Pelayanan Sebutir Gandum

Membaca Online
Babel

BABEL SAAT INI

Bab 4

Babel, buku oleh David W. Dyer

PUBLIKASI MINISTRIES “A GRAIN OF WHEAT”

Oleh David W. Dyer

Diterjemahkan oleh L. Yunnita

DAFTAR ISI

Bagian I - Babel

Bab 1: SI PELACUR

Bab 2: BABEL

Bab 3: DARAH PARA MARTIR

Bab 4: BABEL SAAT INI (Bab saat ini)

Bab 5: KEHANCURAN BABEL

Bab 6: UMAT-KU PERGILAH DARI PADANYA

Bab 7: GEREJA KATOLIK ROMA

Bagian II - Antikristus

Bab 1, BAGIAN I: DOMBA DAN KAMBING

Bab 1, BAGIAN II: "NUBUAT SEJARAH"

Bab 1, BAGIAN III: EMPAT BINATANG BUAS

Bab 1, BAGIAN IV: GAMBARAN NEBUKADNEZAR

Bab 2: ANTIKRISTUS

Bab 3: SATU PEMERINTAHAN DUNIA

Bab 4: JADWAL TUHAN

Bab 5: BABEL

Bab 6: PERANG MELAWAN ORANG-ORANG KUDUS

Bab 7: TANDA BINATANG BUAS

Bab 8: PENGANIAYAAN

Bab 9: TANDA-TANDA PENTING

Bab 10: LAYAK UNTUK MELARIKAN DIRI

Bagian III - Tanda Akhir Zaman

Bab 1: DUA SAKSI

Bab 2: EMPAT METERAI

Bab 3: SANG ANAK LAKI-LAKI

Bab 4: KEMURTADAN BESAR

Bab 5: KEHANCURAN TIBA-TIBA




4.BABEL SAAT INI

Kitab Wahyu mengajarkan kita bahwa kemunculan si pelacur tidak hanya terjadi di Babel kuno. Itu bukan satu-satunya masa di mana keduniawian mencapai puncaknya, juga bukan satu-satunya periode atau tempat di mana semua yang ditawarkan dunia, termasuk hiburan, seks, dan dosa, dimanifestasikan sepenuhnya.

Menurut kitab Wahyu, ada tempat dan kesempatan lain di mana keinginan dan keburukannya mencapai puncaknya. Tampaknya sampai sekarang, sudah ada enam “manifestasi”.

Bagaimana kita bisa mengetahui hal ini? Mari kita selidiki bersama. Dikatakan bahwa pelacur ini menunggangi seekor binatang buas yang memiliki tujuh kepala. Dalam buku lain yang berjudul Anti Kristus, kami tunjukkan bahwa dalam nubuat Alkitab, seekor binatang buas yang muncul dalam penglihatan dan digambarkan memiliki banyak kepala ini, merujuk pada suksesi para penguasa atau kerajaan. Dengan menerapkan prinsip ini, dapat kita simpulkan bahwa Babel akan naik ke puncaknya selama tujuh kali dalam sejarah dunia.

Selanjutnya dikatakan bahwa lima manifestasi ini telah terjadi dan berakhir pada saat Yohanes melihat penglihatan ini. Ada tertulis, “lima di antaranya sudah jatuh [...]” (Why. 17:10). Lima dari tempat-tempat ini telah bangkit dan jatuh sebelum Yohanes melihat penglihatan ini, yaitu saat roh Babel bangkit mencapai puncaknya.

Meskipun kita tidak dapat mengetahui dengan pasti kerajaan-kerajaan masa lalu mana yang juga termasuk dalam daftar Babel ini, namun ada kemungkinan bahwa Mesir kuno di bawah beberapa Firaun juga mungkin telah mencapai puncaknya seperti yang telah digambarkan di atas. Mungkin kekaisaran Media-Persia atau kerajaan Aleksander Agung yang terakhir, atau bahkan Asyur kuno dapat disejajarkan dengan pola yang disampaikan tersebut. Siapa sebenarnya mereka tidaklah terlalu penting bagi pemahaman kita. Yang pasti adalah bahwa ada lima, dan mereka telah muncul dan berlalu, atau “jatuh”.

