PENERBIT PELAYANAN SEBUTIR GANDUM
Oleh David W. Dyer
Diterjemahkan oleh Mevi Eunice
5. KEPALA DARI SETIAP MANUSIA
Banyak orang Kristen menikmati membaca Alkitab untuk menemukan apa yang telah dan akan dilakukan Tuhan bagi mereka. Mereka mencari kekayaan dari Tuhan yang tersedia bagi mereka melalui iman. Ini adalah pengejaran yang luar biasa. Waktu yang dihabiskan dalam hadirat Tuhan untuk merenungkan Firman akan memberi makan kita secara rohani, menyebabkan kita bertumbuh.
Seiring dengan pertumbuhan kita, mulai terbentuk dalam diri kita kesadaran bahwa alam semesta bukan berpusat pada manusia. Seorang Kristen yang dewasa mulai memahami bahwa dia diciptakan untuk Allah dan bahwa Allah tidak hanya ada untuk kepentingannya.
Mungkin lebih mendalam dari pada mempelajari apa yang Allah dapat dan akan lakukan bagi kita adalah merenungkan mengapa Ia menciptakan kita pada mulanya. Mungkin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk lebih memahami tentang tujuan ilahi-Nya mengenai umat manusia.
Sebagai contoh, pewahyuan yang lebih dalam tentang tujuan Allah menciptakan makhluk seperti manusia dapat sangat membantu kita memahami pekerjaan yang sedang Ia lakukan dalam diri kita dan melalui kita. Mengetahui mengapa kita diciptakan pasti akan membantu kita dalam memahami kehendak Tuhan untuk hidup kita. Demikian pula, dengan pengetahuan ini kita dapat lebih mudah melewati kesukaran dan cobaan yang digunakan oleh-Nya untuk menyelesaikan tujuan ilahi-Nya. Dengan pemikiran ini, mari kita tinjau beberapa bagian dari Alkitab bersama-sama.
Ketika Tuhan menciptakan manusia dalam kitab Kejadian, Ia menyatakan bahwa mereka berkuasa (Kej. 1:26). Ucapan ini mengungkapkan sesuatu yang penting. Sang Pencipta membentuk kita menurut gambar dan rupa-Nya agar menjadi penguasa- untuk memerintah atas bumi. Sebagian dari maksud-Nya adalah agar manusia tidak sekadar menjadi hamba-Nya, melainkan juga memegang peran sebagai raja yang berkuasa atas dunia yang baru diciptakan.
Dalam bagian lain, pemazmur Daud - yang jelas sedang merenungkan kebenaran ini - berseru: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun, Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan serta hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu [?]" (Mzm. 8:5-7).
Ketika seseorang dimahkotai, ini berbicara tentang kebangsawanan dan kerajaan. Ini berbicara tentang otoritas dan pemerintahan. Dan siapa yang telah melakukan ini kepada manusia? Adalah Tuhan sendiri yang telah menempatkan manusia dalam posisi ini, berkuasa atas ciptaan-Nya! Ini bukan sebuah perhitungan yang remeh. Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia, memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, dan kemudian menetapkannya untuk berkuasa atas dunia.
Tidak hanya rencana ini terungkap dalam Perjanjian Lama, tetapi juga dalam Perjanjian Baru kita menemukan bahwa ini adalah salah satu rencana Allah yang lebih mendalam. Kita harus menjadi, melalui pekerjaan Kristus, "suatu kerajaan [?] imam-imam bagi Allah" (Why. 1:6). Kita harus "memerintah sebagai raja di bumi" (Why. 5:10). Kita harus "hidup dan berkuasa" melalui Yesus Kristus (Rm. 5:17). Ayat-ayat ini menunjukkan tanpa keraguan bahwa Tuhan memang memiliki tujuan yang luar biasa ini bagi manusia. Sejak semula, ketika Bapa menciptakan kita, yang ada di dalam hati-Nya adalah agar kita memerintah atas ciptaan-Nya.
Kita semua tahu bahwa Tuhan adalah Penguasa tertinggi alam semesta. Ia tetap duduk di takhta surga, dan kedudukan itu tidak akan Ia lepaskan. Namun, bagaimana kita memahami kenyataan bahwa Ia membentuk makhluk lain yang serupa dengan diri-Nya - menurut gambar dan rupa-Nya - dan menempatkannya sebagai raja?
Jelaslah bahwa hal ini bukan terjadi karena Allah Yang Kekal sudah menua dan siap pensiun sehingga Ia perlu menciptakan pengganti. Tidak, Tuhan kita sama sekali tidak berniat melepaskan kendali atas alam semesta. Ia tidak akan menyerahkan segalanya kepada kita.
ALLAH YANG MENYEMBUNYIKAN DIRI
Salah satu kunci untuk memahami misteri ini terletak pada kenyataan bahwa Allah kita adalah Allah yang menyembunyikan diri. Nabi Yesaya bersaksi: "Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri [?]" (Yes. 45:15). Inilah bagian dari sifat ilahi-Nya. Sang Pencipta tidak bertindak dengan cara yang mencolok atau penuh pertunjukan, melainkan dengan sengaja tetap tersembunyi. (Omong-omong, bagaimana kebenaran ini mencerminkan pekerjaan yang engkau lakukan dalam nama-Nya?)
Bahkan ciptaan yang ada adalah contoh dari pekerjaan-Nya yang tersembunyi. Meskipun ciptaan menyatakan-Nya, hanya mereka yang benar-benar terbuka kepada-Nya yang dapat melihatnya. Selanjutnya, pekerjaan agung yang sedang dilakukan-Nya saat ini dalam anak-anak-Nya adalah sesuatu yang tersembunyi.
