PENERBIT PELAYANAN SEBUTIR GANDUM
Oleh David W. Dyer
Diterjemahkan oleh Mevi Eunice
2. PEMBERONTAKAN KORAH
Bertahun-tahun yang lalu, ketika Bani Israel berkemah di padang gurun, sebuah diskusi muncul di antara mereka tentang siapa yang harus berkuasa. Musa dan saudaranya Harun telah memimpin umat Allah sampai saat itu. Musa telah datang ke Mesir, menyampaikan firman Tuhan kepada orang Israel dan kepada Firaun, dan akhirnya memimpin umat Allah keluar dari perbudakan mereka menuju tujuan Ilahi yang ditentukan bagi mereka. Ini adalah sebuah masa yang luar biasa dalam sejarah umat Allah di mana kuasa Allah dan kemenangan-Nya atas kekuatan jahat ditunjukkan secara dramatis.
Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa orang lainnya di dalam jemaat menjadi kecewa dengan pernyataan otoritas Musa dan Harun. Orang-orang lain ini (sebenarnya lebih dari 250 orang) juga adalah pemimpin dalam jemaat dan dikenal baik di antara orang banyak (Bil. 16:2). Mereka mulai bertanya-tanya mengapa Musa dan Harun menetapkan diri mereka sebagai "otoritas" dan "mengangkat diri mereka" di atas semua orang lainnya (Bil. 16:3).
Alasan mereka mungkin seperti ini: "Kita semua adalah orang percaya di sini. Allah ada di antara kita semua. Setiap orang dalam jemaat sama sucinya dengan yang lainnya. Di mata Allah kita semua sama. Siapakah mereka berdua ini? Pemahaman kita tentang kehendak Allah sama benarnya dengan mereka. Mengapa kita harus mengikuti mereka?"
Jenis pemikiran ini mudah untuk dimengerti. Sangat alami bagi kita untuk berpikir seperti ini ketika kita terus-menerus dihadapkan dengan otoritas rohani. Pada awalnya, ketika seseorang datang dengan firman dari Tuhan dan memanifestasikan pengurapan rohani adalah mudah untuk menjadi terkesan dan memperhatikan pada apa yang mereka katakan. Namun, setelah beberapa waktu, ketika Anda mengenal orang itu dan mempelajari sesuatu tentang kelemahan dan kekurangan manusiawi mereka - ketika aura pertama dari kesan rohani hilang - saat itulah pikiran seperti ini mulai muncul.
Tidak sulit bagi kita untuk bersimpati dengan orang-orang ini dan alasan-alasan mereka mulai berpikir seperti ini. Musa telah berjanji untuk membawa mereka ke sebuah tanah yang dialiri dengan susu dan madu, tetapi di sekeliling mereka hanyalah ada padang gurun. Dia telah mengatakan kepada mereka bahwa Allah ingin memberkati mereka secara berlimpah, tetapi kenyataannya Mesir lebih nyaman daripada ini. Mereka memiliki mata di kepala mereka. Mereka bisa melihat bahwa mereka tidak sedang mengambil rute yang tercepat ke tujuan mereka.
Dan Musa ini sedang melibatkan keluarga dalam segala hal dengan mengangkat sanak saudaranya sendiri menjadi imam. Hanya orang bodoh yang mau terus-menerus dituntun begitu saja oleh dua orang ini tanpa sedikit pun menyuarakan pendapatnya sendiri. Apakah Musa bermaksud untuk membuat mereka semua tetap buta sehingga dia dan saudaranya dapat terus memegang semua jabatan otoritas (Bil. 16:14)?
Ketika kita membaca lebih lanjut, kita menemukan bahwa reaksi Allah terhadap proses pemikiran ini sangat kejam - teramat kejam, bahkan, banyak orang terkejut karenanya dan menjadi marah. Para pemberontak yang tidak memenuhi panggilan Musa ke Kemah Pertemuan ditelan hidup-hidup oleh bumi. Sesuatu yang baru terjadi dan para pria ini, bersama dengan seluruh keluarga mereka, turun hidup-hidup ke dalam lubang (Bil. 16:30-33). Selanjutnya, api dari langit turun dan membakar 250 orang yang tersisa.
Kemudian, seolah-olah penghakiman yang paling menghancurkan dan luar biasa atas umat Allah ini belum cukup, sebuah wabah muncul pada mereka yang tersinggung oleh apa yang telah terjadi dan membunuh 14.700 orang lagi! Bahkan, hanya melalui intervensi Musa dan Harun, seluruh jemaat tidak musnah dalam sekejap. Betapa sebuah bencana yang tak terbayangkan besarnya telah terjadi pada mereka yang dipilih Allah untuk menjadi milik-Nya.