Lalu ada tertulis, “masih ada satu”. Ketika Yohanes melihat penglihatan ini, dia sebenarnya menyaksikan “perwujudan” keenam. Pada saat itu, Kekaisaran Romawi memenuhi syarat untuk menjadi inkarnasi dari Babel. Kita tahu pasti bahwa kekaisaran ini terkenal karena kesenangan duniawinya dalam setiap aspek budayanya.

Roma merupakan pusat budaya, ekonomi, dan politik dunia barat pada waktu itu. Kota itu terkenal karena kegemarannya akan dosa yang berlebihan. Kemabukan, pesta seks, pertandingan olahraga yang melibatkan kekerasan, berbagai hiburan, dan semua kesenangan yang ditawarkan dunia ini berlimpah di tempat itu.

Seks, kemewahan, rekreasi, hal-hal mewah, kekayaan, dan semua hal lain yang menjadi ciri dunia ini tersedia di sana. Tentu saja, kekaisaran itu memenuhi syarat untuk menjadi salah satu manifestasi dari pelacur Iblis. Jadi, terlihat bahwa Roma kuno sangat cocok dengan pola yang telah kita gambarkan. Ini pastilah “Babel” pada masa penglihatan Yohanes.

Bahkan jika kita menganggap Roma sebagai salah satu yang “masih ada”, tetapi jumlah semuanya baru enam “Babel”. Masih ada satu yang kurang.

Dari situ kita baru tahu rahasianya bahwa perwujudan besar Babel yang terakhir belum datang. Perwujudan tersebut baru akan muncul suatu saat di masa depan. Dia berkata, “[...] dan yang lain belum datang” (Why. 17:10).

Dari sini kita tahu bahwa akan ada, pada akhir zaman ini, satu manifestasi besar terakhir dari Babel. Manifestasi ini akan menjadi perwujudan terakhir dari si pelacur, suatu tempat di bumi yang pada hari-hari terakhir akan menjadi simbol atas semua daya tarik dan rayuan Setan.

Pada akhir zaman, di dunia ini akan ada suatu bangsa yang nantinya akan menjadi sangat kaya dan merosot moralnya. “Kerajaan” itu akan menjadi terkenal karena keberlebihan dan kemewahannya.

Inilah yang akan menjadi “reinkarnasi” Kekaisaran Romawi dengan semua keberdosaan duniawinya. Kita akan melihat satu tempat yang melambangkan semua kesenangan dan hasrat naluriah bahkan intelektual yang ditawarkan dunia ini. Tempat ini akan menjadi manifestasi ketujuh dan yang terakhir dari pelacur jahat ini.

Tempat inilah, Babel terakhir, yang akan dihancurkan oleh Anti Kristus dan sepuluh rajanya (Why. 17:16, 17).

(Untuk keterangan yang lebih rinci tentang nubuat ini, silakan lihat catatan setelah bab terakhir buku ini di halaman 85.)

Kita telah melihat bahwa sebenarnya pelacur yang digambarkan Alkitab adalah sistem dunia ini. Sistem dunia inilah si “perempuan” yang digunakan Iblis untuk merayu hati pria agar menjauh dari Tuhan.

Tetapi jika sekarang kita berada di akhir zaman, di manakah Babel saat ini? Apakah pada saat ini ada sebuah tempat di dunia yang sesuai dengan nubuat ini? Apakah ada tempat yang tampaknya cocok dengan semua yang telah digambarkan? Mari kita lihat bersama dalam Alkitab dan perhatikan bagaimana hal-hal ini bisa sesuai dengan dunia kita saat ini.

“KOTA” YANG BESAR

Ketika kita membaca pasal 17 dan 18 dari Kitab Wahyu untuk menyingkap tentang identitas Babel, ada dua hal yang jelas terlihat. Pertama, Babel digambarkan sebagai “kota besar” (Why. 17:18). Selain itu, kota ini dinubuatkan akan dimusnahkan oleh api (Why. 17:16). Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kota itu sebenarnya adalah lokasi fisik yang nyata dan bukan hanya semacam wujud “rohani”.

Meskipun, seperti yang telah kita amati, ada aspek rohani dalam Babel, jelaslah bahwa ada juga lokasi fisik yang berbeda yang mewujudkan roh Babel pada akhir zaman, dan tempat ini akan menghadapi kehancuran oleh api.

Dalam Perjanjian Lama, kota Babel yang sebenarnya ada. Kota ini merupakan ibu kota kerajaan yang juga disebut sebagai “Babel”. Kota ini berfungsi sebagai pusat, dan dengan demikian menjadi semacam representasi simbolis dari seluruh kerajaan.

Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa “kota” dalam Perjanjian Baru ini tidak hanya mewakili satu kota saja, tetapi seluruh bangsa yang dilambangkan oleh kota tersebut. Jadi, apa yang akan kita pelajari tentang “kota” Babel tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan seluruh bangsa dan budayanya. Meskipun ada beberapa spekulasi mengenai hal ini, namun bukti-bukti pendukungnya akan menjadi jelas ketika kita mempelajari hal ini lebih lanjut.

PASAR DUNIA

Dalam pencarian identitas tempat yang disebut “Babel” ini, kita akan mulai dengan bagian yang paling jelas dari pewahyuan Alkitab. Satu hal yang sangat jelas dari kedua pasal itu yaitu bahwa Babel terakhir digambarkan sebagai pasar dunia. Fakta ini sangat penting karena menegaskan bahwa Babel bukan hanya sebuah wujud spiritual.

Babel adalah pusat utama, atau bahkan pusat perdagangan dunia. Babel merupakan tempat di mana siapa pun yang memiliki sesuatu untuk dijual dapat memasarkannya. Jumlah pembelian yang dilakukan tempat ini sangat besar sehingga para pedagang di seluruh dunia menjadi kaya dengan menjual barang-barang mereka ke Babel.

Ada tertulis bahwa, “[...] pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya” (Why. 18:3). Jadi, ketika mencoba mengidentifikasi perempuan ini, kita harus mencari tempat yang nyata di dunia yang sesuai dengan gambaran ini. Tempat itu haruslah sebuah tempat di mana terjadi banyak pembelian dari sebagian besaryang dihasilkan dunia.

Selanjutnya, ada daftar panjang tentang barang-barang mewah yang telah dibeli Babel. Ayat 12 dan 13 menyatakan, “[...] yaitu barang-barang dagangan dari emas dan perak, permata dan mutiara, dari lenan halus dan kain ungu, dari sutera dan kain kirmizi, pelbagai jenis barang dari kayu yang harum baunya, pelbagai jenis barang dari gading, pelbagai jenis barang dari kayu yang mahal, dari tembaga, besi dan pualam, kulit manis dan rempah-rempah, wangi-wangian, mur dan kemenyan, anggur, minyak, tepung halus dan gandum, lembu sapi, domba, kuda dan kereta, budak dan bahkan nyawa manusia”.

Daftar ini cukup panjang serta mencakup semua jenis barang yang dianggap mahal, menarik, dan diinginkan pada masa di mana wahyu tersebut diberikan. Daftar ini mewakili hal-hal terbaik dari semua yang ditawarkan dunia.

Setelah hampir 2.000 tahun sejak daftar ini ditulis, ada beberapa hal yang telah berubah. Kami menyimpulkan bahwa Babel yang akan dihancurkan bukanlah Babel yang kuno, melainkan Babel pada masa kini, oleh karenanya tentu tidak akan terlalu jauh dari penafsiran kitab suci untuk mempertimbangkan bahwa pada masa ini daftar tersebut mungkin mencakup barang-barang yang lain.

Mungkin saat ini daftar itu mencakup barang-barang perhiasan, pakaian (linen, ungu, sutra, kirmizi), kendaraan (mobil), perabot (terbuat dari kayu berharga), granit dan marmer (saat ini populer di kamar mandi dan dapur), berbagai jenis makanan impor, buah-buahan dan sayuran, parfum, rempah-rempah dan semua jenis hewan peliharaan dan bahkan jutaan pekerja yang dieksploitasi, mungkin karena mereka bukan warga negara tersebut.

Pada intinya, Babel mengimpor segala sesuatu yang diinginkan dan dibuat dunia untuk memenuhi keinginannya akan kemewahan. Oleh karena itu, untuk mengenalinya di masa kini, kita harus mencari kota atau negara dengan keinginan yang tak terpuaskan terhadap semua jenis barang yang penuh hiasan dan keindahan.

Perhatikanlah bahwa “kota” ini tampaknya tidak memproduksi barangnya sendiri. Sebagian besar barang yang dikonsumsinya berasal dari tempat lain. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dia adalah negara konsumen.