Allah yang tak terlihat, pencipta alam semesta, telah memilih untuk tetap berada di kejauhan dan menyatakan Diri-Nya melalui makhluk yang Ia ciptakan - yaitu manusia. Tuhan yang sama menyatakan Diri-Nya dalam Yesus Kristus dua ribu tahun yang lalu.
Hari ini, Ia rindu dinyatakan melalui banyak anak-Nya dengan cara yang lebih besar. Ia menyatakan Diri-Nya kepada kita sehingga Ia dapat dinyatakan melalui kita kepada dunia dan bahkan kepada seluruh alam semesta. Di masa yang akan datang, ini juga akan menjadi benar. Orang-orang percaya yang setia kepada-Nya akan dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat dan ditetapkan untuk berkuasa atas ciptaan Allah.
Jadi, kita melihat bahwa tujuan Allah kita adalah-dan memang sejak semula demikian-untuk tetap tersembunyi, sambil memerintah melalui wakil yang telah Ia ciptakan. Manusia, yang dipenuhi oleh Allah dan hidup di bawah kendali-Nya, dipanggil untuk memanifestasikan otoritas-Nya atas bumi.
Ini tidak boleh menjadi otoritas milik mereka sendiri. Mereka tidak seharusnya memilih dan bertindak sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Sebaliknya, mereka seharusnya bertindak karena Roh Allah yang menjalankan otoritas-Nya. Ia yang ada di dalam mereka akan memerintah melalui mereka. Mereka harus menjadi manifestasi dari sifat maupun otoritas-Nya.
Pemahaman bahwa Tuhan bermaksud untuk memerintah dan berkuasa melalui manusia sangat sesuai dengan apa yang telah kita lihat dalam bab-bab sebelumnya. Peran manusia dalam rencana ilahi adalah untuk menjadi bejana, saluran di mana otoritas Allah mengalir.
Tidak ada manusia yang pernah menjadi otoritas itu sendiri tetapi hanya sebuah saluran di mana otoritas supernatural disalurkan. Kita sekarang berada dalam masa persiapan dan pelatihan. Suatu hari nanti, anak-anak Allah ini akan dinyatakan (Rm. 8:19).
Puji Tuhan untuk rancangan-Nya yang luar biasa!
APAKAH KITA BENAR-BENAR TUNDUK?
Dalam bab-bab sebelumnya, kita telah membahas bagaimana Allah memakai manusia sebagai bejana otoritas-Nya. Kehendak-Nya sering kali dinyatakan melalui orang-orang yang dekat dan terbuka dengan Ia. Pria dan wanita ini kemudian menjadi saluran bagi otoritas ilahi dan melayani sebagai pemimpin di antara jemaat. Melalui pemimpin-pemimpin seperti itu, umat Allah dapat diarahkan oleh Yang Maha Tinggi dan bergerak selaras dengan-Nya untuk memenuhi rencana-Nya.
Namun, rencana yang luar biasa ini hanya dapat berjalan dengan satu syarat. Untuk menerima otoritas rohani yang sejati mengalir melalui orang lain, kita semua harus benar-benar tunduk kepada Allah. Ia harus menjadi "kepala" kita.
Ketika lutut kita telah ditekuk dan kehendak kita tunduk sehingga kita benar-benar bersedia menaati Allah dalam situasi apapun, kita akan dapat mendengar suara-Nya berbicara kepada kita secara pribadi atau melalui orang lain.
Di sisi lain, jika kita secara diam-diam menolak arahan Tuhan (terutama jika itu bertentangan dengan keinginan kita sendiri) atau kita tidak sungguh-sungguh ingin mengetahui kehendak Allah, segala bentuk pelaksanaan otoritas rohani akan sia-sia. Ketika orang-orang tidak dapat atau tidak mau menundukkan diri mereka kepada Allah dan mendengarkan Ia secara pribadi, pastilah mereka juga tidak akan menundukkan diri mereka kepada orang lain yang berbicara kepada mereka dengan otoritas rohani.
Hal ini khususnya benar jika kita adalah salah satu dari banyak saudara-saudari yang tidak bisa mendengarkan orang lain. Ada banyak pria Kristen saat ini yang masuk dalam kategori ini. Mereka sederhananya tidak dapat cukup rendah hati untuk menerima apapun melalui orang lain. Ini adalah penghinaan bagi keangkuhan mereka. Mereka membayangkan bahwa Allah akan berbicara tentang segala sesuatu secara langsung kepada mereka "melalui Roh", tanpa perlu menggunakan orang lain.
Oleh karena itu, gagasan tentang pengajaran atau arahan dari orang lain terasa tidak menyenangkan bagi mereka. Mereka terus-menerus menolak setiap masukan yang mungkin diberikan oleh saudara seiman terhadap hidup mereka. Inilah saudara-saudara yang memberontak - yang meskipun mungkin tampak secara lahiriah seperti orang Kristen, sebenarnya tidak terbuka terhadap pimpinan Allah.
Saudara-saudari yang terkasih, hal ini bukanlah persoalan sepele. Justru, ini adalah sesuatu yang sangat penting. Mengapa Allah menetapkan otoritas pemerintahan di bumi? Karena manusia tidak mau taat langsung kepada-Nya. Mengapa Ia mengizinkan Israel memiliki seorang raja? Sebab bangsa itu tidak ingin mengikuti Dia (1Sam. 8:7).
Dan mengapa begitu banyak otoritas manusiawi dan duniawi ada di dalam gereja Allah saat ini? Sebagian besar alasannya adalah karena adanya orang-orang percaya yang keras hati dan memberontak, yang menolak untuk tunduk kepada otoritas rohani yang sejati. Akibatnya, otoritas manusia sering digunakan oleh mereka yang sedang berusaha membangun rumah Allah. Mereka mencoba memaksa orang lain untuk melakukan apa yang menurut mereka adalah kehendak Allah.