Mari kita berhenti sejenak dan meninjau peristiwa ini dengan cermat. Ini bukan hanya sebuah cerita sejarah kuno. Perjanjian Baru dengan jelas menjelaskan bahwa hal-hal ini ditulis untuk kepentingan kita (1Kor. 10:11). Ini adalah benar-benar sebuah pesan untuk Gereja di zaman kita di mana Allah sangat ingin kita mendengarnya. Ini adalah sebuah pengajaran teguran yang serius yang ada di hati Allah. Semoga Dia mengasihani kita agar kita akan dapat menerimanya seperti itu.
OTORITAS ROHANI SEJATI
Tentu saja, sebagian besar pembaca telah menyadari bahwa masalah sebenarnya di sini bukanlah perdebatan tentang kepribadian atau pendapat. Ini bukan suatu analisa dari siapa yang memiliki ide atau saran terbaik. Ini adalah pertanyaan tentang otoritas rohani. Ini adalah diskusi tentang siapa yang Tuhan sedang urapi dan pakai untuk memimpin umat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
Karena jelas bahwa topik ini sangat penting dan bahwa Allah telah melakukan hal-hal ekstrem untuk menunjukkan kepada kita sifat seriusnya, tampaknya baik untuk menghabiskan sedikit waktu di sini dan memeriksa kebutuhan untuk mengenali otoritas rohani yang asli dan apa seharusnya respons kita terhadapnya.
Dalam bab pertama dari buku ini tentang otoritas rohani, kita menemukan bahwa ada dua jenis otoritas di dunia saat ini. Satu jenis adalah otoritas duniawi yang disebut "otoritas yang didelegasikan" yang telah Allah bentuk untuk menjaga agar kejahatan dunia ini terkendali. Otoritas ini dijalankan oleh mereka yang memiliki gelar dan jabatan di masyarakat kita, seperti polisi, pejabat pemerintah, hakim, dan lain-lain.
Jenis otoritas lainnya adalah otoritas rohani yang kita sebut "otoritas yang diturunkan". Mereka yang memanifestasikan jenis otoritas ini hanyalah saluran di mana otoritas Allah mengalir secara langsung. Ini adalah bejana-bejana yang diserahkan yang dipakai Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Ketika otoritas seperti itu dijalankan, itu adalah sebuah pewahyuan yang sebenarnya dari Allah sendiri. Bukan orang itu sendiri yang berbicara, tetapi manifestasi dari kehendak ilahi.
Seperti yang telah kita lihat sebelumnya, Musa adalah bejana otoritas Ilahi. Dia adalah seorang pria yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan rencana dan tujuan-Nya sendiri dengan cara yang menakjubkan. Sangat sedikit orang lain dalam sejarah dunia yang memanifestasikan kekuatan dan kepemimpinan supernatural seperti itu.
Kita tahu bahwa Musa tidak memprakarsai ide dan pendapatnya sendiri. Dia tidak sedang memimpin umat Allah menurut hikmat atau arahannya sendiri. Dia hanya merupakan sebuah alat yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan kehendak-Nya kepada umat-Nya. Dia adalah sebuah saluran di mana Allah berbicara dengan jelas dan secara langsung.
Mungkin pemahaman ini akan membantu menjelaskan kehebatan reaksi Allah terhadap tantangan Korah dan kelompoknya. Mereka mengira mereka sedang tidak setuju dengan seorang manusia. Mereka membayangkan bahwa mereka sedang berurusan dengan semacam otoritas duniawi yang didelegasikan. Sebaliknya, mereka menemukan bahwa mereka menentang Allah sendiri. Meskipun otoritas Allah telah dimanifestasikan melalui bejana manusia, hal itu sama sekali tidak mengurangi kenyataan bahwa yang mereka lawan adalah TUHAN sendiri!
Musa mencoba menyelamatkan mereka dari kesalahan mereka dan menjelaskan fakta ini kepada mereka dengan mengatakan: "Sebab itu, engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan TUHAN." (Bil. 16:11), tetapi mereka menolak untuk mendengarkan. Akibatnya, mereka mendapat penghakiman yang paling cepat dan menakjubkan dari Allah sendiri. Tanpa mereka sadari, mereka telah menantang-Nya secara langsung dan Dia cepat untuk merespons.
KESALAHAN PADA SISI YANG LAIN
Dalam bab pertama, kita telah melihat bahwa menetapkan otoritas "yang didelegasikan" di gereja adalah sebuah kesalahan besar dan konsekuensinya sangat luas. Namun kini tampak jelas bahwa ada juga kesalahan yang sangat serius pada sisi yang lain.