Bukan hanya itu, tetapi firman Allah menjelaskan cara bagaimana barang-barang ini mencapai ke pesisir Babel. Hal ini memberikan petunjuk penting tentang identitasnya. Mohon perhatikanlah dengan seksama hal ini. Barang-barang ini diangkut dengan kapal. Ini bukan sembarang kapal atau beberapa kapal, tetapi sepertinya keinginan pelacur itu memerlukan keterlibatan hampir semua orang yang memiliki atau bekerja di kapal.

Ayat 17 dan 18a menyatakan, “Dan setiap nakhoda dan pelayar dan anak-anak kapal dan semua orang yang mata pencahariannya di laut, berdiri jauh-jauh, dan berseru, ketika mereka melihat asap api yang membakarnya”. Kemudian fakta ini diulangi dalam ayat 19 di mana para pelaut dan pemilik kapal menangis dan meratap, menyatakan, “Celaka, celaka, kota besar, yang olehnya semua orang, yang mempunyai kapal di laut, telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal”!

(Upaya Saddam Hussein untuk membangun kembali kota kuno Babel tidak dapat dianggap sebagai penggenapan nubuat ini. Lokasi Babel di Irak terletak beberapa ratus mil di atas sungai Efrat, sehingga tidak dapat diakses oleh kapal-kapal laut).

Volume perdagangan yang dilakukan dengan Babel memperkuat anggapan bahwa ini bukan hanya sebuah kota semata, melainkan sebuah kota yang melambangkan sebuah bangsa yang lebih besar. Tidak ada satu kota pun, terlepas dari ukurannya, yang dapat mengonsumsi sedemikian banyak sehingga membutuhkan keterlibatan hampir setiap kapal dan pemilik kapal di seluruh dunia untuk memenuhi keinginannya.

Selain itu, kita dapat menyimpulkan dari tulisan suci ini bahwa Babel pasti memiliki hubungan dengan laut, dan harus mudah diakses. Itu adalah tempat yang sangat bergantung pada barang-barang yang sebagian besar diimpor dengan kapal. Moda transportasi utama untuk barang-barang ini bukan melalui darat tetapi melalui laut.

Oleh karena itu, Babel harus memiliki banyak pelabuhan untuk menyediakan akses bagi “setiap nakhoda” (Why. 18:17) di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak ada satu kota pun di dunia ini yang memiliki ruang pelabuhan yang cukup untuk mengakomodasi puluhan ribu kapal.

Babel keadaannya amat sangat kaya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Babel adalah negara yang paling kaya di dunia, ekonomi terbesar di dunia. Kesimpulan ini sangat masuk akal karena untuk mendapatkan sejumlah besar barang yang paling berharga di dunia, dia harus memiliki kelimpahan yang berlimpah. Wahyu 18:19 menegaskan hal ini, dengan menyatakan, “[...] semua orang, yang mempunyai kapal di laut, telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal”.

Oleh karena itu, dalam upaya untuk menentukan Babel modern, sangat penting untuk mencari tempat yang dikenal secara luas karena pengeluarannya yang boros dan kekayaannya yang cukup besar. Secara umum penduduknya harus memiliki tingkat pendapatan yang sangat tinggi yang dapat dibelanjakan dengan boros. Pada dasarnya, ketika membahas tentang Babel, kita akan memperhatikan karakteristik umum keseluruhan penduduknya. Penduduk Babel menunjukkan perilaku tertentu sehingga mendapatkan reputasi internasional tertentu.

Tentu saja ada pengecualian. Sama seperti di zaman Sodom, di antara penduduk Babel saat ini, pasti ada setidaknya satu orang yang saleh. Kita dapat meyakini hal ini karena ada tertulis bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk keluar dari sana (Why. 18:4). Namun, secara umum kita memahami bahwa meskipun ada pria dan wanita saleh yang tinggal di tempat tersebut, karakter utama dari penduduknya adalah seperti yang dijelaskan dalam Wahyu.

BABEL MENCINTAI KEMEWAHAN

Salah satu karakteristik penting lain dari Babel yang akan membantu kita dalam mengidentifikasikannya adalah kecintaan Babel akan kemewahan (Why. 18:7,9,14). Babel bahkan kecanduan akan hal tersebut. Babel memanjakan dirinya dengan semua barang-barang yang bisa dibeli, barang-barang yang dapat memuaskan jiwanya. Mungkin rumahnya penuh dengan segala jenis pernak-pernik dan dekorasi. Kita dapat membayangkan bahwa Babel memiliki “kereta” yang berkilau dan baru.

Babel memastikan bahwa semua perhatian dipusatkan pada dirinya dan terus berusaha mencari cara agar dapat memuaskan keinginannya atas kenyamanan dan kemudahan. Mungkin ini termasuk hasrat untuk memiliki makin banyak pakaian, perhiasan (Why. 17:4), dan pencarian tanpa henti atas makanan dan minuman terbaik.

Kita dapat membayangkan bahwa Babel pasti akan menghabiskan banyak waktunya untuk berbelanja dan mengunjungi restoran, bar, atau kedai teh dan kopi yang baru. Babel menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berbagai bentuk hiburan seperti film, acara olahraga, teater, atau pesta. Bahkan mungkin juga mobil baru, perlengkapan olahraga, kapal, ATV, mobil salju, mobil karavan, jet ski, dan banyak hal lainnya yang telah menghabiskan sebagian besar pendapatannya.

Ada kemungkinan rata-rata orang di Babel yang terakhir hidup pada tingkat yang hanya dinikmati oleh para raja dan bangsawan. Mungkin penduduk Babel dapat membeli hampir semua jenis makanan atau minuman yang mereka inginkan.

Tak diragukan lagi bahwa rumah-rumah penduduk Babel dipenuhi dengan segala jenis kenyamanan, kemewahan, dan bahkan pemborosan. Televisi mereka besar dan sofa mereka nyaman. Lemari mereka tak pernah cukup besar untuk menampung semua pakaian di dalamnya. Mereka memiliki “pelayan” elektronik untuk mencuci pakaian dan piring.

Lambat laun, semakin banyak penduduknya yang memilih untuk bersantap di restoran daripada menyiapkan makanan mereka sendiri, karena mereka menikmati kenyamanan yang ditawarkan. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka dapat dengan mudah naik ke “kereta” mereka, dan dalam waktu singkat, keinginan mereka terpenuhi. Mereka menjalani gaya hidup mewah dalam segala hal.

Mungkin Anda merasa bahwa saya terlalu jauh dalam membahas perumpamaan karakter Babel. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Babel hidup “mewah” (Why. 18:7). Di dunia kita saat ini, hidup “mewah” berarti hidup seperti yang telah digambarkan di atas. Jika kurang dari itu, maka tidak layak dikatakan hidup meWhy. Babel harus merupakan lambang pemuasan diri sendiri.

Babel memanjakan dirinya dengan segala kemewahan dan pengeluaran sesuai kemampuannya. Perekonomiannya tampaknya sangat tergantung pada konsumerisme. Babel menjadi terkenal di seluruh dunia karena pemuasan dirinya sendiri. Penduduknya mencintai dunia dan semua hal yang ada di dunia.

Hati mereka sepenuhnya mengabdi dan mengejar semua yang ditawarkan dunia saat ini. Mereka terus mengejar semua kesenangan naluriah, hiburan, barang, dan kenyamanan yang tersedia tanpa henti. Sungguh, dia memuliakan dirinya sendiri dan hidup dengan mewah (Why. 18:7). Dalam sejarah dunia, belum pernah ada satu pun bangsa yang seperti Babel.

DOMINASI DUNIA

Karakteristik lain dari Babel yang bisa membantu dalam pengidentifikasian adalah posisinya yang berpengaruh di kancah dunia. Firman Allah mengatakan bahwa, “[...] perempuan yang telah kaulihat itu, adalah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi” (Why. 17:18).

Ini luar biasa! Babel adalah kota/bangsa yang mendominasi kancah dunia. Dia begitu kuat dan berpengaruh sehingga bisa dikatakan dia “memerintah” atas penguasa bumi lainnya. Ini menunjukkan bahwa kita harus mencari tempat yang berfungsi semacam negara adidaya, bahkan mungkin negara adikuasa terdepan.

Babel pasti tempat yang sangat jelas dan menonjol. Meskipun dia mungkin tidak memerintah seluruh dunia secara langsung, dia mendominasi para penguasa dan bangsa lain. Dia punya cara untuk memengaruhi negara lain agar mau menuruti kehendaknya. Tulisan suci tidak mengatakan apakah itu dilakukan secara diplomatis, militer, atau dengan tekanan ekonomi, tetapi jelas bahwa kekuatan dan pengaruhnya sangat besar.

Tak diragukan lagi karena posisinya yang dominan, Babel menjadi bangga. Hatinya terangkat karena posisi dan kekuatannya. Dia benar-benar egois dan menganggap dirinya yang terbaik dalam segala hal. Beberapa pedagang (dan mungkin perusahaan) Babel terkenal di dunia. Pengaruh finansial mereka mendominasi.

Mungkin beberapa pedagang ini telah menjadi miliarder dan nama mereka dikenal hampir di mana-mana. Tulisan suci mengajarkan kepada kita fakta-fakta ini dengan mengatakan, “[...] pedagang-pedagangmu adalah pembesar-pembesar di bumi [...]” (Why. 18:23).

Perwujudan terakhir dari si pelacur ini adalah kepercayaan dirinya yang sedemikian tinggi akan kekuatan dan ketangguhannya. Ada kemungkinan, Babel berada di satu tempat yang terisolasi dari seluruh dunia, sehingga merasa cukup aman dan tersembunyi. Dia membayangkan bahwa tidak ada yang bisa menjatuhkannya.

Alkitab mewahyukan bahwa,Sebab ia berkata di dalam hatinya: ‘Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung’” (Why. 18:7). Bahkan mungkin dia percaya bahwa posisi dan kemakmurannya adalah karena berkat Tuhan.

Sikap kesombongan, dominasi dunia, dan rasa aman yang luar biasa ini adalah karakteristik yang dapat kita gunakan untuk mengidentifikasi Babel di zaman modern. Satu-satunya tempat unik yang saat ini cocok dengan semua deskripsi itu adalah Amerika Serikat. Itu adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang sesuai dengan semua aspek Babel.

KETERIKATAN DENGAN SEKS

Salah satu ciri mencolok yang digunakan untuk mengenali si pelacur adalah keterlibatannya dalam aktivitas seksual yang bebas dan sering. Babel bukan hanya pelacur, tetapi pelacur yang “besar” (Why. 17:1). Oleh karena itu, terlihat bahwa masyarakat dari bangsa yang diidentifikasi sebagai “Babel” akan dikonsumsi dengan hal-hal yang berhubungan dengan seks, menunjukkan obsesi terhadap hal tersebut.

Mungkin media di tempat itu penuh dengan segala jenis foto sugestif, artikel yang tak bermoral, dan film cabul. Mungkin dia selalu mencari lebih banyak rangsangan di bidang seks.

Oleh karena itu, pornografi, ketelanjangan, dan amoralitas dari setiap jenis dan deskripsi makin umum terjadi di tempat ini. Mungkin mereka yang memiliki pengaruh dalam industri hiburan seperti bioskop, musik, dan media cetak akan secara terus-menerus berusaha untuk melampaui batas dan mengeksplorasi sejauh mana konten tersebut dapat disebarluaskan.

Sebelum menghadapi penghakiman, Babel kemungkinan besar akan menjadi seburuk atau lebih buruk dari Sodom dan Gomora. Ada kemungkinan Babeli akan sama jahatnya seperti penduduk bumi pada zaman Nuh. Keinginannya yang kuat akan kemewahan hanya akan ditandingi oleh keinginannya yang terpuaskan akan berbagai jenis seks.

Sebagai contoh, dalam kisah Lot dan pelariannya dari Sodom diketahui bahwa penduduk kota tersebut berkumpul di depan pintunya menuntut dia untuk menyerahkan kedua pria itu. Mereka menginginkannya supaya mereka dapat melampiaskan nafsu sesat kepadanya di hadapan semua orang. Dapat dibayangkan bahwa Babel juga, sebelum menghadapi penghakiman, akan mengabaikan hati nurani atau rasa malu.

Seks yang tak terkendali melahirkan kekerasan. Entah mengapa, tetapi kedua hal ini, seks yang tak terkendali dan kekerasan, berjalan seiring. Pada zaman Nuh, bukan hanya segala macam amoralitas yang merajalela, tetapi “[...] bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan” (Kej. 6:11). Oleh karena itu, sebelum zaman ini berakhir, akan terjadi peningkatan tidak hanya dalam hal ketelanjangan dan seksual, tetapi juga peningkatan kekerasan yang tidak terkendali dan mengejutkan.

Pada akhirnya, Babel menjadi begitu penuh dengan kenajisan, penyimpangan, dan hawa nafsu yang tak terkendali yang membuat banyak setan dan roh-roh jahat tertarik padanya. Ketika keburukannya memuncak, dia berubah menjadi “[...] tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci (Why. 18:2).

Tentu saja, roh-roh jahat ini berkumpul di sana, seperti lalat yang tertarik pada bangkai, untuk ikut terlibat dan semakin mengintensifkan hasrat jahatnya.

Selama bertahun-tahun, ketika membaca bagian ini, saya berpikir bahwa keadaan Babel yang dipenuhi dengan setan adalah sesuatu yang terjadi setelah kehancurannya.

Namun, setelah diteliti lebih cermat, menjadi jelas bahwa ini mewakili keadaannya sebelum menghadapi penghakiman. Keadaannya yang jatuh dan mengalami kemerosotan moral inilah yang menarik berbagai roh jahat dan setan. Masuknya roh-roh jahat ini tampaknya mempercepat kerusakan moralnya, yang pada akhirnya berpuncak pada penghakimannya. Tak ada seorang pun yang tahu seberapa jauhnya kita dari akhir zaman. Siapa pun yang mengaku mengetahuinya, telah ditipu dan hendaknya jangan didengarkan. Oleh karena itu kita dapat berasumsi bahwa, meskipun Babel pada akhirnya akan mencapai puncak tertinggi dalam hal pemuasan diri sendiri, seks yang tak terkendali, dan kekerasan, mungkin dia belum sampai pada puncak ketinggian (atau kedalaman) yang maksimal.

Memang, saat ini tidak ada tempat di bumi yang benar-benar memenuhi gambaran ini. Oleh karena itu, ketika kita berusaha mengidentifikasi Babel, kita harus mencari sebuah negara yang belum sepenuhnya sampai pada kondisi ini, tetapi yang sedang dalam proses menuju ke sana.

Ada tertulis dalam Wahyu 18:2 bahwa “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu”. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa Babel modern tidak berasal dari kondisi kemerosotan moral ini. Tampaknya dia sebelumnya berada dalam kondisi yang lebih baik tetapi kemudian menurun hingga mencapai dua kali jatuh. Oleh karena itu, dalam upaya untuk mengidentifikasi Babel saat ini, kita harus mencari “kota/bangsa” yang kaya dan memuasan diri sendiri serta sedang dalam proses yang jelas-jelas mengalami penurunan moral yang tajam.

ANGGUR PERCABULANNYA

Di tangan pelacur besar itu ada sebuah cawan emas yang penuh dengan sesuatu. Sesuatu itu adalah “kekejian dan kenajisan percabulannya” (Why. 17:4). Cawan ini berisi campuran nafsu yang tak terkendali atas kekayaan, kenyamanan, kesenangan, dan seks, termasuk penyimpangan dalam segala bentuk. Cawannya penuh, yang menunjukkan bahwa keberdosaannya yang telah mencapai puncaknya. Tetapi apakah dia menyesal? Apakah dia mencari pengampunan dan pembebasan dari situasinya yang rusak? Tidak! Sebaliknya dia sibuk berusaha merayu orang lain untuk minum dari cawan yang sama.

Dengan menggunakan semua kekuatannya, dia membujuk orang lain untuk masuk dalam kondisi memalukan yang sama seperti dirinya. Dan dia berhasil! Alkitab mengatakan bahwa “penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya” (Why. 17:2).

Dia bukan hanya “memerintah dan memanipulasi negara-negara lain agar menuruti kehendaknya, tetapi dia juga menggunakan keunggulannya untuk menyebarkan cara hidupnya yang mewah dan tak bermoral kepada seluruh dunia.

Tetapi bagaimana dia mencapainya? Itu tidak ditulis dalam tulisan suci, tetapi mungkin kita dapat sedikit berspekulasi. Bisa jadi melalui media seperti produser film, penerbit majalah, dan industri musik, Babel secara terbuka memperlihatkan cara-caranya yang kotor dan memikat orang lain untuk bertindak seperti dia.

Bisa jadi film dan acara televisi yang diproduksinya penuh dengan segala macam lelucon kotor, amoralitas seksual, ketelanjangan yang makin meningkat, dan penekanan pada penyimpangan.

Mungkin saja para penghibur dan penyanyi Babel memuliakan, melalui bentuk seni mereka, segala macam nafsu setan, kenajisan seksual, dan pemberontakan melawan hukum-hukum Allah. Bisa dibayangkan bahwa bukannya merasa malu, dia memuliakan amoralitas dan nafsu demi kesenangan yang tak terkendali dalam upaya menarik orang lain ke dalamnya.

Sayangnya, dia berhasil. Di seluruh dunia, orang-orang minum anggur ini. Mereka mendengar, membaca, dan melihat dari berbagai sumber tentang perilaku memalukan si pelacur. Bukannya merasa ngeri, dengan ceroboh mereka mengejarnya.

Ya, semua bangsa benar-benar mabuk dengan anggur percabulannya. Semua berupaya untuk menjadi seperti dia. Saat ini, ada satu tempat di dunia yang membuat semua bangsa iri dan semua berambisi untuk menirunya. Ketika mengidentifikasi tempat ini, maka kita juga mengidentifikasi Babel.

Hampir setiap negara di dunia ini, orang-orang terpikat oleh gagasan untuk mencapai tingkat kemakmuran dan kesuksesan yang sama dengan satu tempat, yang sering disebut sebagai Babel. Semua mengagumi infrastrukturnya yang terintegrasi dengan sempurna dan keefektifan masyarakatnya. Ada keinginan kuat untuk mencapai standar hidup yang sama, ditambah dengan rasa iri atas keamanan dan kesejahteraan yang ditunjukkannya.

Semua kemewahan, kemudahan, kekayaan, dan ya, amoralitas tampaknya sangat menarik bagi rata-rata penghuni dunia ini. Mereka meminum dalam-dalam sambil membayangkan menjadi seperti dia. Tak diragukan lagi, beberapa bangsa iri dan berpura-pura memandangnya rendah, tetapi jauh di lubuk hati semua berharap memiliki apa yang dimiliki Babel. Semua ingin menjadi kaya, kuat, nyaman, dan berdosa seperti si pelacur.

Dengan cara inilah Babel melahirkan anak perempuan. Dia mereproduksi dirinya sendiri di seluruh dunia. Jadi, dia dikenal sebagai “[...] ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi” (Why. 17:5). Itu adalah nama yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia berupaya sekuat tenaga membawa sebanyak mungkin orang untuk turun ke levelnya, minum dan berkubang dalam pemuasan diri sendiri dan kekotoran bersamanya. Apakah Anda tahu tempat seperti itu?

Mungkin dalam perjalanan atau melalui interaksi dengan negara lain, Anda telah melihat kemabukan bangsa-bangsa lain yang mirip seperti Babel. Atau, bahkan mungkin terbukti dari berita yang Anda dengar dan sumber informasi lain yang Anda akses.

Ketika sejenak merenungkan hal ini, jelaslah bahwa di era saat ini ada hanya satu tempat yang ingin ditiru oleh semua negara lain atau ke mana orang ingin pindah, yaitu Amerika Serikat. Meskipun banyak yang membencinya, tetapi jauh di lubuk hatinya, banyak yang memiliki kerinduan untuk menyamainya. Intinya, bangsa-bangsa lain benar-benar mabuk dengan anggur percabulannya.

Akhir bab 4

Baca bab-bab lain secara online:

Bagian I - Babel

Bab 1: SI PELACUR

Bab 2: BABEL

Bab 3: DARAH PARA MARTIR

Bab 4: BABEL SAAT INI (Bab saat ini)

Bab 5: KEHANCURAN BABEL

Bab 6: UMAT-KU PERGILAH DARI PADANYA

Bab 7: GEREJA KATOLIK ROMA

Bagian II - Antikristus

Bab 1, BAGIAN I: DOMBA DAN KAMBING

Bab 1, BAGIAN II: "NUBUAT SEJARAH"

Bab 1, BAGIAN III: EMPAT BINATANG BUAS

Bab 1, BAGIAN IV: GAMBARAN NEBUKADNEZAR

Bab 2: ANTIKRISTUS

Bab 3: SATU PEMERINTAHAN DUNIA

Bab 4: JADWAL TUHAN

Bab 5: BABEL

Bab 6: PERANG MELAWAN ORANG-ORANG KUDUS

Bab 7: TANDA BINATANG BUAS

Bab 8: PENGANIAYAAN

Bab 9: TANDA-TANDA PENTING

Bab 10: LAYAK UNTUK MELARIKAN DIRI

Bagian III - Tanda Akhir Zaman

Bab 1: DUA SAKSI

Bab 2: EMPAT METERAI

Bab 3: SANG ANAK LAKI-LAKI

Bab 4: KEMURTADAN BESAR

Bab 5: KEHANCURAN TIBA-TIBA