalam kondisi yang merosot secara moral, tetapi saya percaya mungkin ada makna yang lebih dalam untuk dipertimbangkan.
Jika Tuhan bermaksud menunjuk Yerusalem, Dia bisa melakukannya langsung, tanpa menggunakan bahasa yang misterius dan terselubung. Ada kemungkinan bahwa ketiga karakteristik yang dikaitkan dengan kota besar ini “Sodom”, “Mesir”, dan “tempat Tuhan kita disalibkan” mungkin hanya ungkapan deskriptif yang menunjukkan tiga ciri-ciri mereka yang terlibat dalam pembantaian nabi Tuhan yang akan datang.
Sodom adalah kota kejahatan dan dosa besar. Mesir sering digunakan dalam Alkitab untuk melambangkan keduniawian dan kesenangan sensual. Sementara “tempat Tuhan kita disalibkan” menunjukkan Yerusalem, pusat agama Yahudi pada waktu itu.
Mengingat Yudaisme, yang pada awalnya didirikan oleh Tuhan, telah menyimpang jauh dari-Nya, kita dapat mengenali tiga faktor yang akan bersatu untuk menentang para saksi akhir Tuhan di akhir zaman, yaitu dosa, keduniawian, dan sistem agama Kristen yang dangkal. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang terlibat dalam dosa, keduniawian, dan kemunafikan agama Kristen, akan bersatu seperti yang mereka lakukan di zaman Yesus, untuk membinasakan para nabi yang menentang mereka. Mereka akan berusaha untuk membungkam suara-suara yang mengutuk tindakan mereka.
PELAYANAN ELISA
Seperti yang telah kita lihat, ketika murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya tentang kedatangan Elia, Dia menjawab dengan mengatakan dua hal: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu [...] Elia sudah datang[...]”.
Kitab Maleakhi menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali, akan ada pelayanan seperti Elia, yang akan membawa suatu bentuk “pemulihan” di antara umat Tuhan (Mal. 4:5, 6).
Saat “kemunculan kembali” pertama Elia, Yohanes Pembaptis terbunuh. Pelayanannya yang seperti pelayanan Elia yang pertama telah berakhir, tetapi ada jenis pelayanan Elia penting lainnya yang akan datang.
Setelah Elia diangkat ke surga, pelayanannya dilanjutkan oleh Elisa. Namun, ada perbedaan besar dalam pelayanan Elisa. Dia mendapat dua bagian dari Roh nabi Elia.
Hal ini sesuai dengan apa yang telah kami perkirakan bahwa pada akhir zaman, akan ada porsi ganda dari Roh Kudus yang dicurahkan ke atas hamba laki-laki dan hamba perempuan yang setia untuk melaksanakan jenis pelayanan Elia. Mereka akan mempersiapkan dunia dan gereja untuk kedatangan Yesus yang akan datang. Pelayanan mereka akan menjadi pelayanan pemulihan hati dan pikiran orang-orang kepada Tuhan mereka.
POHON ZAITUN DAN KAKI DIAN
Dalam Zakharia 4:14 kita menemukan penjelasan tentang kedua saksi ini, di mana mereka adalah “[...] kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!”. Pada akhir zaman ini, para nabi telah membuat pilihan penting. Mereka rela meninggalkan semua kesenangan dan daya tarik kehidupan, termasuk yang religius, demi hak istimewa yang tidak ada bandingannya, yaitu berdiri di hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Zakharia pasal keempat ini memberikan kita gambaran yang jelas tentang para nabi di masa depan. Mereka digambarkan sebagai dua pohon zaitun yang terus-menerus mengeluarkan minyak. Hal ini mungkin merujuk kepada “dua bagian roh” yang diterima oleh Elisa ketika Elia meninggalkannya. Hal ini mungkin berhubungan dengan pembicaraan kita sebelumnya tentang bagaimana Roh Kudus akan dicurahkan secara khusus kepada hamba-hamba Tuhan yang setia di akhir zaman.
Anda mungkin memperhatikan bahwa teks ini hanya menyebutkan tentang satu kaki dian, sementara kitab Wahyu menyampaikan tentang dua kaki dian. Salah satu alasan yang mungkin untuk hal ini adalah karena pada akhir zaman, kesaksian Tuhan akan diperkuat dua kali lipat untuk memenuhi jumlah yang diperlukan sebelum penghakiman dapat dimulai.
Sementara itu, pohon zaitun melambangkan pengurapan, dan kaki dian melambangkan kesaksian yang diterangi dari segala sesuatu yang Tuhan wujudkan. Pelayanan “dua saksi” ini akan ditandai dengan pencurahan Roh Tuhan yang melimpah dan kesaksian ganda tentang kebenaran Tuhan.
RUMAH TUHAN
Dalam ayat-ayat pada kitab Zakharia kita juga diberikan petunjuk lebih lanjut tentang pelayanan dua saksi ini yang berkaitan dengan gereja. Di sini kita kembali menemukan tentang Bait Suci (ayat 9) yang saat ini terdiri dari umat Tuhan. Kemudian kita melihat ada seseorang yang bernama “Zerubbabel” dengan tali pengukur di tangannya.
Tali sipat adalah alat yang digunakan dalam konstruksi untuk memastikan apakah sebuah bangunan benar-benar tegak lurus, dibangun dengan baik, dan kokoh. Demikian juga halnya dengan pelayanan “dua saksi” yang disebutkan dalam nubuat Zakharia, yang diwakili oleh dua pohon zaitun, berhubungan dengan peneguhan pembangunan bait Allah (ayat 9).
Kita ingat kembali bagian awal dari kitab Wahyu tentang kedua saksi ini di mana Bait Suci diukur. Oleh karena itu, penjelasan tentang pelayanan kedua saksi ini kemungkinan besar berkaitan dengan memeriksa atau memastikan kemajuan pembangunan rumah Tuhan.
Kesimpulan yang kami ambil sama seperti yang telah kami sampaikan dalam tulisan-tulisan lain: Rumah Tuhan tidak ditata dengan baik. Banyak bagian dari konstruksi, baik yang sudah selesai maupun yang sedang berlangsung, memiliki kekurangan yang signifikan.
Tampaknya, salah satu peran utama dari “kedua” saksi ini adalah untuk mengoreksi gereja. Mereka memainkan peran penting dalam “memulihkan” apa yang benar-benar sesuai dengan hati Tuhan. Mereka akan menegur mereka yang membangun tanpa kepedulian dan dengan fokus yang berpusat pada diri sendiri, mendesak umat Tuhan untuk kembali kepada kepada-Nya. Ini akan menjadi kesaksian kenabian untuk mengungkapkan kecemaran, kesalahan, dan keduniawian di dalam gereja-Nya yang diurapi.
Para nabi ini akan diurapi dua kali lipat untuk menyingkapkan kebohongan dan penipuan yang lazim terjadi. Visi mereka adalah untuk mengekspos bagaimana orang-orang telah memutarbalikkan kitab suci dan mencemari rumah Tuhan dengan ide-ide dan rencana mereka. Dengan kuasa yang luar biasa, mereka akan berbicara menentang mereka yang telah mengeksploitasi umat Tuhan demi keuntungan pribadi mereka.
Mereka akan bernubuat melawan orang-orang Kristen yang hatinya penuh kebohongan dan yang hidupnya palsu, tidak benar-benar tunduk pada pemerintahan Yesus. Para nabi ini akan dibenci, tetapi mereka memberikan pelayanan “pemulihan” yang sangat penting di akhir zaman ini. Gereja saat ini penuh dengan dosa dan kemunafikan. Banyak orang, termasuk para pemimpin, terlibat dalam pelanggaran seksual. Firman Yesus Kristus yang penuh kuasa telah diabaikan, sehingga tidak lagi berkuasa untuk mengubah manusia menjadi serupa dengan gambar Allah.
Kita sangat membutuhkan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada yang pernah kita saksikan hingga sekarang untuk menyampaikan firman Tuhan dalam situasi ini dan membawa perubahan yang diperlukan. Kita sangat membutuhkan pelayanan dua saksi ini!
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa gereja membutuhkan teguran keras dan pemulihan pelayanan kerasulan.
Mereka mempelajari peran para rasul dalam gereja-gereja Perjanjian Baru dan mengamati betapa kurangnya pelayan-pelayan Tuhan dengan peran seperti itu pada saat ini, mereka sampai pada kesimpulan bahwa hal inilah yang sangat diperlukan untuk mengembalikan gereja kepada hubungan yang lebih dekat kepada Tuhan.
Saya ingin menekankan bahwa saya tidak menentang pelayanan kerasulan yang dipimpin Roh. Saya tidak mengurangi pentingnya peran alkitabiah ini. Namun, sejak saya menjadi seorang Kristen, saya telah melihat banyak orang yang mengaku sebagai rasul di gereja. Meskipun mereka mungkin telah memberikan manfaat bagi beberapa orang beriman, tetapi secara keseluruhan gereja belum mengalami transformasi yang signifikan atau kembali kepada Tuhan. Pemulihannya sangat minim.
Di masa lalu, terutama di zaman Perjanjian Lama, Tuhan memakai para nabi untuk menegur umat-Nya. Nabi memang selalu ditugaskan untuk menunjukkan kesalahan dan kekurangan. Namun saat ini, kita membutuhkan lebih dari sekadar rasul atau nabi. Kita perlu mengalami urapan yang jauh lebih besar, dua bagian dari Roh Kudus atas orang-orang yang telah dipersiapkan dan memiliki kuasa Tuhan untuk menyingkapkan kegelapan dan kesalahan Kekristenan saat ini dan membimbing umat Tuhan untuk kembali kepada Dia. Ada tertulis: “[...] kuk yang diletakkan mereka atas tengkukmu akan dipatahkan” (Yes. 10:27).
Saya percaya bahwa melalui pelayanan para nabi akhir zaman yang diurapi dua kali lipat itulah Tuhan akan menegur umat dan gereja-Nya.
Menegaskan sudut pandang ini adalah informasi yang disampaikan dalam kitab Maleakhi mengenai kedatangan “Elia”. Perjanjian Lama diakhiri dengan pernyataan berikut: “Sesungguhnya, Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Ia akan membuat hati bapak-bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapak-bapaknya supaya jangan Aku menghancurleburkan bumi” (Mal. 4:5, 6).
Ketika kita membaca bagian ini untuk pertama kali, sepertinya Tuhan sedang berbicara mengenai pemulihan hubungan keluarga. Tampaknya Tuhan sangat peduli agar “anak-anak” dan “bapak-bapak” memiliki hubungan yang baik.
Apakah ini yang benar-benar diinginkan Tuhan di akhir zaman ini? Apakah ini yang diperlukan untuk menghindari penghakiman-Nya di dunia? Dapatkah hubungan keluarga yang baik dan hangat menjadi solusi bagi dunia yang memberontak dan gereja yang murtad saat ini? Apakah ini yang dimaksud dengan pelayanan yang diurapi ganda ini? Sepertinya meragukan.
Namun, Injil Lukas menyampaikan kesan yang berbeda. Berikut adalah sesuatu yang sedikit lebih meyakinkan dan terkini. Bagian kedua dari ayat dalam Lukas ini sedikit berbeda, mungkin bagian ini dikutip oleh malaikat dari sumber lain dan bukan dari Tora Ibrani versi masa kini.
Mungkin, pada kenyataannya, firman Tuhan ini lebih berkaitan dengan keluarga Tuhan dan bukan sekadar keluarga manusia. Ada tertulis: “Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk. 1:17).
Di sini kita memahami bahwa tujuan dari “pemulihan” ini adalah untuk “menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya”. Ini adalah mempersiapkan gereja untuk kedatangan Yesus.
Ayat ini bukan berbicara tentang pelayanan kepada keluarga, meskipun hal ini penting, tetapi mengacu pada pekerjaan mendasar, yaitu menyucikan dan memulihkan gereja di akhir zaman. Ini merupakan tugas yang sangat penting bagi Tuhan.
Bagian penting dari persiapan ini adalah untuk mengubah “yang tidak taat” (anak-anak Tuhan yang memberontak dan tidak mau berubah) menjadi orang-orang bijak yang hidupnya merupakan satu kesaksian kebenaran (mereka yang “adil”). Inilah keluarga Tuhan yang sebenarnya.
Hal-hal yang mendukung pemikiran ini lebih lanjut adalah terjemahan lain dari frasa “membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya”.
Menurut R.N. Champlin, Ph.D., dalam karyanya Tafsiran Perjanjian Baru, ada beberapa orang yang memahaminya seperti ini: “Kembalikan anak-anak ke watak saleh dari para ayah mula-mula” atau “kepada iman para ayah mula-mula.” Dengan kata lain, untuk membawa anak-anak kembali ke sikap hati yang dimiliki para ayah.
Penafsiran ini mungkin merupakan hasil terjemahan dari kata “ke” dalam bahasa Yunani yaitu “epi”. Dalam versi Bahasa Indonesia, ini diterjemahkan sebagai “kepada” seperti dalam “membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya”.
Namun secara harfiah kata Yunani “epi” ini berarti “penumpangan”, “di atas”, atau “di atas sesuatu”. Oleh karena itu, kemungkinan besar hal ini melibatkan pelimpahan hati para ayah pada atau di atas hati anak-anaknya daripada mengarahkan hati ayah “kepada” atau “terhadap” anak-anak.
Hal ini sangat selaras dengan apa yang telah kita lihat dan memberikan pemahaman yang lebih jelas. Keluarga yang perlu dipulihkan saat ini, adalah keluarga yang benar-benar milik Tuhan.
Untuk mencapai tujuan ini, “para bapak” ini, yang kemungkinan besar merupakan bejana-bejana yang matang dan siap, akan menerima pengurapan yang dikenal sebagai “roh dan kuasa Elia”.
Jika asumsi kita benar, mereka akan menerima dua bagian dari Roh, sama seperti apa yang diterima Elisa. Kemudian, mereka akan melakukan pelayanan pemulihan kenabian yang berfokus pada gereja. Pemulihan ini akan mengarahkan kembali hati umat Tuhan hanya kepada-Nya. Ketika sosok “Elia” ini datang, dia akan “memulihkan segala sesuatu” (Mat. 17:10).
Tentu saja, para nabi ini juga akan memberikan pengaruh besar terhadap penduduk dunia yang tidak percaya, baik melalui perkataan mereka maupun melalui malapetaka yang mereka bawa. Namun, kita tidak boleh mengabaikan peran penting yang dimainkan oleh “dua” nabi ini untuk memulihkan dan mempersiapkan gereja bagi kedatangan Yesus.
SAAT PERSIAPAN
Tidak ada seorang pun yang dapat menjalani kehidupan atau melakukan pelayanan yang begitu besar seperti yang dilakukan oleh para nabi ini tanpa menjalani masa persiapan yang ketat. Misalnya , Yohanes Pembaptis menghabiskan waktu “di padang gurun” sampai saatnya tiba untuk memulai pelayanannya kepada Israel (Luk. 1:80).
Demikian juga halnya dengan Rasul Paulus yang mendedikasikan waktu yang cukup lama di Arab (Gal. 2:17). Baik Paulus maupun Yohanes Pembaptis, dipanggil untuk melakukan tugas-tugas yang luar biasa, dan pada akhirnya mereka harus menentang tren keagamaan yang berlaku di zaman mereka.
Yohanes menegur orang-orang Farisi tentang dosa-dosa mereka. Demikian pula, Paulus secara konsisten menentang “orang-orang Yahudi”, yang berusaha membuat orang-orang Kristen yang baru bertobat untuk kembali tunduk pada hukum-hukum dan praktik-praktik Yudaisme yang memberatkan. Mereka tidak akan mampu bertahan dalam tekanan seperti itu tanpa dipersiapkan Tuhan terlebih dulu.
Demikian juga, orang-orang yang dipilih Tuhan untuk memenuhi panggilan kenabian ini kemungkinan besar akan mengalami semacam padang gurun rohani, tekanan yang cukup besar dan pencobaan yang sulit dan menyakitkan. Seorang hamba Tuhan yang sejati pada akhirnya harus mempunyai kemampuan untuk berdiri sendiri.
Memiliki persekutuan sangatlah penting, demikian juga halnya dengan hubungan rohani yang tulus dengan orang lain. Namun, jika Tuhan memanggil Anda untuk menjadi nabi, ada saatnya di mana Anda mungkin akan merasa kesepian karena hanya bergantung pada Dia. Ini tidak selalu berarti Anda terisolasi secara fisik, tetapi lebih kepada tidak menemukan kenyamanan atau persahabatan dari orang lain dengan cara tertentu.
Pengalaman seperti ini sangat penting karena hal ini mengajarkan kita untuk tidak bergantung pada teman-teman Kristen, guru-guru Alkitab, gerakan-gerakan, atau kelompok-kelompok, tetapi hanya bergantung pada Kristus. Dia harus menjadi segalanya bagi kita.
Masa-masa pencobaan ini akan melepaskan kita dari dukungan eksternal yang telah menopang kita, tetapi pada saat yang sama juga menyembunyikan kelemahan batin kita. Masa-masa kesulitan spiritual seperti itu akan menyingkap jati diri kita yang sesungguhnya dan memaksa kita untuk berpaling kepada satu-satunya Pribadi yang dapat menuntun kita ke tujuan akhir.
Hanya mereka yang telah mengalami “pengalaman padang gurun” seperti itu yang akan siap untuk berdiri teguh di masa-masa sulit, tanpa rasa takut bersaksi bagi Yesus. Yang keluar dari ujian yang berat ini adalah hamba-hamba Tuhan yang dimurnikan, diurapi, dan dipersiapkan untuk melayani Dia.
Saya tidak menyarankan agar orang Kristen berhenti menghadiri pertemuan-pertemuan di gereja atau memutuskan hubungan dengan sesama orang beriman. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang berfokus pada diri sendiri ketika mereka terlalu sensitif terhadap kritik atau mencoba untuk terlihat lebih rohani. Saya juga tidak menyetujui mereka yang tidak sabar, merasa benar sendiri atau kepribadian yang menyinggung perasaan, menyebabkan mereka jauh dari sesama orang beriman.
Pesan ini bukan untuk bayi rohani atau orang Kristen baru. Ini bukan tugas yang dapat Anda lakukan sendiri. Tolong jangan mencobanya. Semua yang saya jelaskan di sini tidak dapat dicapai dengan usaha sendiri.
Saya hanya menyatakan apa yang seharusnya sudah jelas, yaitu siapa pun yang dipanggil Tuhan untuk melakukan pelayanan kenabian di akhir zaman pasti akan menghadapi ujian dan cobaan yang menyakitkan, dan banyak di antaranya harus ditanggung dalam kesendirian.
Mempertimbangkan semua ini, saya memiliki beberapa pertanyaan penting kepada Anda semua, para pembaca. Jika Tuhan memanggil Anda untuk menjadi salah satu dari orang-orang ini, apakah Anda bersedia untuk mengatakan “ya”? Bagaimana reaksi Anda terhadap pesan yang dibagikan di sini?
Jika semua ini membuat Anda tidak nyaman, itu adalah tanda yang jelas bahwa ada sesuatu di dalam hati Anda yang tidak selaras dengan Tuhan saat ini. Jangan tunda lagi. Segera berdamai dengan-Nya. Bertobatlah dari apa pun yang Dia tunjukkan dalam hidup Anda dan berkomitmenlah untuk menjauhi hal-hal yang berdosa itu. Yakinlah bahwa apa pun yang terjadi, jika Anda sungguh-sungguh bersedia, Tuhan akan membebaskan Anda.
Di sisi lain, saya ingin bertanya kepada beberapa dari Anda, apakah hati Anda menanggapi panggilan ilahi untuk menjadi “Kudus bagi Tuhan” (Kel. 28:36)? Jika ya, serahkanlah diri Anda sepenuhnya kepada-Nya saat ini juga. Ambil waktu sejenak dan berdoalah dengan sungguh-sungguh untuk tujuan ini.
Hanya Dia yang dapat menyucikan dan menyiapkan hati Anda agar Anda benar-benar berguna bagi-Nya. Jika Anda mempersembahkan tubuh Anda sebagai korban yang hidup, Dia akan menerimanya dan mulai bekerja di dalam dan melalui hidup Anda dengan cara yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.
Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang tahu pasti siapa “dua saksi” ini. Namun, ada satu poin utama yang saya coba sampaikan dalam bab ini yang dapat kita yakini sepenuhnya, bahwa Tuhan mengetahui hati Anda dan Dia memanggil setiap orang percaya untuk melakukan pelayanan kudus bagi nama-Nya sebelum Dia datang.
Tidak ada yang dikecualikan. Tidak ada yang terlalu lemah atau miskin secara rohani untuk melayani Dia dengan sepenuh hati. Dia memang akan meminta pertanggungjawaban kita semua atas apa yang kita lakukan dengan apa yang telah Dia berikan kepada kita.
Pesan yang disampaikan nabi-nabi di kitab Wahyu juga merupakan pesan untuk kita hamba-hamba Tuhan yang hidup saat ini. Apa yang ingin Dia beritakan dengan kekuatan dua kali lipat di masa depan, Dia sangat ingin sampaikan melalui kita saat ini kepada dunia yang akan binasa dan gereja yang murtad dan berkompromi.
Kita tidak membutuhkan penampakan supernatural dari malaikat atau suara dari surga untuk memanggil kita untuk pekerjaan ini. Perintah sudah diberikan (Mat. 28:19). Ladang sudah menguning dan matang untuk dituai (Yoh. 4:35).
Mungkin hanya ada satu hal yang menghalangi kita untuk mendengar suara-Nya dan melakukannya. Masalah ini merupakan masalah penting dalam setiap kehidupan orang Kristen. Ini adalah pilihan penting bagi kita masing-masing suatu hari nanti. Suatu pertanyaan yang pada akhirnya harus kita hadapi, yaitu: Apakah Anda rela menempuh jalan kematian karena Yesus?
Akhir bab 1
Baca bab-bab lain secara online:
We are always looking to offer books in more languages.