Beberapa orang Kristen telah dicerahkan dan telah melihat melalui kemanusiaan dari banyak hal yang saat ini dianggap sebagai otoritas rohani. Mereka telah menolak kesalahan dari sistem "raja" dan segala yang menyertainya.
Namun, seperti yang telah kita lihat di awal artikel ini, ini belum cukup. Kita juga harus mampu dan bersedia mengenali dan menundukkan diri kepada otoritas rohani yang asli. Tidak cukup baik bagi setiap orang untuk melakukan apa yang benar di mata mereka sendiri (Ul. 12:8). Tidak cukup bagi kita untuk menolak otoritas manusia, tetapi gagal menundukkan diri kita kepada otoritas yang sejati. Ketika kita melakukan hal ini, kita menempatkan diri kita persis dalam posisi yang sama seperti Korah dan rombongannya: menentang otoritas Allah sendiri yang sedang dinyatakan melalui seorang manusia.
Hari ini Allah telah membatasi Diri-Nya. Dia tidak sedang mengirim email kepada umat-Nya. Tidak sering Dia berbicara dengan suara yang terdengar dari surga. Meskipun Dia benar-benar berkomunikasi dengan setiap orang percaya secara pribadi melalui Roh, ada kalanya Dia harus menggunakan bejana manusia untuk mengungkapkan kehendak-Nya. Ketika umat Allah tidak mampu atau tidak mau mendengar-Nya secara langsung, itulah saatnya Dia menggunakan salah satu dari alat-alat-Nya untuk menyampaikan firman-Nya.
Masalahnya adalah bahwa manusia yang dipakai Allah ini tetaplah manusia. Ketika Allah berbicara melalui mereka, mereka tidak tiba-tiba bertumbuh sayap, memancarkan lingkaran cahaya, atau mulai berjalan tanpa menyentuh tanah. Mereka tetap seperti apa adanya.
Pada masa kini, tampaknya Allah memang kekurangan orang Kristen yang sempurna untuk menyampaikan kehendak-Nya. Karena itu, Dia pun terpaksa menggunakan beberapa orang yang - boleh kita katakan - belum sepenuhnya dikuduskan. Mereka masih perlu makan, masih perlu tidur di malam hari, dan sayangnya, dari waktu ke waktu mereka masih akan menunjukkan bagian dari sifat mereka yang belum berubah.
Namun, ketika mereka berbicara sesuai dengan Roh Allah, pada saat itulah mereka menjadi wujud nyata dari otoritas-Nya yang hidup.
SEBUAH KESALAHAN BESAR
Adalah sebuah kesalahan besar untuk berpikir bahwa mereka yang sedang dipakai Allah untuk menyatakan otoritas-Nya akan mudah dikenali oleh manusia alami. Sebagian besar nabi tidak cukup mengesankan secara lahiriah untuk menarik pengikut yang banyak. Adalah sebuah kekeliruan besar bila kita mengira bahwa mereka yang dipakai Allah untuk menyatakan otoritas-Nya akan mudah dikenali oleh manusia secara lahiriah. Sebagian besar nabi tidak memiliki penampilan luar yang cukup menarik untuk menarik banyak pengikut. Bahkan Musa yang dipakai Allah untuk melakukan mukjizat-mukjizat luar biasa pun terus-menerus menghadapi kesulitan dengan orang-orang yang tidak mampu melihat melampaui apa yang tampak di permukaan.
Tuhan Yesus kita sendiri adalah contoh utama otoritas rohani. Namun, banyak orang-orang duniawi di sekitar-Nya yang kurang memiliki penglihatan rohani tidak dapat melihat siapa dan apa Dia. Keluarga-Nya sendiri tidak mengenali-Nya. Orangorang dari kampung halaman-Nya tidak dapat menerima pelayanan-Nya. Bahkan pemimpin-pemimpin "gereja" pada zamannya, yang seharusnya menyambut Dia, gagal memahami sumber otoritas-Nya (Mat. 21:23). Pada akhirnya, pejabat agama yang didelegasikan menentang hingga kematian manifestasi dari otoritas ini karena itu merupakan sebuah ancaman bagi posisi dan "tempat" mereka (Yoh. 11:48).
Mungkin saja pemahaman kita yang sudah terbentuk sebelumnya kerap menjadi penghalang. Ada kemungkinan kita terlalu mengidealkan tokoh-tokoh Alkitab yang pernah dipakai Allah di masa lalu, sehingga tanpa sadar kita mengharapkan saudara-saudari kita mencerminkan gambaran yang kita ciptakan sendiri. Padahal, meskipun catatan Alkitab lebih banyak menyoroti saat-saat mereka diurapi oleh Roh, tidak diragukan lagi bahwa mereka pun pernah mengalami momen-momen ketika mereka jauh dari kesempurnaan.
Saat kita merenungkan para tokoh ini dan pekerjaan mereka bagi Allah, mudah bagi kita untuk membayangkan bahwa jika kita hidup di zaman itu, kita pasti akan mengenali mereka sebagai alat di tangan Yang Mahatinggi. Kita beranggapan bahwa sikap mereka, pembawaan mereka, atau sesuatu dalam diri mereka tentu akan memberi kesan mendalam bagi kita, sehingga kita tidak akan menolak kesaksian mereka seperti yang dilakukan begitu banyak leluhur kita.
Tentunya, kita tidak akan menjadi mereka yang "membunuh para nabi" ketika mereka membawa firman yang sulit didengar (Mat. 23:31). Namun, jelas bahwa sebagian besar umat Allah memang mengalami kesulitan ini. Mereka gagal melihat melampaui sisi manusiawi dari para pembawa pesan itu, dan karena itu tidak mampu mendengar suara-Nya.
KEBUTUHAN AKAN OTORITAS
Adalah sebuah fakta dari kehidupan bahwa manusia memiliki kesulitan yang serius dalam mengenali dan tunduk kepada otoritas. Kekurangan ini adalah akibat langsung dari kejatuhan manusia dan subversi sifat manusia. Apakah kita suka mengakuinya atau tidak, pemberontakan yang mendalam terletak di dalam hati setiap manusia. Sebenarnya, pemberontakan inilah sumber dari semua masalah dengan dosa yang kita hadapi saat ini. Pemberontakan - ketidaktaatan terhadap perintah Allah - adalah yang menghancurkan Adam dan Hawa. Dan pemberontakan yang sama di dalam hati kita inilah yang membuat kita tidak dapat mendengar suara-Nya hari ini ketika Dia berbicara kepada kita secara pribadi atau melalui orang lain.
Salah satu tujuan utama Allah dalam karya-Nya di dalam hati kita adalah untuk menaklukkan pemberontakan ini. Allah ingin menegakkan kerajaan-Nya, otoritas-Nya, dalam hidup kita. Pengalaman pembebasan ini menjadi milik kita saat kita menyerahkan diri kita kepada otoritas Ilahi. Ekspresi otoritas-Nya, manifestasi kehendak-Nya bagi hidup kita, datang kepada kita dalam berbagai cara yang berbeda. Namun bagaimana pun bentuknya, penting bagi kita untuk mengenali bahwa Dialah sumbernya.
Allah akan berbicara kepada kita secara pribadi melalui roh kita, tidak hanya dengan kata-kata tetapi lebih sering dengan rayuan-rayuan halus untuk keinginan-Nya. Allah akan berbicara kepada kita melalui kitab suci saat kita merenungkan hal-hal yang telah Dia tulis di dalam Alkitab. Dan Allah akan mengarahkan kita melalui keadaan kita saat kita menyerahkan diri kepada-Nya dan mencari kehendak-Nya yang dimanifestasikan melalui lingkungan kita.
Saya tidak sedang mengatakan di sini bahwa kita seharusnya sepenuhnya diatur oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Poinnya di sini adalah bahwa kita harus belajar untuk peka mengenali tangan Allah yang bekerja dalam situasi kita sehingga kita tidak akan melewatkan apa pun yang Dia katakan melaluinya.
Cara penting lainnya di mana Allah menunjukkan kehendak-Nya adalah melalui orang-orang Kristen lainnya. Ketika kita lahir baru, kita ditempatkan oleh Yesus ke dalam tubuh-Nya. Dalam desain supernatural Allah, Dia tidak membuat setiap kita lengkap dan mandiri. Sebaliknya, pola-Nya adalah bahwa setiap anggota tubuh-Nya memiliki karunia-karunia dan fungsi-fungsi yang khusus.
Dia telah mendesain sebuah keragaman yang besar ke dalam tubuh-Nya yang Dia maksudkan untuk menghasilkan sebuah ketergantungan yang besar. Tidak ada satu orang pun yang "memiliki semuanya" tetapi masing-masing harus bersedia menerima pelayanan orang lain untuk menjadi lengkap. Dengan cara ini, setiap orang memiliki sesuatu untuk melayani dan masing-masing dalam beberapa ukuran bergantung pada orang lain karena hal-hal yang tidak mereka miliki.
Hal ini terutama benar dalam hal mengetahui kehendak Allah dan menjadi peka terhadap otoritas-Nya. Seiring setiap pribadi bertumbuh secara rohani dalam lingkup pelayanan yang telah ditentukan bagi mereka, otoritas Allah mulai mengalir melalui mereka di area tersebut. Semakin mereka bertumbuh dalam ketaatan kepada Roh, semakin Allah dapat memakai mereka untuk menyatakan kehendak-Nya.
Akibatnya, masing-masing mulai memiliki pemahaman yang unik tentang kehendak Allah. Jadi, ketika kita terbuka untuk Allah berbicara kepada kita melalui orang lain, Dia dapat melayani kita dalam banyak cara yang penting dan tidak biasa.
Mungkin sebagian besar orang Kristen suka membayangkan bahwa mereka sangat peka terhadap Roh Allah yang sedang berbicara di dalam mereka. Namun, dalam praktiknya, sebagian besar dari kita jauh dari impian ini. Di dalam hati hampir setiap orang percaya masih terdapat area kegelapan dan pemberontakan. Ini adalah bagian-bagian yang belum berubah di mana Allah masih sedang mencoba untuk bekerja.
Karena fakta bahwa kita tidak menyadari adanya area yang seperti itu, sering kali sangat sulit bagi Tuhan untuk mengatasi masalah-masalah ini. Oleh karena itu, Dia akan mencoba memakai orang percaya lain untuk berbicara kepada kita tentang hal-hal ini. Dia akan memberikan pemahaman dan wahyu yang diperlukan kepada orang lain tentang kehidupan kita sendiri - hal-hal yang tidak bisa kita terima - sehingga mereka dapat dipakai untuk melayani kita.
Jika, ketika hal ini terjadi, kita dapat mengenali suara Tuhan yang berbicara melalui saudara-saudari kita, kita akan diberkati. Jika kita menolak untuk menanggapi otoritas Allah, kita akan kehilangan segala sesuatu yang telah Dia rancangkan bagi kita.
Saat kita hidup dan bergerak dalam tubuh Kristus, kita harus belajar mengenali satu sama lain dan berinteraksi satu sama lain secara rohani. Untuk melakukannya, adalah penting bagi kita untuk berhenti mengenal satu sama lain "menurut daging" (2Kor. 5:16). Ini berarti bahwa kita tidak boleh membuat penilaian kita tentang orang lain menurut apa yang kita lihat dengan indra jasmani atau penangkapan batin kita. Kita tidak boleh pernah fokus pada sifat kepribadian yang aneh, kegagalan, kekuatan atau kelemahan mereka.
Sebaliknya, kita harus belajar untuk melihat Roh Tuhan secara rohani dalam diri orang lain dan mengenali karunia-karunia dan pelayanan-pelayanan khusus yang Dia telah berikan kepada mereka. Kita harus melihat mereka melalui mata Allah. Ketika kita mengakui pelayanan rohani dari saudara-saudari kita, Allah dapat mulai memakai mereka untuk melayani diri-Nya ke dalam hidup kita. Otoritas-Nya akan mengalir keluar dan menjamah kita dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah kita duga. Ini adalah sebuah pengalaman Kristen yang penting. Dengan cara ini, melalui sumbangsih dari setiap bagian (Ef. 4:16), tubuh itu dibangun menjadi apa yang diinginkan Yesus.
Itulah sebabnya kita diajarkan untuk menundukkan diri kita satu sama lain dalam takut akan Allah (Ef. 5:21). Ketika kita berinteraksi dengan orang percaya lainnya yang sedang mengikut Tuhan, kita tidak hanya sedang menjamah manusia. Alkitab mengatakan dengan tegas bahwa Gereja adalah tempat tinggal Roh Kudus! Ketika kita sedang mengalami hubungan rohani yang hidup dengan orang lain, bukan hanya dengan "mereka" kita saling berhubungan. Ini adalah Allah sendiri.
Fakta ini seharusnya memiliki dampak yang mendalam pada kita. Kesadaran ini seharusnya membuat kita berhenti dan membuat kita memeriksa kembali sikap dan hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Betapa kita semua membutuhkan dosis besar dari takut akan Tuhan yang diperkenalkan ke dalam pengalaman gereja kita!
PENGALAMAN "TUBUH"
Sejauh ini kita telah berbicara secara umum tentang kehidupan pribadi kita, tetapi kebenaran-kebenaran yang sama ini juga berlaku untuk tubuh Kristus secara keseluruhan. Bukan hanya Allah ingin memimpin kita satu per satu, tetapi Dia sangat menginginkan gereja-Nya untuk bergerak bersama sebagai kesatuan di bawah perintah-Nya. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah kepala dari tubuh, gereja (Kol. 1:18). Kita membaca bahwa Dia harus memiliki otoritas penuh dalam segala hal. Tujuan-Nya adalah untuk mengendalikan setiap aspek dari pergerakan gereja.
Gereja seharusnya bersikap seperti seorang perempuan yang bertindak secara kolektif, merespons setiap kehendak Kepala surgawinya, sebagaimana seorang istri menanggapi suaminya. Betapa mulianya ketika gereja bergerak seirama menuju arah yang ditunjukkan Allah. Alangkah indahnya menyaksikan Mempelai Kristus merespons Sang Kekasih dengan satu hati.
Ini adalah sebuah doktrin yang indah. Ini menjadi renungan yang inspiratif dalam waktu pribadi kita dengan Tuhan. Namun, bagaimana otoritas ini akan dimanifestasikan? Saya kira secara teoritis mungkin bagi Tuhan untuk menggerakkan tubuh-Nya dengan memberikan instruksi yang sama secara bersamaan kepada setiap anggota. Namun, dalam praktiknya, tampaknya Allah menggunakan pemimpin-pemimpin - pria dan wanita - yang Dia persiapkan untuk menerima dan menyatakan kehendak-Nya.
Kemungkinan yang mulia ini untuk bergerak sebagai kesatuan dalam gereja menjadi berkat yang sejati bagi kita saat kita menundukkan diri kita kepada Allah yang sedang berbicara melalui orang lain. Ketika kita bersedia mendengar suara-Nya dan taat, semua tujuan kudus-Nya akan terwujud dalam kita, melalui kita, dan di sekitar kita. Nabi wanita, Debora melihat sebuah penglihatan seperti itu dan menginspirasi dirinya untuk menari sementara dia menyanyi: "[...] pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang, karena bangsa menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN!" (Hak. 5:2).
Dari Kitab Suci kita belajar bahwa ada pelayanan-pelayanan khusus dalam gereja yang dirancang oleh Allah secara khusus untuk memimpin seluruh jemaat. Para rasul - mereka yang dipercayakan Allah dengan visi menyeluruh tentang kediaman-Nya; para nabi - mereka yang menjadi saluran bagi pesan-pesan tepat waktu yang perlu didengar oleh umat-Nya; para gembala, pengajar, dan penatua - hamba-hamba yang dipakai Allah untuk menyatakan kerinduan hati-Nya kepada umat milik-Nya; serta secara umum, setiap pribadi yang memenuhi syarat dan dapat dipakai-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya kepada tubuh-Nya - semua ini dapat digolongkan sebagai "para pemimpin". Dalam banyak kasus, para pemimpin inilah yang digunakan oleh Sang Kepala untuk menunjukkan arah dan rencana-Nya bagi seluruh jemaat.
APA RESPONS KITA?
Ketika orang-orang seperti itu berbicara, apa respons kita? (Harap diingat di sini saya tidak sedang mengacu pada praktik otoritas jabatan yang tidak saleh di gereja, tetapi pada otoritas rohani yang benar, yang diturunkan). Apakah kita mampu memahami suara Allah atau apakah kita dengan keras kepala menolaknya? Apakah kita tunduk atau apakah kita berpikir seperti ini, "Saya tidak setuju dengan hal itu. Saya tidak memiliki beban untuk apapun. Siapa orang itu yang berpikir dia bisa memberitahu kita apa yang seharusnya kita lakukan?" Atau bahkan, "Saya tidak mendengar Allah mengatakan sesuatu seperti itu kepada saya". Sebenarnya, setiap orang yang hadir mendengar Allah mengatakan "sesuatu seperti itu". Dia baru saja benar-benar berbicara kepada mereka secara pribadi - melalui saudara mereka.
Tidak semua orang dipanggil oleh Allah untuk berfungsi sebagai pemimpin. Bahkan, sebagian besar tidak. Oleh karena itu, penting bagi mayoritas untuk menundukkan diri mereka kepada suara Allah yang sedang berbicara melalui para pemimpin. Dengan cara ini, mereka yang tidak memiliki karunia ini akan menemukan arahan dan kepuasan. Mereka akan dipimpin ke dalam kehendak Bapa dengan hanya mengikuti Tuhan dalam saudara-saudara mereka. Ketika ekspresi otoritas ini asli, kekuatan dan keberhasilan yang luar biasa akan ditunjukkan saat gereja bergerak sesuai arahan dari Sang Kepala. Dengan cara ini ekspresi kerajaan Allah yang agung akan dimanifestasikan di bumi.
Sebaliknya, karena Allah tidak selalu berbicara setiap aspek kehendak-Nya secara langsung kepada setiap individu, jika kita menolak pernyataan-Nya melalui bejana yang Dia siapkan, kita akan mengalami kehilangan besar dari tujuan dan arah. Pemberontakan seperti itu melahirkan kebingungan. Kemiskinan rohani dan kehilangan kekuatan kemenangan menjadi akibatnya saat setiap orang melakukan apa yang "benar di matanya sendiri" (Ul. 12:8).
Pengurangan buah rohani, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kurangnya peningkatan orang percaya yang baru, akan segera terlihat. Ketika kita tidak mau mendengar mereka yang melaluinya Allah berbicara, kita kehilangan kepemimpinan-Nya dan hanyalah ide-ide dan pendapat-pendapat kita sendiri saja yang tersisa.
Pendapat-pendapat yang bertentangan - yang muncul untuk menentang jalan Tuhan - secara alami akan bersaing untuk diterima di antara orang percaya. Dengan demikian, tanpa kepemimpinan Ilahi, gereja menjadi lumpuh dan terpecah.
Reaksi yang tepat yang seharusnya kita miliki ketika seseorang yang saleh mengklaim memiliki firman dari Tuhan untuk gereja adalah dengan rendah hati dan dengan penuh doa mengujinya di hadapan-Nya. Ketika individu yang telah berbicara dikenal sebagai seseorang yang melalui dia Allah sering menyatakan kehendak-Nya, ini seharusnya sangat meningkatkan pandangan kita untuk memastikan bahwa respons kita adalah respons yang tepat.
Baik bagi kita untuk mengingat bahwa jika kita tidak memahami sesuatu, ini bukanlah alasan untuk menolaknya. Sering kali tidak mudah bagi kita untuk memahami visi yang terkait dengan pelayanan-pelayanan anggota lainnya. Tanggung jawab kita adalah untuk secara serius dan jujur membawa semua ini kepada Allah dalam doa.
Jika apa yang kita dengar tidak berasal dari Dia, kita tidak perlu mendengarkannya; bahkan, kita seharusnya tidak menaatinya. Namun, keputusan seperti itu harus dibuat dengan penuh kerendahan hati, takut di hadapan Allah, dan ketelitian untuk memastikan bahwa pemahaman kita benar. Ingatlah, kecenderungan umum dari daging kita condong ke arah pemberontakan.
Tidak diragukan lagi, itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan para pembacanya untuk berhati-hati dalam mengenali mereka yang adalah pekerja-pekerja rohani dan yang sedang memanifestasikan otoritas rohani yang sejati (1Tes. 5:12). Ini harus menjadi beban yang mendasari nasihat dalam 1 Korintus 16:15,16 di mana dia mendesak orang-orang percaya untuk mengakui dan tunduk kepada mereka yang sedang dipakai Allah.
Lagi dan lagi dalam Perjanjian Baru, tema penyerahan diri kepada otoritas rohani ini ditekankan. Mengapa? Karena sangat mudah bagi daging untuk melalaikannya. Ini adalah kecenderungan alami kejatuhan manusia untuk menolak otoritas ilahi yang dimanifestasikan melalui orang lain yang tidak memiliki "posisi" atau gelar khusus.
PENGHAKIMAN ROHANI
Hari ini di bumi ini, Allah terbatas untuk mengekspresikan otoritas-Nya melalui makhluk yang tidak sempurna. Akibatnya, sangat mudah bagi pikiran manusia untuk menilai orangnya daripada sumber pesannya. Sangat alami bagi sebagian orang untuk bertindak seperti Datan dan Abiram dan hanya melihat orang lain dengan mata jasmani. Karena kekurangan penglihatan rohani, mereka membuat penilaian mereka dari penampilan permukaan. Mereka menemukan beberapa kekurangan pada bejana dan tidak menangkap isinya. Mereka menemukan beberapa kekurangan yang nyata atau yang khayal pada orang yang dipakai Allah untuk memimpin dan kemudian membebaskan diri mereka dari ketaatan dan penundukan diri.
Melakukan hal ini adalah sebuah kesalahan tragis. Ini akan mengakibatkan penghakiman rohani terhadap mereka yang melakukannya. Ini bukan karena mereka menolak untuk mendengarkan pendapat saudaranya atau mempertimbangkan ide orang lain. Ini karena mereka menolak suara Allah sendiri yang menyatakan kehendak-Nya melalui salah satu bejana-Nya.
Ketika kita menolak suara Tuhan yang dinyatakan melalui orang lain, akan ada akibat-akibatnya. Pemberontakan terhadap Raja kita selalu menghasilkan beberapa taraf kegelapan rohani. Ini biasanya menghasilkan pengalaman yang tanpa arah, mengembara, dan tidak puas bagi pihak-pihak yang terpengaruh, mirip dengan mereka yang menolak masuk ke tanah Kanaan.
Individu-individu yang seperti itu cenderung tidak pergi ke mana-mana secara rohani dan tidak melakukan apa pun untuk Tuhan. Beberapa mengklaim sedang mencari kelompok atau pengalaman Kristen yang sempurna tetapi tidak ada yang pernah memenuhi harapan mereka. Mereka tidak dapat menemukan ketenangan-Nya Tuhan. Ini sering kali adalah orang-orang yang memiliki kesulitan untuk menundukkan diri mereka kepada orang lain dan jadi mereka terus mencari arah pribadinya sendiri untuk hidup mereka.
Apa yang mereka gagal sadari adalah bahwa mereka hanya dapat menemukan kepuasan mereka dalam penundukan diri terhadap kepemimpinan yang sudah diberikan Allah melalui orang lain. Karena karunia dan fungsi mereka dalam tubuh bukan di bidang kepemimpinan, tidak mungkin bagi mereka untuk menemukan tempat mereka tanpa menyerah pada arahan Allah di mana Allah sedang berbicara melalui mereka.
Allah tidak pernah berubah. Sikap-Nya terhadap pemberontakan hari ini sama seperti pada zaman Perjanjian Lama. Meskipun penghakiman yang dialami para pemberontak di zaman Musa mungkin tidak akan diulang persis, mereka pasti merupakan tipe dari efek rohani yang dihasilkan oleh pemberontakan kita sendiri.
Sebagai contoh, ketika kita menolak pernyataan Yesus di area yang membutuhkan perubahan, kelemahan-kelemahan ini tetap tidak berubah. Dalam perjalanan waktu, efek buruk dari masalah ini dapat menjadi begitu serius sehingga landasan rohani runtuh di bawah kita dan dosa-dosa kita menelan kita sepenuhnya.
PERTIMBANGAN AKHIR
Ini kemudian membawa kita kepada pertimbangan akhir kita dan itu adalah: Apa yang dapat kita lakukan untuk menghindari kesalahan yang serius ini? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa kita mendengar suara Allah ketika Dia berbicara melalui saudara-saudara kita? Satu-satunya jawabannya adalah bahwa kita harus benar-benar tunduk kepada Allah. Di dalam hati kita, kita harus bersedia mendengar suara-Nya dan taat. Jika kita benar-benar menginginkan kehendak-Nya, kita dapat menerimanya tidak peduli melalui alat yang mana yang Dia pakai untuk menyampaikannya.
Jika kita benar-benar ingin menaati-Nya dan telah membangun hubungan yang tunduk kepada-Nya, kita akan mengenali pembicaraan-Nya bahkan dari anggota tubuh yang paling rendah, yang paling tidak dihormati.
Domba-Nya akan "mendengar suara-Nya" (Yoh 10:27). Ini bukan sesuatu yang akan datang kepada kita dalam sekejap, tetapi sebuah pengalaman yang semakin dalam seiring dengan bertumbuhnya hubungan kita dengan Tuhan. Ketaatan kita kepada Allah yang semakin bertambah adalah bukti nyata pertumbuhan dan kedewasaan rohani.
Tidak ada jumlah pengajaran yang dapat menggantikan jenis hubungan ini. Memberi tekanan kepada orang percaya yang suka memberontak untuk "tunduk" kepada pemimpin tidak akan memiliki dampak nyata pada masalah mereka. Memaksa orang-orang yang tidak patuh untuk bergerak ke arah tertentu, bahkan jika itu adalah arah yang benar, tidak dapat menghasilkan hasil-hasil rohani.
Semua ini hanya dapat menciptakan orang-orang munafik yang hatinya tidak benar dengan Allah. Tidak ada pengganti yang sesungguhnya bagi setiap orang percaya yang benar-benar merendahkan diri di hadapan Allah, menolak naluri pemberontakan yang muncul di dalam mereka, dan menyerahkan diri mereka di bawah tangan Allah Yang Mahakuasa (1Ptr. 5:6).
Kebutuhan besar saat ini adalah untuk mengizinkan Yesus menegakkan kerajaan-Nya di hati kita. Suatu hari nanti, otoritas-Nya akan didirikan secara fisik di planet ini. Tetapi, sebagai persiapan untuk peristiwa penting ini, perlu bagi Dia untuk menegakkan kerajaan-Nya - otoritas surgawi-Nya - dengan kokoh di dalam diri kita.
Penting bagi mereka yang mengaku bahwa mereka mencintai-Nya juga untuk menaati-Nya. Mari kita semua, dalam terang Allah dan Firman-Nya, memeriksa diri kita sendiri dengan seksama dan kemudian menyerahkan area-area kehidupan kita yang terlihat memberontak kepada kendali-Nya. Mari kita mahkotai Dia sebagai raja dalam hidup kita.
Akhir bab 2
Baca bab-bab lain secara online: