Pelayanan Sebutir Gandum

Membaca Secara Daring
Otoritas Rohani Yang Asli

WUJUD SEORANG PELAYAN

Bab 4

Otoritas Rohani Yang Asli, buku oleh David W. Dyer

PENERBIT PELAYANAN SEBUTIR GANDUM

Oleh David W. Dyer

Diterjemahkan oleh Mevi Eunice

DAFTAR ISI

Bab 1: DUA JENIS OTORITAS

Bab 2: PEMBERONTAKAN KORAH

Bab 3: SEMAK YANG TERBAKAR

Bab 4: WUJUD SEORANG PELAYAN (Bab saat ini)

Bab 5: KEPALA DARI SETIAP MANUSIA

Bab 6: KEPALA DARI TUBUH



4. WUJUD SEORANG PELAYAN

Kita telah mendiskusikan dalam bab-bab ini tentang topik otoritas rohani. Kita telah membahas bersama dua jenis otoritas yang ditemukan di bumi saat ini, yaitu otoritas jabatan yang didelegasikan dan otoritas rohani yang "disalurkan". Kita telah menyelidiki kebutuhan untuk dapat mengenali otoritas rohani yang sejati dan membedakannya dari jenis duniawi. Selanjutnya, kita telah melihat bagaimana Tuhan mempersiapkan bejanabejana-Nya dan kemudian memanifestasikan Diri melalui mereka kepada gereja.

Dengan semua pemikiran ini, kita dibawa ke satu pertanyaan yang sangat relevan mengenai otoritas, yaitu apa motif seseorang dalam menjalankan otoritas? Ketika seseorang sedang bertindak atau berbicara dengan otoritas, tak terelakkan mereka memiliki tujuan di balik apa yang mereka sedang lakukan. Selanjutnya, motif-motif ini dengan jelas mengungkapkan sumber dari otoritas tersebut.

Contohnya, bila dorongan itu berasal dari Allah, maka otoritas yang menyertainya berasal dari Dia. Dialah yang sedang dinyatakan. Sebaliknya, apabila muncul keinginan untuk menguasai, hasrat untuk terlihat penting atau menonjol, kerinduan untuk diperhatikan dan didengarkan, dan sebagainya, maka sudah pasti ada ambisi pribadi di dalamnya. Karena itu, memahami motivasi di balik "otoritas" yang kita lihat - baik dalam diri sendiri maupun orang lain - dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk mengenali sumber dari otoritas tersebut.

Mari kita ingat bahwa pikiran dan niat hati manusia (terutama milik kita sendiri) sering kali sangat sulit untuk dilihat. Oleh karena itu, ada kebutuhan besar untuk dengan tulus membuka hati dan pikiran kita kepada pencerahan dari Roh Kudus dan merendahkan diri di hadapan-Nya saat kita memeriksa Alkitab bersama-sama.

Karena Tuhan Yesus Kristus adalah contoh utama dari otoritas rohani yang sejati, mari kita lihat bersama kehidupan dan ajaran-Nya. Ketika Yesus berjalan di bumi bersama murid-murid-Nya, Dia menghabiskan sebagian besar waktu-Nya untuk mengajar mereka. Metode pengajaran-Nya beragam dan unik. Sering kali Dia mengajar mereka melalui ilustrasi grafis serta dengan kata-kata.

Tepat sebelum puncak pekerjaan-Nya di bumi, saat mereka makan bersama apa yang kita sebut "perjamuan terakhir", Yesus memilih untuk membuat sebuah demonstrasi yang luar biasa bagi mereka mengenai otoritas. Waktu yang Dia pilih untuk melakukan hal ini, di puncak pelayanan-Nya, adalah bukti sangat pentingnya topik yang Dia berikan.

Saat mereka sedang makan bersama, Yesus bangkit dari meja, melepaskan pakaian-Nya, dan mengenakan handuk. Dia berpakaian seperti seorang pelayan. Kemudian Dia mempertunjukkan fungsi dari budak yang paling rendah dengan mencuci kaki murid-murid-Nya. Inilah Tuhan yang menjadi manusia, Pencipta alam semesta, Yang berhak menjalankan segala otoritas, bertindak seperti seorang pelayan pribadi.

Tidak diragukan, Dia sedang mencoba untuk menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting. Dia menunjukkan, sejelas-jelasnya, sikap dan posisi yang benar dari mereka yang menjalankan otoritas rohani dan kepemimpinan.

Saat Dia melakukan tindakan ini Dia berkata, "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru Tuhan. Jadi, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kakimu. Sebab, Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." (Yoh. 13:13-15). Kemudian Dia mengakhiri pesan ini dengan berkata: "Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya." (ayat 17).

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa motivasi alkitabiah dari otoritas rohani yang sejati terletak pada sikap hati seorang hamba. Mereka yang dipakai Allah untuk menyatakan otoritas-Nya seharusnya melayani, bukan menjadikan diri sebagai sosok yang berkuasa atau terpandang. Alih-alih menempatkan diri sebagai tuan atau penguasa, mereka justru mengambil posisi yang paling rendah. Karunia yang diberikan Allah bukan untuk meninggikan diri atau membangun "kerajaan" dan "pelayanan" pribadi, melainkan untuk melayani sesama.

Tindakan Yesus jauh lebih dari sekadar dasar untuk upacara pencucian kaki baru di gereja. Di sini Pengajar Ilahi kita telah menunjukkan kepada kita sebuah prinsip yang luar biasa yang mengatur semua pelaksanaan otoritas rohani di antara umat-Nya.

Lalu, apa artinya ini dalam hubungannya dengan apa yang kita alami? Ini berarti bahwa ketika Allah mulai memakai seseorang sebagai saluran otoritas-Nya dan akibatnya mereka mulai ditinggikan di mata orang lain, mereka sendiri tidak tertarik untuk ditinggikan. Hati mereka tidak tertuju pada diri mereka sendiri atau pada semacam "posisi", tetapi malah tertuju pada melayani orang lain.

Mereka telah direndahkan oleh Tuhan dan dengan demikian telah menjadi pelayan dalam segala hal. Ambisi hidup mereka bukan lagi untuk terlihat penting di gereja mereka sendiri, tetapi untuk membangkitkan orang lain menjadi apa yang Tuhan inginkan. Kepentingan pribadi tidak lagi menjadi dorongan utama; sebaliknya, kebaikan bagi sesama kini menjadi kekuatan yang mengarahkan setiap tindakan mereka.

Ini adalah orang-orang yang benar-benar memahami pesan Tuhan dan dengan demikian menjadi sangat berguna dalam kerajaan-Nya. Sebaliknya, jika seseorang di lubuk hati mereka tidak memiliki sikap ini, maka mereka tidak benar-benar memenuhi syarat untuk pelayanan rohani.

Mereka yang benar-benar merupakan alat Allah tidak sedang mencoba untuk "membangun pelayanan mereka sendiri". Motivasi mereka bukanlah untuk "membangun gereja yang lebih besar dari gereja orang lain" atau untuk mendapat sebanyak mungkin orang di bawah pengaruh mereka. Mereka tidak sedang menciptakan kerajaan milik mereka dan kerajaan yang menggunakan nama Yesus dan firman Tuhan sebagai penyamaran untuk hidup yang melayani diri sendiri.

Ini bukan orang-orang yang menikmati mengendalikan orang lain dan bermegah dengan sebutan "hamba Allah". Mereka hanyalah pelayan yang bekerja demi kebaikan orang lain. Otoritas seperti itu tidak pernah keras atau menuntut karena orang yang memanifestasikannya tidak mendapat keuntungan pribadi dari hal itu. Ini adalah otoritas dengan motivasi yang sama sekali berbeda dari apa pun yang manusiawi. Jenis kepemimpinan ini hanya bisa datang dari sumber lain. Ini menampilkan karakter sejati Allah.

GELAR DALAM PERJANJIAN BARU

"Gelar" yang digunakan Perjanjian Baru untuk menggambarkan hamba-hamba Allah mencerminkan kebenaran yang disebutkan sebelumnya dengan sangat kuat. Dalam teks asli, pemikiran tentang pria dan wanita di gereja yang berkuasa dan memerintah satu sama lain sama sekali tidak ada. Namun, dalam banyak kasus, arti sebenarnya dari terminologi tersebut telah sangat diputarbalikkan atau bahkan hilang sepenuhnya bagi generasi modern kita.

Mungkin contoh terbaik dari masalah ini adalah kata "pendeta". Saat ini, seorang "pendeta" adalah seseorang yang "mengelola gereja". Orang ini memiliki gelar resmi, sebuah posisi keagamaan, mungkin juga memiliki pakaian khusus yang dia kenakan untuk membedakan dirinya dari yang lain, dan pada umumnya, ditinggikan di atas orang banyak. Sering kali tingkat penghormatan yang besar diharapkan dari anggota-anggotanya, mirip dengan apa yang mungkin diberikan kepada seorang pejabat politik.

Namun, pewahyuan Alkitab tentang apa artinya menjadi seorang "pendeta" sangat berbeda. Sebenarnya, ada tiga kata Yunani yang berbeda yang diterjemahkan menjadi satu kata bahasa Inggris "pendeta". Yang pertama adalah diakonos, yang berarti "pelayan" atau "pembantu". Kata kedua, leitourgos, merujuk pada seseorang yang melayani masyarakat dalam kapasitas khusus dengan menanggung sendiri seluruh biayanya.

Kata ketiga adalah huperetes, yang secara harfiah berarti "pendayung bawah" - yakni seorang pelaut dari tingkatan paling rendah. Tentu saja, orang seperti ini bukanlah pemimpin kapal. Makna kata ini kemudian berkembang menjadi siapa pun yang bekerja di bawah otoritas orang lain, sebagai bawahan yang melaksanakan perintah.

Beberapa kata lain yang berkaitan dengan konsep pelayanan rohani adalah: Yang pertama, doulos, yang berarti "budak belian". Yang kedua, oiketes, yakni "pelayan rumah tangga". Yang ketiga, misthois, artinya "pekerja upahan". Dan yang terakhir, pais, yang berarti "anak laki-laki pelayan". (Definisi diambil dari Kamus

Ekspositori Vine tentang Kata-Kata Perjanjian Baru.)

Dalam kata-kata ini, tidak ada satu pun yang mencerminkan konsep yang umum kita temui di gereja-gereja saat ini. Para pelayan tidak memberi tahu orang yang mereka layani apa yang harus dilakukan. Mereka bukanlah pihak yang berkuasa dan memerintah orang lain. Sebaliknya, fungsi mereka adalah membantu sesama dengan melayani secara rendah hati. Dalam istilah-istilah ini, kita tidak menemukan pengangkatan diri, tidak ada peninggian di mata dunia, dan tidak ada posisi khusus yang dihormati secara sosial. Yang benar, justru sebaliknya.

Penggunaan terminologi semacam itu menunjukkan bahwa orang-orang tersebut telah merendahkan diri dan menjadi pelayan yang sejati, mengikuti teladan dari Tuhan Yesus kita di sepanjang hidup-Nya (Flp. 2:8). Dari penyelidikan singkat ini, tampaknya kata "pendeta" telah disalahgunakan dalam penggunaannya di gereja masa kini sehingga artinya hampir kebalikan dari apa yang dimaksud pada zaman Yesus.

FUNGSI PELAYANAN

Saya percaya bahwa sudah saatnya bagi kita semua untuk melakukan pemeriksaan ulang yang serius terhadap konsep-konsep kita tentang apa yang Allah coba sampaikan kepada kita dalam Alkitab. Ketika terminologi seperti rasul, nabi, pendeta, penatua, dan lain-lain digunakan, apa sebenarnya pemikiran Sang Guru kita di balik hal itu? Dari diskusi sebelumnya sangat jelas bahwa ini tidak bisa menjadi gelar atau label yang menandakan posisi khusus yang penting atau "jabatan" di dalam gereja. Ini akan bertentangan langsung dengan pengajaran dan teladan Yesus yang jelas.

Oleh karena itu, kita harus mencari lebih lanjut sampai kita melihat, dalam terang Tuhan, sebuah pewahyuan yang selaras dengan semua catatan Alkitab. (Perlu dipahami bahwa kata "jabatan" - seperti pada 1 Timotius 3:1 dalam TB2, tentang pengawas jemaat - sebenarnya tidak menerjemahkan kata khusus apa pun dalam naskah Yunani, melainkan merupakan keputusan redaksional para penerjemah.)

Bukannya dianggap sebagai gelar jabatan, kata-kata seperti "pendeta", "rasul", dan "penatua" dapat dipahami hanya sebagai gambaran dari fungsi-fungsi pelayanan tertentu dalam tubuh Kristus.

Ini mungkin paling baik diilustrasikan dengan menggunakan analogi duniawi karena kita tidak memiliki prasangka agama mengenai mereka. Misalnya, siapa saja bisa memancing. Namun, ketika seseorang sering memancing dan menjadi ahli dalam menangkap ikan, maka Anda mungkin mengatakan bahwa dia adalah seorang "nelayan".

Ini bukan gelar atau semacam jabatan mereka, tetapi gambaran dari apa yang mereka lakukan. Demikian pula, banyak orang bisa memperbaiki keran yang bocor, tetapi ketika mereka secara teratur melakukan pekerjaan itu dan mereka melakukannya dengan baik, maka mereka dianggap sebagai "tukang ledeng".

Begitu pula di gereja. Allah telah memberi tugas khusus kepada setiap orang. Hari ini kita mungkin menyebutnya "pelayanan". Ini adalah area-area pelayanan yang unik di mana kita merawat tubuh Kristus. Ketika seseorang secara teratur dipakai oleh Allah di area nubuat dan mereka menjadi dikenal karena menggunakan karunia ini, maka mereka bisa disebut nabi. Ketika seseorang dikirim khusus oleh Allah untuk mendirikan dan melayani gereja-gereja, maka mereka menjadi dikenal sebagai rasul, yang berarti "yang diutus".

Ketika kata-kata ini, yang hari ini dipikirkan sebagai gelar atau jabatan di gereja, terlihat sebagai gambaran fungsi pelayanan saja, semua pertentangan dengan ajaran-ajaran Yesus lenyap. Daripada menjadi sarana untuk mengangkat beberapa orang berbakat di atas yang lain, mereka sebenarnya hanyalah sarana untuk menggambarkan jenis pelayan mereka.

Gagasan ini mendapat dukungan yang kuat bila kita melihat bagaimana kata-kata tersebut tidak digunakan dalam Perjanjian Baru. Misalnya, Kitab Suci tidak pernah menyebut "Rasul Paulus" sebagai gelar. Yang kita menemukan adalah "Paulus, sang rasul" - seorang hamba, utusan yang diutus oleh Pribadi lain untuk melayani jemaat-Nya. Kita pun tidak pernah menemukan "Penatua Petrus", "Pendeta Yakobus", atau "Gembala Yohanes" dalam tulisan suci. Dalam pikiran Allah, jelas ada sesuatu yang sama sekali berbeda dari itu.

Berbagai gambaran pelayanan ini bukan hanya tidak digunakan sebagai gelar dalam Perjanjian Baru, Yesus dengan tegas melarang penggunaan gelar di antara pengikut-pengikut-Nya. Ketika Dia berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah menyebut siapa pun bapakmu di bumi ini [...]" (Mat. 23:9) ini bukan hanya sebuah larangan untuk menggunakan satu kata ini saja. Ini jelas merupakan sebuah perintah yang menentang pengangkatan seseorang pada kepentingan jabatan dengan menggunakan gelar. Penggunaan gelar apapun di antara umat Allah untuk menunjukkan posisi otoritas, penghormatan, atau penghargaan dengan tegas dilarang oleh Yesus!

Ia menjelaskan lebih lanjut dalam Matius 23:7-23: "karena [...] kamu semua adalah saudara." Kalian semua setara. Kalian berdiri di tingkat yang sama. Tidak ada seorang pun yang berhak menjadi lebih besar, lebih hebat, atau lebih tinggi dari yang lain. Kebenaran ini ditekankannya kembali dengan perintah yang tegas: "janganlah kamu disebut Rabi [...], pemimpin" (beberapa naskah Yunani kuno memakai istilah "pemimpin" atau "pembimbing rohani" menggantikan "pemimpin").

Ini dengan jelas menunjukkan bahwa semua penggunaan kata-kata khusus untuk membedakan dan mengangkat satu orang percaya di atas yang lain adalah bertentangan dengan ajaran yang jelas dari firman Tuhan. Puji Tuhan bahwa semua gelar dan jabatan kehormatan disediakan untuk Yesus! Dia adalah "Raja di atas segala raja" dan "Tuhan di atas segala tuhan".

TATANAN ILAHI

Hari ini, di kalangan Kristen, banyak orang mengajarkan tentang apa yang disebut sebagai "tatanan ilahi". Pemikiran dasar di balik ajaran ini tampaknya adalah bahwa dalam gereja Allah terdapat semacam hierarki - rantai komando rohani - dan bahwa jika kita mengenalinya, menundukkan diri, dan "mengambil posisi kita", maka kita akan menggenapi kehendak Allah dan mengalami berkat-Nya. Dalam struktur "rantai komando" ini, para rasul ditempatkan di posisi paling atas, lalu diikuti oleh para nabi, penginjil, dan seterusnya.

Kelompok-kelompok lainnya mungkin menempatkan "pendeta" sebagai pemimpin, para penatua di bawahnya, dan kemudian para diaken, guru-guru sekolah Minggu, dan seterusnya ke bawah. Meskipun ada banyak variasi pada tema ini, dasar-dasarnya pada umumnya sama: ada semacam struktur piramida, mirip dengan perusahaan atau pemerintahan duniawi, di dalam gereja. Selanjutnya mereka bersikeras bahwa melalui struktur ini Tuhan memimpin umat-Nya. Dengan pemikiran ini, mari kita membaca Alkitab bersama-sama.

"Yesus memanggil mereka lalu berkata, 'Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.'" (Mat. 20:25-28).

Sungguh sebuah pernyataan yang menakjubkan! Ini adalah kebenaran yang sangat penting! Di sini Yesus benar-benar melarang segala bentuk penggunaan otoritas dari seorang percaya terhadap orang percaya lainnya. Ini adalah sesuatu yang, meskipun umum saat ini, dengan tegas dilarang oleh Tuhan kita.

Dalam catatan Lukas, kita menemukan bahwa penguasa-penguasa yang menggunakan pemerintahan mereka disebut "dermawan". Dengan kata lain, mereka menggunakan otoritas atas orang lain untuk "keuntungan" mereka. Pemerintahan mereka seharusnya bermanfaat bagi orang lain dalam satu atau lain bentuk.

Namun, ide tentang seorang percaya menggunakan otoritas atas orang percaya lainnya, bahkan jika tampaknya bermanfaat bagi yang lain, secara tegas dilarang! Yesus berkata, "Namun, kamu janganlah demikian. Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi seperti yang paling muda dan pemimpin menjadi seperti pelayan." (Luk. 22:26, 27).

Di sini kita menemukan tatanan ilahi yang sebenarnya. Di dalam gereja seharusnya justru kebalikan dari cara yang ada di dunia. Cara Tuhan terbalik. Yang terbesar harus berada di bawah melayani yang lain dengan kesederhanaan dan kerendahan hati.

Sementara dunia memiliki hierarki dan rantai komando, di dalam gereja Allah kita seharusnya tidak menemukan hal seperti ini. Kegiatan ini telah dilarang keras oleh Allah kita! Tidak peduli apa yang sedang dilakukan orang lain. Praktik atau budaya populer di zaman kita tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Kita telah dipanggil untuk taat kepada Yesus. Banyak dari kita umumnya menyatakan bahwa kita percaya Alkitab dan bahwa kata-kata yang tercatat di dalamnya adalah otoritas tertinggi. Bagaimana kemudian kita bisa membiarkan opini populer dan metode-metode mengatur pekerjaan kita untuk Tuhan?

KEPEMIMPINAN SEJATI

Inilah rencana Allah. Mereka yang sedang dipakai oleh Allah untuk menyalurkan otoritas-Nya memiliki sikap yang sepenuhnya berbeda dari mereka yang memiliki otoritas di dunia. Mereka tidak memiliki niat untuk "menggunakan otoritas atas" saudara atau saudari lainnya, tetapi hanya menyampaikan kehendak Allah sesuai dengan petunjuk-Nya. Pria dan wanita ini tidak pernah mencapai posisi yang lebih tinggi dari yang lain atau menjadi "di atas" mereka, tetapi merupakan pelayan yang menggunakan karunia mereka untuk membangun orang lain.

Mengenai otoritas yang dimanifestasikan melaluinya, Paulus sendiri berkata, "Kami tidak mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, tetapi kami adalah teman sekerjamu untuk sukacitamu. Sebab, kamu berdiri teguh dalam imanmu." (2Kor. 1:24). Dia dan rekan kerjanya tidak memiliki kekuasaan atas yang lain. Mereka adalah sekadar "penolong".

Meskipun beberapa versi Alkitab berbahasa Inggris menerjemahkan 1 Tesalonika 5:12 seolah-olah ada yang "berkuasa atas" yang lain di dalam Tuhan, Alkitab Terjemahan Baru (TB2) justru memakai ungkapan "memimpin kamu dalam Tuhan". Kata Yunani yang dipakai di sini adalah proistemi, yang pada dasarnya berarti "memimpin" atau "berada di depan", bukan "memerintah atas". Seperti yang telah kita lihat, ajaran Yesus dalam Kitab Suci adalah menjadi seorang hamba, bukan penguasa. Walaupun ada yang "lebih maju" dalam kedewasaan rohani, hal itu sama sekali tidak berarti bahwa mereka berhak mendominasi tubuh Kristus.

Tidak mungkin menjadi "di atas" seseorang dan menjadi pelayannya pada saat yang bersamaan. Kedua posisi ini - menjadi "di atas" dan "di bawah" - saling bertentangan dan tidak dapat disatukan. Mereka terpisah satu sama lain. Untuk menjadi pelayan, Anda harus berhenti menjadi tuan. Untuk berada di bawah, Anda harus berhenti berada di atas. Selama kita tetap dalam posisi superioritas dan otoritas, kita tidak dapat berhasil menjadi pelayan-pelayan sejati.

Satu-satunya cara untuk tetap menjadi seorang pelayan dan masih memanifestasikan otoritas adalah ketika otoritas itu tidak menjadi milik kita sendiri. Ketika ini menjadi sangat jelas bahwa kita tidak pernah memperoleh otoritas kita sendiri tetapi hanya bejana yang rendah hati, semua kontradiksi menjadi lenyap. Selama kita tidak mencari posisi berkuasa atau berpura-pura memiliki otoritas sendiri, Allah dapat memakai kita untuk menyatakan diri-Nya, sementara kita tetap menjadi hamba yang hina bagi saudara-saudari kita.

Mungkin akan berguna di sini untuk menyelidiki apa sebenarnya konsep kepemimpinan itu. Untuk "memimpin" dalam pengertian Alkitab tidak berarti memerintah, menyuruh, atau dengan cara apa pun menggunakan otoritas "atas". Sebaliknya, itu berarti seseorang berada di depan sebagai teladan. Yang lain, melihat teladan ini, menyadari bahwa itu dari Tuhan dan mengikutinya.

Inilah cara yang tepat seorang gembala sejati berfungsi di zaman Yesus. Dia menjalin hubungan yang dekat dengan hewan-hewannya. Mereka mengenalnya dengan baik dan mereka mempercayainya. Jadi, ketika dia meninggalkan kandang, mereka mengikutinya dengan keyakinan dari pengalaman bahwa dia menuju padang rumput yang lebih hijau.

Para gembala ini tidak menggiring domba dari belakang. Mereka tidak memberi perintah supaya domba pindah ke tempat tertentu. Sebaliknya, mereka berjalan di depan kawanan ternak itu. Teladan dan kesetiaan merekalah yang membuat mereka menjadi pemimpin. Inilah otoritas Perjanjian Baru. Ini adalah pelayanan kasih, menunjukkan teladan dan kesetiaan terhadap kehendak Tuhan.

Menarik bahwa Tuhan memilih untuk menggunakan istilah seperti "penatua" dan "bapa" untuk menggambarkan mereka yang lebih matang dalam Tuhan. Istilah-istilah ini (berbeda dengan "jenderal" atau "gubernur", misalnya) dipilih dengan hati-hati untuk menyampaikan pikiran Tuhan.

Jika Anda memikirkannya, Anda akan menyadari bahwa ada aspek penting dari menjadi seorang ayah atau kakek yang cukup berbeda dari seseorang yang memerintah. Singkatnya, seorang ayah memiliki masa depan anak-anaknya dalam pikirannya. Tidak masalah bagi ayah yang baik jika anak-anaknya menjadi lebih luar biasa darinya. Bahkan, itu adalah tujuannya agar mereka melakukannya. Jika mereka bisa dididik dengan lebih baik, lebih bahagia, lebih kaya, memiliki rumah dan kehidupan yang lebih baik, itu hanyalah sukacita baginya. Tujuannya adalah untuk melayani mereka dan membantu mereka untuk sejahtera dalam setiap bidang. Para ayah harus dengan sungguh-sungguh menjadi pelayan bagi anak-anak mereka.

Demikian pula, tujuan dari setiap hamba Tuhan yang sejati adalah untuk membangun orang lain. Pekerjaannya adalah untuk menunjukkan kebenaran dari Yesus kepada mereka dengan cara yang akan mendorong mereka untuk menjadi murid yang sejati. Tugas kita adalah melayani orang lain, bukan diri sendiri. Hak istimewa kita adalah mendorong orang lain untuk mengikut Yesus sedemikian rupa sehingga, jika memungkinkan, mereka bisa menjadi "lebih luar biasa" dari kita. Jika mereka menjadi lebih bijak, lebih kuat, lebih dipakai oleh Allah, atau lebih diakui, ini seharusnya menjadi sumber berkat terbesar bagi kita. Karena kita adalah pelayan mereka, hanya sebuah sukacita bagi kita ketika mereka ditinggikan. Ini adalah buah dari pelayanan kita: agar orang lain menjadi seperti yang Tuhan inginkan.

Mari kita kemudian membandingkan ini dengan apa yang terjadi di dunia hari ini. Dalam politik, bisnis, olahraga, teater, dan setiap kegiatan lainnya, orang-orang berjuang untuk ada di posisi teratas. Mereka ingin menjadi yang terbesar dan terbaik, yang terkaya atau yang paling terkenal. Banyak kali kompetisi untuk menjadi hebat menjadi manifestasi yang buruk dari sifat kejatuhan manusia.

Perebutan kekuasaan, kebohongan, dan tipuan menjadi bagian dari prosesnya. Tidak mengakui kelemahan atau kegagalan, tidak membiarkan orang lain tahu bagaimana sebenarnya yang ada di dalam diri Anda - ini adalah kebutuhan mutlak untuk maju. Penampilan menjadi jauh lebih penting dari yang sebenarnya karena ini yang mempengaruhi orang lain. Kemunafikan dengan demikian merajalela. Singkatnya, banyak penduduk bumi ini setiap hari terlibat dalam perebutan kekuasaan. Mereka mencoba untuk naik di atas orang lain sementara pada saat yang bersamaan mencoba untuk menjaga agar yang lain tidak mengalahkan mereka dan menjatuhkan mereka.

BAGAIMANA KONDISI KITA HARI INI?

Lalu, bagaimana kita menemukan situasi di gereja saat ini? Dengan kedua contoh di atas, dapatkah kita membandingkan kebiasaan yang kita temui di rumah Allah? Sayangnya, sering kali yang terakhir dari kedua itu yang menggambarkan situasi di gereja.

Keinginan manusia untuk meninggikan diri sendiri ditemukan di banyak mimbar gereja. Kecenderungan untuk menekan orang lain juga ada di sana. Keinginan untuk menjadi lebih dan lebih berkuasa, berpengaruh, dan terkenal memotivasi tidak sedikit "pendeta" saat ini. Norma pada zaman kita adalah mencari tahu berapa banyak orang yang dipimpin oleh seorang pemimpin di "gerejanya". Berapa banyak gereja yang bergabung dengan pelayanannya? Berapa besar jumlahnya? Sejauh mana kesuksesannya?

Sehebat apa "pelayan" ini telah menjadi?

Praktik ini telah berlangsung sejauh ini sehingga saya memahami beberapa sekolah Alkitab bahkan mengajarkan kepada pemimpin-pemimpin masa depan teknik khusus untuk mempertahankan otoritas mereka. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa jika orang melihat sisi manusia dari para pemimpin ini mereka akan kesulitan mengenali "otoritas" mereka. Karena itu, para siswa diajarkan untuk menjaga jarak dari jemaat. Mereka diperingatkan agar tidak menjalin pertemanan dengan "mereka yang duduk di bangku" dan untuk tidak membagikan masalah pribadi mereka. Sebab jika hal itu dilakukan, jemaat tidak akan menghormati mereka atau menaati "otoritas" mereka.

Ini tidak hanya mengakibatkan pembentukan jenis otoritas yang salah di dalam gereja, tetapi juga menghancurkan pemimpin yang dengan demikian dibebani pengalaman Kekristenan yang terisolasi, dan oleh karena itu menjadi tidak utuh. Jenis otoritas duniawi ini sama sekali asing untuk pemahaman Perjanjian Baru tentang gereja.

Tidak jarang kita temui pemimpin Kristen yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan posisinya di gereja. Ketika seseorang di tengah jemaat mulai diangkat oleh Allah dan mulai dikenal serta dihormati sebagai pembawa pesan dari Tuhan, maka pemimpin yang sedang menjabat bisa saja mencari cara untuk menyingkirkan orang tersebut. Kirim saja ke sekolah Alkitab. Biarkan dia memulai gerejanya sendiri. Tuduh dia memberontak, lalu usir. Cara apa pun dianggap sah asalkan posisi pemimpin yang sedang berkuasa tetap terjaga. Tuduhan, ketakutan, dan persaingan menjadi dasar dari perebutan kuasa yang bersifat daging.

Sebaliknya, otoritas rohani yang sejati berasal dari Allah. Siapa pun yang sungguh-sungguh dipakai oleh-Nya tidak perlu berjuang untuk mendapatkan posisi atau pelayanan. Yesus sendirilah yang membangkitkan para pemimpin di tengah umat-Nya. Para pemimpin sejati tidak pernah meninggikan diri melalui kemampuan mereka dalam berkhotbah, mengajar, atau memengaruhi orang lain agar mengagumi mereka.

Raja Daud, misalnya, hanyalah seorang gembala yang sederhana, namun Tuhan memilih dia untuk memimpin umat-Nya. Banyak nabi pun awalnya bukan siapa-siapa dan tidak berarti apa-apa - sampai Allah menjamah hidup mereka dan mulai menyatakan diri-Nya melalui mereka. Pelayanan bukanlah hasil ambisi, melainkan buah dari kedekatan dengan Allah. Mereka yang sungguh dipakai oleh Tuhan adalah orang-orang yang melayani sesama, bukan melayani ego mereka sendiri. Perbuatan yang lahir dari motivasi semacam inilah yang akan tahan uji pada hari penghakiman.

Selain itu, tidak pernah ada kebutuhan untuk mempertahankan "posisi" atau pelayanan kita. Pelayan sejati tidak memiliki posisi untuk dipertahankan. Dia hanya berada di tangan Tuhan untuk dipakai atau tidak sesuai kehendak Tuan-Nya. Ketika kepemimpinan Musa ditantang, tanggapannya adalah jatuh tersungkur di hadapan Tuhan. Dia tahu bahwa Tuhan yang sedang memakainya dan kekuatan-Nya yang menjaganya. Kekuatan dan penalaran manusia hanya akan mencemari kesaksian dari apa yang sedang Tuhan lakukan melalui dia.

Allah akan membela yang benar-benar berasal dari Dia. Tidak ada yang akan mencegah kehendak-Nya terlaksana dalam perjalanan waktu. Tidak pernah dibutuhkan usaha manusia untuk mengamankan atau "melindungi" pekerjaan Allah.

Perselisihan, pertengkaran, perdebatan, dan perebutan kuasa adalah perbuatan daging. Sebaliknya, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran adalah bukti kehadiran Roh Kudus. Jika kita saling menggigit dan saling menelan, hal itu pasti akan membawa kehancuran dalam keluarga Allah (Gal. 5:15). Namun, jika kita telah disentuh secara mendalam dan direndahkan oleh Allah untuk menjadi pelayan bagi umat-Nya, maka pekerjaan kita akan membawa berkat dan pelayanan bagi semua orang di sekitar kita.

Inilah kebutuhan besar di zaman kita: bukan untuk mendengarkan mereka yang menggunakan hal-hal dari Allah demi meninggikan diri dan membangun pelayanan mereka sendiri, melainkan untuk menerima dari orang-orang sederhana yang menjadi saluran bagi Allah menyatakan Diri-Nya.

Suatu hari ketika kedua belas murid sedang berjalan bersama Yesus, mereka mulai berdebat. Mereka sedang membicarakan siapa yang akan menjadi yang terbesar ketika Yesus menjadi raja. Tuhan menggunakan kesempatan ini untuk mencoba menunjukkan kepada mereka lagi sesuatu tentang bagaimana tubuh-Nya berfungsi seperti yang Dia maksud. Dia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya dan mengatakan sesuatu yang sangat mendalam: "Sebab, yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Luk. 9:48).

Pada kesempatan lain dua orang pria sedang membuat permintaan khusus untuk posisi otoritas. Yesus sekali lagi membuat pernyataan yang justru berlawanan dengan cara berpikir kita sebagai manusia yang normal. Kita baca, "Siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat. 20:27, 28).

Hal-hal ini tidak dimaksudkan hanya sebagai filsafat agama yang bagus. Yesus mengatakan kata-kata ini agar kita berusaha masuk ke dalam realitas mereka. Dia bermaksud agar kita mempraktikkannya dalam hidup kita. "Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya." (Yoh. 13:17).

BAHAYA DARI PENGAKUAN

Kita telah berbicara tentang kebutuhan akan kerendahan hati dalam melayani Allah dan bagaimana pemimpin sejati sebenarnya adalah seorang pelayan. Namun, tak terelakkan bahwa ketika Tuhan mulai menggunakan alat manusia, beberapa orang akan mulai terkesan dan, setidaknya dalam pikiran mereka sendiri, mengangkatnya ke semacam posisi. Ketika otoritas rohani sejati dinyatakan, ini sering kali mengakibatkan individu mendapatkan semacam otoritas duniawi di mata manusia. Bahkan, orang sering kali bersusah payah untuk memberikan jenis otoritas ini kepada pemimpin mereka.

Hal ini menempatkan pelayan Allah dalam posisi yang sangat berbahaya. Begitu orang, meskipun hanya dalam pikiran mereka sendiri, telah menempatkan orang tersebut dalam situasi ini, ini menjadi godaan yang terus-menerus untuk menggunakan otoritas duniawi ini. Daripada terus mengandalkan Tuhan, memungkinkan bagi pelayan Tuhan untuk menggunakan taktik manusiawi. Ketika situasi sulit muncul, menjadi mudah untuk membuat keputusan sendiri dan mengambil tindakan atas inisiatif mereka sendiri. Menariknya, semakin banyak bejana ini dipakai oleh Allah, semakin besar bahaya yang timbul.

Lagi-lagi kisah Musa menjadi sebuah contoh bagi kita. Dia adalah seorang pria yang menjadi saluran bagi otoritas Allah dengan cara yang sangat luar biasa. Dia terbukti hampir sepenuhnya taat dalam pelayanan ini. Namun, hanya sekali dia kehilangan kesabarannya dan memilih menggunakan otoritas jabatannya untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Bukannya dengan taat dia berkata kepada batu seperti yang diperintahkan Tuhan, Musa dengan marah memukul batu itu dengan tongkatnya.

Allah menghormatinya dalam posisi ini dan mengeluarkan air dari batu (Bil. 20:11). Namun, tindakan ini sangat merugikan Musa. Melalui penggunaan otoritas manusia alami ini, dia ditolak untuk masuk ke tanah Kanaan! Satu kali ini ketika dia bertindak atas inisiatifnya sendiri daripada taat kepada Allah membawa penghakiman yang berat baginya. Kisah ini dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya Tuhan memperhitungkan perbedaan antara dua jenis otoritas ini.

Semua pelayan Allah harus menyimpan ini dalam hati. Ketika Allah memakai mereka dan mereka ditinggikan di mata orang, mereka harus berhati-hati untuk hanya memanifestasikan otoritas dari Roh yang mengalir melalui mereka. Setiap otoritas alami atau jabatan tidak memenuhi syarat meskipun tampaknya mencapai hasil yang dibutuhkan.

Kehendak Allah mungkin cukup jelas. Arahan-Nya mungkin jelas bagi para pemimpin yang sedang dipakai-Nya. Namun, apapun daya tarik dari otoritas alami, "jabatan", karunia, atau pelayanan kepada sifat kedagingan tidak akan menghasilkan hasil rohani. Kenyataannya, itu tidak bisa. Alkitab berbunyi: "Yang bengkok tak dapat diluruskan" (Pkh. 1:15). Apa pun yang dimulai di ranah duniawi tidak akan pernah menghasilkan buah rohani.

Poin lain yang harus sangat jelas bagi pelayan Allah adalah bahwa tidak pernah menjadi tugas kita untuk mencoba menegakkan otoritas Tuhan. Kita tidak pernah diminta untuk mencoba membuat seseorang taat kepada Yesus. Kita tidak diperbolehkan untuk mendorong, mendisiplin, mempermalukan, menekan, atau dengan cara apa pun mencoba memaksa seseorang untuk taat. Kita mungkin yakin dalam pikiran kita sendiri bahwa Tuhan berbicara melalui kita. Mungkin memang, itu adalah suara-Nya. Namun, jika saudara atau saudari kita yang menerima firman ini tidak mendengarkannya, ini bukan tanggung jawab kita. Bukan tugas kita untuk memastikan mereka mendengar dan taat.

Karena ini adalah otoritas Yesus yang sedang dimanifestasikan, adalah tanggung jawab-Nya untuk berurusan dengan siapa pun yang memberontak melawannya. Tidak pernah menjadi wewenang kita untuk mencoba memaksakan kehendak Tuhan kepada siapa pun. Aktivitas seperti itu hanya bersifat kedagingan dan alamiah.

Ini adalah cara Allah. Pria atau wanita yang ingin menyenangkan Allah harus menjadi pelayan. Kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan dan di hadapan saudara-saudari kita dalam Kristus, daripada mengambil jalan dunia. Bukannya mencari pengangkatan di mata manusia sehingga kita dapat mengontrol mereka dan dengan demikian "membantu" mereka untuk berjalan dalam cara-cara Tuhan, kita harus memilih untuk rendah hati. Dengan cara ini, hanya mereka yang benar-benar mau mendengar suara Tuhan akan mendengar-Nya berbicara melalui kita dan menjadi taat.

Inilah tepatnya cara Tuhan Yesus Kristus kita hidup ketika Dia berada di bumi. Dia tidak hanya memiliki hak dan otoritas untuk menuntut ketaatan, Dia memiliki kekuatan untuk memaksa segala sesuatu berjalan sesuai kehendak-Nya.

Namun, bukannya menggunakan kekuatan ini, kita baca: "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Flp. 2:6-8).

Saudara-saudari yang terkasih, inilah jalannya. Ini adalah Pribadi yang luar biasa. Semoga kita masuk ke dalam pengalaman yang seutuhnya dari kebenaran-Nya.

Akhir bab 4

Baca bab-bab lain secara online:

Bab 1: DUA JENIS OTORITAS

Bab 2: PEMBERONTAKAN KORAH

Bab 3: SEMAK YANG TERBAKAR

Bab 4: WUJUD SEORANG PELAYAN (Bab saat ini)

Bab 5: KEPALA DARI SETIAP MANUSIA

Bab 6: KEPALA DARI TUBUH