Ketika kita menolak Allah yang berbicara dalam hati kita, pilihan yang tampaknya muncul adalah semacam kontrol yang dari luar. Jika kita tidak responsif terhadap Roh-Nya, maka beberapa orang membayangkan bahwa kita dapat ditundukkan oleh hukum-Nya. Sayangnya, ini tidak akan pernah berhasil. Ini adalah kebenaran penting. Jika kita semua tidak sampai pada suatu tempat di mana seluruh keberadaan kita benar-benar diserahkan kepada Allah, kita tidak akan benar-benar peka terhadap setiap keinginan Tuhan dan tidak dapat melihat otoritas-Nya yang mengalir melalui orang lain.
Tanpa hal yang hakiki ini, kita hanya akan dipimpin oleh peraturan-peraturan lahiriah, "prinsip-prinsip Perjanjian Baru", pedoman-pedoman rohani, dan para pemimpin duniawi. Dengan cara seperti ini, mungkin saja kita membentuk sebuah kelompok atau gereja yang tampaknya teratur dan disiplin, namun akan kehilangan unsur yang paling penting - ketaatan sejati yang lahir dari hati kepada Tuhan.
TUHAN ATAS SEGALANYA
Saat membawa orang kepada Tuhan, atau ketika kita sendiri datang kepada Kristus, ada satu kebenaran yang sering diabaikan dan harus kita tegaskan. Ketika kita menerima Yesus Kristus, kita harus menerima-Nya sebagaimana adanya. Namun, siapakah Ia? Ia adalah TUHAN. Ia adalah "kepala tubuh". Ia bukan hanya Juruselamat, tetapi juga Sang Tuan.
Singkatnya, Ia adalah otoritas mutlak di alam semesta. Oleh karena itu, jika kita dalam tindakan apa pun tidak bersedia menundukkan setiap aspek keberadaan kita kepada kendali-Nya, kita hanya bermain-main dengan Allah. Kita adalah orang munafik. Kita memuliakan Ia dengan kata-kata kita, tetapi hati kita sebenarnya bukan milik-Nya.
Ketika kita berbicara tentang penundukan diri kepada Yesus, maksudnya adalah bahwa Ia harus diizinkan untuk mengendalikan tindakan, perkataan, pikiran, perasaan, pendapat, keinginan, serta setiap aspek lain dalam hidup kita. Ini bukan berarti kita sesekali melakukan beberapa hal yang tertulis dalam Alkitab, atau menghindari beberapa hal yang dianggap "melanggar aturan". Bukan penundukan diri yang dangkal seperti itu yang dimaksud.
Setiap orang Kristen, pada akhirnya, harus sampai pada titik di mana mereka mengambil keputusan untuk membuka setiap sudut hati mereka bagi Yesus dan menyerahkan kendali sepenuhnya kepada-Nya. Ini bukanlah sebuah pilihan - ini adalah bagian yang mutlak dari kekristenan yang sejati. Selama hal ini belum terjadi, kita sebenarnya tidak sedang bertumbuh secara rohani. Allah tidak akan pernah bekerja di dalam diri kita dengan memaksa kehendak kita. Karena itu, setiap bentuk penolakan terhadap otoritas-Nya akan menjadi penghalang bagi kemajuan rohani kita.
Pertumbuhan rohani tidak mungkin terjadi pada seorang percaya yang menolak tunduk. Saya pribadi mengenal seseorang (bukan diri saya sendiri) yang telah dilahirkan kembali, namun tidak pernah sungguh-sungguh membuka hatinya bagi kendali dan pemeriksaan Allah. Selama lebih dari tiga puluh tahun, pergumulan itu terus berlangsung. Tiga puluh tahun lamanya Allah memanggil, tetapi anak-Nya yang terkasih ini menolak untuk menyerahkan keterbukaan penuh kepada Roh-Nya. Lalu tibalah suatu hari, secara ajaib, Yesus mulai menaklukkan anak-Nya ini. Perlawanan itu perlahan runtuh, dan sebuah keterbukaan baru terhadap Tuhan mulai tampak. Pintu-pintu hati terbuka, tembok-tembok runtuh, dan Yesus Kristus diterima sepenuhnya sebagai Tuhan.
Sungguh perubahan yang luar biasa terjadi! Betapa menakjubkan pertumbuhan rohani yang baru itu muncul! Penyerahan diri yang penuh dan total kepada Allah membuka sebuah babak baru dalam hidup orang ini. Ada aliran baru dari Kehidupan ilahi yang masuk. Kemajuan rohani yang sejati pun mulai terjadi. Haleluya! Tidak pernah ada kata terlambat untuk benar-benar membuka hidup kita bagi Yesus dan membiarkan Ia memegang kendali sepenuhnya. Inilah awal dari kekristenan yang sejati.
Omong-omong, jika Anda tidak sedang bertumbuh secara rohani atau tahun demi tahun ditimpa oleh masalah, dosa, dan kelemahan yang sama mungkin ini penyebabnya. Anda belum membuka diri Anda sepenuhnya kepada Allah. Anda secara diam-diam menentang dan menolak untuk mengizinkan Ia mengakses setiap bagian dari hati dan hidup Anda. Anda tidak bersedia aspek-aspek tertentu dari sifat atau masa lalu Anda dibuka dan dipulihkan.
Jawabannya, tentu saja, adalah melakukannya hari ini juga - dengan jujur, tulus, dan melalui iman. Jadikan seluruh keberadaanmu sebagai persembahan yang hidup. Serahkan dirimu tanpa syarat kepada-Nya dan tundukkanlah dirimu sepenuhnya di bawah kendali-Nya. Sebab Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang datang kepada-Nya (Ibr. 7:25).
Yesus harus menjadi kepala kita, bukan hanya secara teoritis, tetapi juga dalam pengalaman nyata. Alkitab mengajarkan bahwa "kami memiliki pikiran Kristus." (1Kor. 2:16). Ini adalah ajaran yang luar biasa. Sayangnya, bagi banyak orang ini tidak lebih dari itu. Dalam kehidupan sehari-hari mereka, pikiran mereka penuh dengan pemikiran mereka sendiri dengan mungkin sesekali menyisipkan kehendak Allah ke dalam proses tersebut.
Namun, ajaran yang luar biasa ini dimaksudkan untuk menjadi pengalaman kita. Orang percaya sebenarnya dapat merasakan Roh Allah mengendalikan proses berpikir mereka. Pemikiran dan pendapat mereka dapat menjadi milik Yesus dengan menyerahkan pikiran mereka untuk dikendalikan oleh-Nya.
Kekristenan yang sesungguhnya adalah ketika Yesus sendiri sepenuhnya mengendalikan hidup kita. Selain itu hanyalah gadungan. Keinginan Allah untuk memerintah dan berkuasa melalui kita hanya dapat diwujudkan ketika kita tunduk kepada otoritas-Nya. Rencana-Nya hanya akan terwujud dalam diri kita saat kita menyerahkan setiap area hidup kita - tubuh, jiwa, dan roh - kepada-Nya.
TUHAN ATAS SEGALA
Ketika membawa orang kepada Tuhan atau datang kepada Kristus sendiri, kita harus mengakui sebuah kebenaran yang sering diabaikan. Ketika kita menerima Yesus Kristus, kita harus menerima Ia apa adanya. Dan siapakah Ia? Ia adalah TUHAN. Ia adalah "kepala tubuh". Ia bukan hanya Juruselamat tetapi juga Tuan.
Singkatnya, Ia adalah otoritas mutlak di alam semesta. Oleh karena itu, jika kita dalam ukuran apa pun tidak bersedia menyerahkan setiap aspek keberadaan kita kepada kendali-Nya, kita hanya bermain-main dengan Allah. Kita adalah orang munafik. Kita memuliakan Ia dengan kata-kata kita, tetapi hati kita sebenarnya bukan milik-Nya.
Dalam berbicara tentang penyerahan kepada Yesus, maksudnya adalah ini: Ia harus diizinkan untuk mengendalikan tindakan, kata-kata, pikiran, perasaan, pendapat, keinginan, dan setiap aspek lain dari kehidupan kita. Ini tidak berarti bahwa kita sesekali melakukan beberapa hal yang dikatakan Alkitab atau bahwa kita tidak melakukan beberapa hal yang "melanggar aturan".
Penyerahan yang semu seperti itu bukan yang dimaksud.
Setiap Kristen harus, cepat atau lambat, sampai pada titik di mana mereka membuat keputusan untuk membuka setiap sudut hati mereka kepada Yesus dan memberikan kendali penuh atasnya kepada-Nya. Ini bukan pilihan. Ini adalah bagian penting dari Kekristenan yang sejati. Kecuali dan sampai kita melakukan ini, kita sebenarnya tidak bergerak ke mana-mana secara spiritual. Allah tidak akan pernah melakukan apa pun di dalam kita melawan kehendak kita. Akibatnya, setiap perlawanan dalam diri kita terhadap otoritas-Nya akan menghambat kemajuan spiritual kita.
Pertumbuhan spiritual tidak dapat terjadi pada orang percaya yang menolak. Saya secara pribadi mengenal seseorang (bukan saya) yang menjadi lahir baru tetapi tidak pernah benar-benar membuka hati mereka untuk kendali dan pemeriksaan Allah. Selama lebih dari tiga puluh tahun pertempuran berkecamuk. Selama tiga puluh tahun yang panjang Allah memanggil dan anak Allah yang terkasih ini menolak gagasan tentang keterbukaan penuh terhadap Roh-Nya. Lalu, secara ajaib hari itu tiba ketika Yesus mulai menaklukkan anak-Nya ini. Perlawanan mulai runtuh dan keterbukaan baru terhadap Tuhan muncul. Gerbang dibuka dan dinding runtuh untuk menyambut Tuhan Yesus Kristus sepenuhnya.
Sungguh perubahan yang terjadi! Pertumbuhan spiritual baru yang luar biasa muncul! Penyerahan penuh, total ini kepada Allah membawa babak baru dalam kehidupan individu ini. Infusi Kehidupan ilahi yang baru terjadi. Kemajuan spiritual yang sebenarnya dimulai. Haleluya! Tidak pernah terlambat untuk benar-benar membuka hidup Anda kepada Yesus dan membiarkan Ia mengambil kendali penuh. Ini adalah awal dari Kekristenan yang sebenarnya.
Omong-omong, jika Anda tidak tumbuh secara spiritual, atau Anda dihantui tahun demi tahun oleh masalah, dosa, dan kelemahan yang sama, ini mungkin alasannya. Anda belum membuka diri Anda sepenuhnya kepada Allah. Anda secara diam-diam menentang dan menolak untuk membiarkan-Nya mengakses setiap bagian dari hati dan hidup Anda. Anda tidak bersedia untuk aspek-aspek tertentu dari sifat atau masa lalu Anda terbuka dan diobati.
Jawabannya, tentu saja, adalah melakukannya hari ini, dengan jujur dan tulus dengan iman. Jadikan seluruh keberadaan Anda sebagai korban hidup. Serahkan diri Anda tanpa cadangan kepada-Nya dan tundukkan diri Anda sepenuhnya kepada kendali-Nya. Ia mampu menyelamatkan sepenuhnya mereka yang datang kepada-Nya (Ibr. 7:25).
Yesus harus menjadi kepala kita, bukan hanya secara teoritis, tetapi juga dalam pengalaman nyata. Alkitab mengajarkan bahwa "kita memiliki pikiran Kristus" (1Kor. 2:16). Ini adalah ajaran yang indah. Sayangnya, bagi banyak orang ini tidak lebih dari itu. Dalam kehidupan sehari-hari mereka, pikiran mereka penuh dengan pemikiran mereka sendiri dengan mungkin sesekali penyisipan kehendak Allah ke dalam proses tersebut.
Namun, ajaran yang luar biasa ini dimaksudkan untuk menjadi pengalaman kita. Orang percaya benar-benar dapat mengalami Roh Allah mengambil kendali proses berpikir mereka. Pikiran dan pendapat mereka dapat menjadi milik Yesus melalui penyerahan kendali pikiran mereka kepada-Nya.
Kekristenan yang sebenarnya adalah ketika Yesus sendiri sepenuhnya mengendalikan hidup kita. Apa pun selain itu hanyalah tiruan. Keinginan Allah untuk memerintah dan berkuasa melalui kita hanya dapat diwujudkan ketika kita tunduk kepada otoritas-Nya. Rencana-Nya hanya akan terwujud dalam diri kita saat kita menyerahkan setiap area hidup kita - tubuh, jiwa, dan roh - kepada-Nya.
TUDUNG KEPALA
Dalam 1 Korintus 11, kita menemukan suatu topik yang telah menjadi sangat kontroversial di beberapa kalangan Kristen - tudung kepala. Di sini Paulus sedang mengajarkan tentang penggunaan kerudung, topi, atau bentuk tudung lainnya bagi wanita dalam pertemuan-pertemuan gereja.
Berdasarkan penafsiran mereka terhadap bagian ini, sebagian orang meyakini bahwa perempuan harus mengenakan penutup kepala secara fisik dalam pertemuan umum. Yang lain berpendapat bahwa rambut panjang seorang perempuan adalah "penutup" yang dimaksud oleh Paulus. Ada juga yang beranggapan bahwa nasihat ini muncul dari budaya kuno dan tidak lagi relevan dalam masyarakat kita sekarang. Beragam pandangan ini, beserta banyak pendapat lainnya, telah menimbulkan perdebatan yang tidak kecil dalam jemaat Allah.
Meskipun banyak orang memiliki pandangan yang beragam, saya percaya bahwa sebagian besar akan sepakat pada satu hal penting: Paulus sedang mengajarkan tentang perlunya seorang perempuan memiliki sikap tunduk kepada suaminya, atau jika tidak bersuami, kepada ayahnya, pemimpin rohani, atau pria lain yang dipakai Allah untuk menyatakan otoritas-Nya. Penutup kepala secara fisik - apakah kita menganggapnya wajib atau tidak - hanyalah simbol dari sikap hati yang tunduk di dalam batin.
Tentunya semua akan sepakat bahwa penutup apa pun - baik itu rambut maupun topi - yang tidak disertai dengan sikap hati yang tunduk, hanyalah perhiasan semata, atau bahkan bisa menjadi kemunafikan. Maka, inti dari pengajaran ini adalah bahwa "penutup" merupakan tanda lahiriah dari posisi hati yang tunduk di hadapan Allah.
Ini adalah tanda atau simbol dari fakta bahwa wanita telah memutuskan untuk menundukkan dirinya kepada seorang pria dan bahwa pria ini adalah "kepalanya". Ia menutupi kepalanya sendiri, baik dengan rambut, kerudung, atau hanya dengan sikap yang hormat dan tunduk untuk menandakan bahwa ada "kepala" lain yang diakui sebagai yang tertinggi.
MENGHINA KRISTUS
Dengan pemikiran ini, mari kita telusuri bagian lain dari bagian ini bersama-sama. Paulus mengajarkan bahwa "kepala setiap laki-laki adalah Kristus" (ayat 3). Selanjutnya, dia menyatakan bahwa bagi seorang laki-laki untuk berdoa atau bernubuat dengan kepalanya bertudung menghina Kepala sejatinya. Ketika seorang laki-laki menggunakan "tudung", dia tidak menghina Yesus Kristus (ayat 4). Meskipun bukan hal yang umum di dunia saat ini menemukan laki-laki memakai topi dalam pertemuan gereja, saya percaya, ada pelajaran yang lebih dalam dan lebih serius yang dapat dipelajari dari ayat-ayat ini.
Kami telah menyimpulkan bahwa esensi dari pengajaran "tudung kepala" adalah sikap hati. Ini adalah keputusan batin untuk menempatkan diri dalam posisi tunduk kepada seorang laki-laki. Oleh karena itu, jika seorang laki-laki menempatkan dirinya dalam posisi ini, dia sedang bertindak seperti seorang wanita. Dia sedang berperilaku dengan cara yang menunjukkan bahwa dia telah mengambil laki-laki lain untuk menjadi kepalanya. Ia sedang memilih untuk menundukkan dirinya di bawah otoritas manusia.
Posisi ini, saudara-saudaraku yang terkasih, jelas bertentangan dengan Alkitab. Menurut pengajaran Paulus, tindakan ini tidak menghormati Kristus. Ini adalah penghinaan bagi Ia dan kepemimpinan-Nya atas setiap laki-laki. Ketika seorang laki-laki menjadikan laki-laki lain sebagai kepalanya, dia sedang mendeklarasikan bahwa kepemimpinan Yesus tidak memadai. Dia sedang meletakkan kepercayaannya pada seorang pemimpin manusia, dengan demikian menunjukkan bahwa dia tidak memiliki kepercayaan penuh pada Kepala ilahi yang tak terlihat.
Betapa memalukannya hal ini bagi Yesus! Ketika laki-laki, yang satu-satunya kepala sejatinya adalah Kristus, mulai bertindak seperti wanita dan menempatkan diri mereka di bawah otoritas pria lain, ini adalah penghinaan terburuk terhadap Allah.
Jika, misalnya, seorang wanita akan menundukkan dirinya kepada laki-laki lain selain suaminya, mengambil posisi penyerahan penuh sesuai keinginannya, ini akan menjadi jenis pelanggaran terburuk terhadap suaminya. Ini adalah pernyataan bahwa suaminya tidak cukup atau tidak cukup jantan, tidak memuaskan dia, dan tidak layak mendapatkan kepercayaannya.
Dengan cara yang sama, ketika laki-laki yang seharusnya menundukkan diri kepada Yesus menundukkan hati dan hidup mereka di hadapan laki-laki lain, itu adalah proklamasi bagi semua bahwa Tuhan mereka tidak cukup bagi mereka. Ini sungguh sedang menghina Kristus (1Kor. 11:4).
Meskipun topi laki-laki di gereja sebenarnya bukan masalah saat ini dalam budaya kita, praktik berada dalam penundukan diri kepada seorang laki-laki atau sekelompok laki-laki atau berada di bawah "tudung" dari beberapa laki-laki atau orang memang sangat umum. Pada kenyataannya, ini adalah sesuatu yang sebagian besar gereja Kristen tuntut.
Jika Anda tidak "dalam penundukan diri", mereka berkata, Anda berada di luar kehendak Allah. Jika Anda tidak "ditudungi" oleh laki-laki atau pelayanan lain, Anda pasti pemberontak dari jenis yang terburuk. Pemikiran seperti "berada di bawah", "payung", dan "mencari arahan" semuanya sangat populer di gereja saat ini. Pemikiran bahwa entah bagaimana ada semacam keselamatan dalam mengambil posisi penundukan diri ini kepada laki-laki lain cukup lazim.
Meskipun semua ini saat ini sangat populer dan mungkin memiliki aura yang "benar", mari kita berhenti dan memikirkannya secara kritis sejenak. Jika seorang wanita menggunakan tudung, dia sedang menyatakan di depan umum bahwa dia tunduk kepada seorang laki-laki. Jika, oleh karena itu, seorang laki-laki di depan umum menyatakan bahwa dia tunduk kepada laki-laki lain, dia sebenarnya sedang "menggunakan" tudung kepala. Ia sedang mengambil posisi tunduk kepada yang lain.
Oleh karena itu, apakah ada kerudung fisik atau tidak, ia mengasumsikan sikap yang tidak menghormati Kepala sejatinya, Yesus Kristus. Tentunya jelas bahwa dalam hal wanita, pakaian bukanlah inti masalah, melainkan sikap hati. Begitu juga, dalam hal laki-laki, inti ajaran Paulus bukan tentang tipe topi (sombrero atau topi baseball), melainkan posisi manusia batiniah.
Di sini, Alkitab cukup jelas. Ketika seorang pria berdoa atau bernubuat (berarti ia berfungsi dalam kapasitas tertentu dalam pertemuan gereja) dengan kepalanya bertudung, ia sedang menghina Yesus. Ia sedang merendahkan dirinya di hadapan laki-laki lain dan bukan Allah dan bergantung pada orang ini untuk mendapatkan arahan dan pengawasan.
Laki-laki ini sedang menunjukkan bahwa Yesus saja tidak cukup. Kepemimpinan dan status-Nya sebagai kepala tidak memadai dan oleh karena itu ia harus mencari manusia untuk perlindungan yang lebih memuaskan. Meskipun Yesus mungkin menjadi kepalanya dalam jarak yang jauh secara rohani, dia memilih seorang manusia yang lebih "nyata", berwujud, di mana dia bisa menundukkan diri dan mengikutinya. Jika Anda adalah Tuhan semesta alam dan anak Anda bertindak seperti ini, apakah Anda akan merasa tidak dihormati? Yesus merasa demikian. Alkitab dengan jelas memberitahu kita demikian.
Menariknya, dalam 1 Korintus 11:4, kata yang diterjemahkan sebagai "bertudung" dalam frasa "dengan kepala yang bertudung", sebenarnya berarti dalam bahasa Yunani "ke bawah". Maka ini akan berbunyi "dengan kepala ke bawah (atau tunduk)". Dalam banyak budaya, menundukkan kepala Anda kepada seseorang adalah tanda penghormatan. Ini adalah tanda bahwa Anda mengakui keunggulan orang lain.
Oleh karena itu, jelas bahwa Paulus sedang berbicara tentang lebih dari sekadar topi, tetapi tentang sikap hati seorang laki-laki ketika dia sedang berbicara dalam perkumpulan. Ia tidak boleh melakukan ini dari posisi penundukan diri kepada laki-laki lainnya, melainkan hanya kepada Kristus. Ia tidak boleh menundukkan kepalanya mengakui "keunggulan" manusia lainnya.
Mengapa ini begitu penting? Ada beberapa alasan yang sangat jelas. Yang pertama adalah bahwa Allah menciptakan manusia untuk memenuhi sebuah rencana yang luar biasa. Jika manusia akan menjadi wakil Allah, Ia harus berkomunikasi dan berhubungan intim setiap hari dengan-Nya. Ketika kepala atau "tudung" lain ditempatkan di antara pria Kristen dan Yesus, ini menghalangi aliran otoritas yang tepat. Tidak ada manusia yang dapat sepenuhnya menyalurkan kepada orang lain semua yang Allah ingin katakan dan lakukan.
Karena semua manusia terbatas, pemahaman kita akan kehendak Allah juga akan dibatasi sesuai dengan penundukan diri kepada manusia. Mustahil bagi seorang laki-laki atau bahkan sekelompok laki-laki untuk datang mendekat untuk menyatakan kehendak Allah kepada orang lain secara lengkap. Ketika seorang laki-laki menempatkan dirinya "di bawah" otoritas manusia, ini sangat mengganggu aliran otoritas dari Kepala ke dalam dan melalui hidupnya.
Alasan kedua bahwa pria-pria Allah tidak boleh menempatkan diri mereka "di bawah" orang lain adalah bahwa kita tidak dapat membuat perhatian kita terfokus dalam dua arah sekaligus. Tidak ada manusia yang dapat melayani dua tuan. Allah telah merancang manusia sehingga dia hanya dapat memberikan kesetiaannya kepada satu yang utama pada satu waktu. Ini adalah kebenaran yang tidak dapat diubah.
Ketika kita berpaling untuk mencari arahan dari manusia, kita secara otomatis mengalihkan perhatian kita dari Yesus. Dengan melakukan hal ini, kita membawa diri kita di bawah kutukan Allah. Ia berkata, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang bersandar pada kekuatan manusia fana, dan yang hatinya menjauh dari TUHAN!" (Yer. 17:5).
Anda lihat, mempercayai manusia dan menjauh dari Allah terkait erat. Tidak mungkin kita bisa mencari seorang pemimpin dan tidak mengalihkan pandangan kita dari Tuhan kita. Dapatkah ini menjadi alasan Yesus mengajarkan kita untuk tidak memanggil seorang pun "bapa", "guru", "pembimbing rohani" atau "pemimpin" (Mat. 23:8-10)?
Ketika kita mencoba membagi perhatian kita, arah yang paling mudah biasanya akan menang. Tidak diragukan lagi bahwa pemimpin manusia yang berwujud fisik lebih mudah diikuti daripada Tuhan yang tidak terlihat. Kecenderungan alami manusia adalah menginginkan seseorang memimpinnya.
Ini persis situasi yang dihadapi Samuel dengan bani Israel. Mereka datang kepadanya dengan menginginkan seorang raja.
Akibatnya, dia menjadi sangat kesal. Ia sia-sia mencoba menjelaskan kepada mereka rencana Allah. Yang Maha Tinggi sudah menjadi raja mereka. Mereka tidak memerlukan raja manusia. Meskipun pemimpin mereka tidak terlihat, Ia sangat nyata.
Namun, Israel menolak nasihat Samuel dan menuntut seorang pemimpin untuk memerintah atas mereka. Allah memenuhi keinginan mereka, tetapi itu bukan kehendak-Nya. Demikian pula saat ini, Allah mentolerir sistem-sistem duniawi kita dan bahkan menggunakannya untuk melanjutkan tujuan-Nya, tetapi itu bukan rancangan-Nya.
LATIHAN SIA-SIA
Alasan ketiga menempatkan diri kita "di bawah" orang lain untuk membantu kehidupan rohani kita adalah keliru karena hal itu tidak akan berhasil. Tidak ada yang melihat dengan jelas kedalaman jiwa kita selain Allah kita. Manusia dapat mengamati tindakan dan kata-kata lahiriah kita. Terkadang mereka bahkan memiliki sekilas pandangan ke dalam hati kita. Namun, hanya Roh Tuhan yang benar-benar menyelidiki apa yang tersembunyi di dalam diri kita yang paling dalam.
Oleh karena itu, murid dari orang lain paling bagus hanya akan memiliki penanganan yang dangkal terhadap pikiran dan lubuk hatinya. Mungkin bagi seseorang untuk menjadi sangat taat kepada kehendak pengawasnya tetapi di dalam hatinya memiliki area yang sangat tersembunyi di mana ia sangat memberontak melawan Tuan sejatinya.
Selain itu, ada bahaya besar menjadi seperti orang Farisi. Di bawah bimbingan manusia, penampilan lahiriah seseorang mungkin saja dapat dirapikan atau dikendalikan. Dengan berusaha menyenangkan seorang "pemimpin" rohani, orang itu bisa saja membayangkan bahwa ia telah bertumbuh secara rohani atau semakin dekat dengan Tuhan. Ketika ia menjadi sangat patuh kepada pembimbing, ia mungkin mulai menganggap dirinya sudah matang dan siap untuk ambil bagian dalam pelayanan rohani.
Namun, jika kita tunduk kepada beberapa orang, apakah kita benar-benar lebih tunduk kepada Allah? Apakah perubahan besar telah terjadi dalam keintiman dan hubungan kita dengan Tuhan kita? Jika kita tidak benar-benar menyerahkan diri kepada Allah sebelum kita menyerahkan diri kita kepada seorang pemimpin, bagaimana sikap hati yang benar kita telah benar-benar berubah? Kita harus ingat bahwa tujuan otoritas rohani adalah untuk membawa orang-orang ke dalam ketaatan kepada Allah, bukan kepada hamba Allah atau suatu standar yang dangkal. Penyerahan semacam itu tidak akan membantu siapa pun.
Sebaliknya, bila seorang percaya sungguh-sungguh tunduk kepada Allah, ia akan dengan rela merendahkan diri kepada siapa pun yang benar-benar menyampaikan firman dari Allah. Orang Kristen seperti ini akan dengan mudah mengenali suara Sang Tuan, karena hatinya senantiasa mencari dan menantikan suara itu. Hal ini akan tampak semakin jelas ketika ia berhubungan dengan mereka yang dikenal sebagai saluran otoritas Allah.
Oleh karena itu, jika kita dapat melayani umat Kristen dengan penundukan diri yang dalam dan tulus kepada Tuhan, semua masalah dengan pemberontakan di gereja dapat diselesaikan. Bukannya menutupi masalah-masalah dengan plester sikap dan tindakan yang dangkal, pelayanan rohani dapat membantu membongkar dan menyingkirkan akar masalahnya. Betapa gereja Allah saat ini membutuhkan pelayanan seperti itu! Sungguh kita perlu menjadi benar-benar tunduk kepada Allah!
MASALAH SERIUS LAINNYA
Dengan mencoba melayani Kristus selama bertahun-tahun, saya telah memperhatikan sebuah masalah yang serius. Orangorang yang telah menundukkan diri mereka kepada kepemimpinan manusia untuk jangka waktu yang lama sebenarnya telah melihat hubungan mereka dengan Yesus hancur. Seiring berjalannya waktu, mereka sebenarnya telah kehilangan kemampuan untuk mendengar dari dan mengikuti Allah mereka. Mereka telah diajarkan untuk percaya kepada manusia dan dengan demikian telah mengalihkan hati mereka dari Kristus.
Salah satu alasan kehilangan yang menyedihkan ini adalah bahwa mereka telah belajar jika mereka menerima beberapa arahan dari Tuhan yang tidak sesuai dengan apa yang dipercayai kepemimpinan mereka, mereka akan dilabeli sebagai "pemberontak".
Mungkin mereka telah melihat orang lain ditolak, diusir atau "didisiplin" karena kejahatan rohani semacam itu.
Akibatnya, mereka mulai takut atau tidak percaya kepada hubungan mereka sendiri dengan Tuhan. Jika mereka dapat dengan sangat mudah salah, mungkin lebih baik untuk menjaga jarak dari Ia dan membiarkan orang lain yang "lebih memenuhi syarat" untuk membuat keputusan semacam itu. Hal ini kemudian mendorong orang-orang percaya seperti itu menjauhkan diri dari Penyelamat mereka dan menaruh kepercayaan mereka pada manusia.
Sebagai orang percaya, kita memiliki tanggung jawab untuk membagi firman kebenaran dengan benar. Ada sesuatu seperti penundukan rohani yang benar. Ada juga kesalahan dalam menundukkan diri kepada manusia daripada Allah. Adalah tanggung jawab kita di hadapan Tuhan untuk membedakan jalan mana yang adalah jalan-Nya.
Ya, seperti yang sudah kita pelajari, beberapa terjemahan Alkitab memang menyebut tentang mereka yang "memimpin atas" kita di dalam Tuhan. Namun, seperti yang kita lihat, ini merupakan terjemahan yang keliru dari kata Yunani proistemi yang menurut Kamus Ekspositori Vine tentang Kata-Kata Perjanjian Baru sebenarnya berarti "berdiri di depan, dan karena itu memimpin". Kata ini sama sekali tidak berkaitan dengan dominasi, pengendalian, atau berada "di atas" dalam pengertian yang umum. Terjemahan yang keliru ini telah melahirkan konsep serta praktik yang salah, yang pada akhirnya menyebabkan banyak penderitaan bagi orang Kristen sepanjang berabad-abad.
Saya juga teringat tentang perwira Romawi, "seorang bawahan" (Mat. 8:9). Dia mengenali otoritas ilahi Yesus karena dirinya sendiri memiliki otoritas dalam dunia. Namun, pernyataannya mengenai kuasa Yesus sama sekali bukanlah sebuah pengajaran tentang tata kelola jemaat! Kita pun tidak seharusnya memahaminya dengan cara demikian. Tentu saja, kita harus menghormati dan tunduk. Itulah isi dari tulisan ini. Namun, penundukan diri yang salah tidak akan membawa kita ke mana pun. Hanya penundukan diri yang tulus kepada Allah yang akan berhasil. Semoga dengan berdoa, kita mencari Allah untuk kehendak dan cara-Nya mengenai semua pertanyaan penting ini.
PENYERAHAN TANGGUNG JAWAB
Mungkin alasan lain mengapa banyak orang menganut pemikiran untuk menundukkan diri mereka kepada orang lain adalah karena hal itu melepaskan mereka dari banyak tanggung jawab. Ini adalah alasan yang sama mengapa orang Israel kuno menginginkan seorang raja. Mereka ingin orang lain yang memerangi pertempuran mereka, membuat keputusan-keputusan penting, dan menetapkan arah. Dengan cara ini, mereka bebas mengejar kepentingan mereka sendiri tanpa terhalang oleh tanggung jawab rohani. Mereka bisa duduk santai dan mengikuti arus.
Sekarang, ada daya tarik daging tertentu untuk pemikiran ini. Mempercayai seorang pemimpin yang kita hormati dan bebas dari tanggung jawab adalah apa yang diinginkan banyak orang. Namun, melakukannya berarti menyerahkan imamat dan kedudukan raja sedangkan Allah menciptakan kita untuk itu.
Dengan menerima "kepala" yang lain, kita sebenarnya menolak Dia yang sejati. Setiap kita memiliki tanggung jawab di hadapan Allah sebagai imam dan raja: untuk mencari kehendak-Nya, menjalani doa syafaat setiap hari, memelihara hubungan pribadi dengan-Nya, serta ambil bagian dalam menuntun orang lain masuk ke dalam kerajaan-Nya.
Sungguh sebuah godaan untuk membiarkan orang lain untuk bekerja keras. Betapa mudahnya hanya untuk mempercayai kemampuan orang lain. Namun, Allah sedang meminta lebih dari ini. Setiap pria harus mengenakan pakaian imam dan memikul tanggung jawab raja untuk rumah tangganya sendiri, teman-teman, dan saudara-saudara di dalam Tuhan.
Saudara-saudaraku, adalah kehendak Allah bagi kalian untuk memerintah bersama Ia. Jangan tukar hak istimewa ini dengan jalan yang luas dan mudah. Jangan biarkan orang lain mengganggu Anda dan Penyelamat Anda. "Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu." (Why. 3:11).
Akhir bab 5
Baca bab-bab lain secara online: