Pelayanan Sebutir Gandum

Membaca Secara Daring
Otoritas Rohani Yang Asli

DUA JENIS OTORITAS

Bab 1

Otoritas Rohani Yang Asli, buku oleh David W. Dyer

PENERBIT PELAYANAN SEBUTIR GANDUM

Oleh David W. Dyer

Diterjemahkan oleh Mevi Eunice

DAFTAR ISI

Bab 1: DUA JENIS OTORITAS (Bab saat ini)

Bab 2: PEMBERONTAKAN KORAH

Bab 3: SEMAK YANG TERBAKAR

Bab 4: WUJUD SEORANG PELAYAN

Bab 5: KEPALA DARI SETIAP MANUSIA

Bab 6: KEPALA DARI TUBUH



KATA PENGANTAR

Sebagai anak-anak Allah, salah satu hal terpenting bagi kita adalah mengetahui bagaimana menaati dan mengikuti Yesus. Dia adalah Tuhan dan Raja kita. Kepada-Nya kita akan mempertanggungjawabkan sikap, perbuatan, dan kata-kata kita suatu hari nanti. Di taman Eden, Adam dan Hawa memberontak terhadap Yang Maha Tinggi. Sejak saat itu, sebagian besar umat manusia hidup dalam pemberontakan terhadap-Nya.

Setelah kita bertobat dari dosa-dosa kita dan dilahirkan kembali, kita memiliki hak istimewa sebagai anak-anak Allah untuk menyerahkan diri kepada pemerintahan dan otoritas-Nya. Kita memiliki kesempatan untuk mengubah tren dunia dari pemberontakan menjadi ketaatan. Bahkan, Kita wajib melakukannya jika ingin mengalami Kerajaan-Nya. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk dapat membedakan otoritas rohani. Penting bagi kita untuk dapat mengenali suara Tuhan kita sehingga kita dapat mengikuti Dia.

Salah satu faktor yang mungkin membuat tugas ini lebih sulit adalah bahwa sering kali Allah tidak berbicara secara langsung kepada kita tetapi memakai orang lain, pria atau wanita, sebagai sarana di mana Dia memanifestasikan otoritas-Nya. Namun, bagaimana kita tahu apakah itu Allah? Bagaimana kita bisa yakin apakah itu Tuhan kita yang berbicara atau apakah itu hanya manusia? Ini adalah masalah penting yang kita semua perlu selesaikan.

Di padang gurun, Bani Israel juga dihadapkan pada keputusan seperti itu. Selain Musa dan Harun, ada banyak pria lain di antara jemaat yang dikenal - para pria yang dianggap sebagai pemimpin. Di antara mereka yang utama adalah Korah, Datan, dan Abiram, yang bersama dengan 250 orang lainnya berkumpul untuk menantang kepemimpinan orang yang diurapi Allah.

Mereka bersaing untuk mendapatkan posisi sebagai otoritas dan pengakuan di antara umat Allah, tetapi perhatian kita di sini berbeda. Kita akan membahas lebih lanjut di bab dua mengenai penghakiman Allah atas para pemberontak ini.

Segera setelah penyelesaian pertentangan yang terkait dengan otoritas Allah, Tuhan kita merasa perlu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah pelajaran supernatural. Dia tahu bahwa anak-anak-Nya, di masa yang akan datang, juga perlu dapat mengenali otoritas rohani. Mereka akan membutuhkan dasar untuk dapat menilai jenis otoritas mana yang hanya manusiawi dan mana yang benar-benar Ilahi. Karena otoritas duniawi bisa sangat menge sankan dengan semua pesona dan kebolehannya, mungkin kita juga bisa mendapat manfaat dari perumpamaan supernatural Allah.

Yang dilakukan Allah adalah ini: Dia memerintahkan Musa untuk mengambil tongkat dari setiap pemimpin dalam jemaat. Tongkat ini adalah simbol dari kepemimpinan dan otoritas setiap orang. Kumpulan tongkat ini, bersama dengan tongkat Harun, diletakkan di Kemah Suci semalaman.

Di pagi hari, sesuatu yang supernatural telah terjadi. Tongkat Harun telah berubah dalam tiga cara. Itu telah bertunas, berbunga, dan berbuah matang - semua pada saat yang sama! Ini benar-benar luar biasa. Pernahkah Anda melihat sebuah cabang pohon memiliki tunas, bunga, dan buah secara bersamaan? Tongkat lainnya tetap seperti semula - tua, keras, dan kering. Namun, tongkat dari orang yang memanifestasikan otoritas ilahi menjadi sangat berbeda.

Perumpamaan ini masih berbicara kepada kita hari ini. Otoritas manusia dan otoritas ilahi masing-masing memiliki "esensi" rohani yang berbeda. Masing-masing memiliki karakteristiknya yang dapat kita kenali. Otoritas duniawi adalah keras dan kering. Ini memberikan tuntutan kepada kita, tetapi tidak membekali kita. Ini dilakukan dengan kekuatan manusia dan dilakukan dengan ukuran duniawi. Sama seperti sebuah tongkat yang tua dan kering yang mungkin digunakan untuk memukul atau menampar seekor hewan yang tidak taat, begitu pula otoritas manusia mengontrol orang lain dengan menggunakan kekuatan, paksaan, tuntutan, dan kekuatan yang lebih besar, baik itu fisik atau psikologis.

Di sisi lain, otoritas rohani yang sejati memiliki rasa yang sepenuhnya berbeda. Tidak seorang pun yang akan pernah berpikir untuk memukul orang lain dengan cabang yang penuh dengan bunga dan buah. Ada sesuatu yang lain di sini. Pertama, tunas melambangkan sesuatu yang baru, lembut, segar, dan hidup. Jadi kita melihat bahwa otoritas rohani itu hidup, bahwa itu penuh dengan Kehidupan Ilahi. Bunga-bunga berbicara kepada kita tentang sesuatu yang harum, sesuatu dengan aroma manis dari karakter Yesus Kristus. Dan buah berbicara kepada kita tentang sesuatu yang memberi nutrisi, bukan sesuatu yang menuntut tetapi membekali.

Inilah ciri-ciri kepemimpinan dan otoritas supernatural yang sejati. Mereka yang melaksanakannya akan memperlihatkan kualitas-kualitas berikut: Mereka akan penuh dengan kehidupan Allah, hidup dalam persekutuan yang erat dengan-Nya. Mereka akan memiliki bau yang harum dari Kristus karena mereka mengizinkan karakter-Nya bekerja dalam hidup mereka dan membiarkan kemampuan dan kekuasaan alami mereka diremukkan oleh tangan-Nya. Akhirnya, mereka akan menjadi sumber nutrisi dan persediaan dan bukan tuntutan yang membosankan, karena mereka sendiri terikat erat dengan pokok anggur surgawi.

Saudara-saudari, inilah ujian sejati dari segala otoritas dalam gereja Kristen. Karakteristik yang mana yang ditunjukkan otoritas ini? Rasa dan aroma apa yang dimilikinya? Sungguh halhal ini dibedakan secara rohani dan tidak dapat dipahami oleh manusia alami, tetapi itu tidak meniadakan kenyataannya. Kita masing-masing diminta oleh Allah untuk menundukkan diri kepada otoritas-Nya.

Oleh karena itu, perlu bagi setiap dari kita untuk dapat membedakan dan memutuskan otoritas mana yang benar-benar dari Dia dan mana yang hanya tongkat manusia. Dari setiap sisi dan setiap kelompok ada yang menyatakan memiliki atau menjadi otoritas yang sejati. Semoga Allah mengaruniakan kita kasih karunia agar kita dapat dengan tepat membedakan "esensi" dari apa yang benar-benar berasal dari-Nya. Semoga Allah juga menggunakan buku ini untuk menolong umat-Nya dalam tugas penting ini.

D.W.D.

1. DUA JENIS OTORITAS

Dalam memulai pembahasan kita mengenai tema penting ini, hal pertama yang perlu kita tetapkan adalah bahwa Allah adalah sumber dari segala otoritas. Ini karena Dia adalah otoritas tertinggi. Dia adalah Yang Maha Kuasa yang duduk di atas takhta alam semesta dan Dia yang memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa otoritas lain yang ada di alam semesta telah ditetapkan oleh-Nya atau setidaknya diizinkan untuk ada oleh-Nya.

Tanpa persetujuan-Nya, mustahil bagi otoritas lain untuk bertahan. Maka, di mana pun kita menemukan otoritas di dunia sekarang ini, entah yang baik maupun yang buruk, kita tahu bahwa itu adalah sesuatu yang keabsahannya berasal dari Allah. Inilah yang sebenarnya diajarkan oleh Kitab Suci. Kita membaca bahwa pemerintahan manusia, kepolisian, hakim, dan lainnya adalah lembaga yang didirikan oleh Allah untuk menahan kekuatan jahat di dunia ini (Rm. 13:1-7).

Jenis otoritas yang dimiliki oleh pemerintah dan penguasa manusia lainnya disebut "otoritas yang didelegasikan". Seperti yang sudah dijelaskan, Allah adalah pemilik otoritas tertinggi, tetapi Dia telah memilih untuk "mendelegasikan" atau "memberikan" otoritas ini kepada orang-orang lain yang seharusnya bertindak sebagai wakil-Nya. Setelah Allah memberikan otoritas ini, otoritas tersebut menjadi milik orang yang menerimanya.

Meskipun mereka bertanggung jawab kepada Allah dalam menggunakan otoritas ini, adalah hak mereka untuk menggunakannya sesuai kehendak mereka. Pada intinya, mereka menjadi otoritas. Pihak yang diberi otoritas mungkin menggunakan kekuasaan mereka dengan baik atau mungkin menyalahgunakannya. Mereka bisa menjadi penguasa yang baik yang memilih apa yang terbaik bagi kepentingan Allah dan orang-orang yang mereka pimpin, atau mereka bisa menjadi jahat dan menggunakan otoritas mereka untuk kepentingan mereka sendiri dan merugikan orang lain. Terlepas dari bagaimana mereka menggunakannya, mereka yang memiliki posisi kekuasaan adalah otoritas yang diutus Allah.

Namun, otoritas yang didelegasikan bukan satu-satunya jenis otoritas yang ada dalam Alkitab. Ada jenis otoritas lain yang ditunjukkan di sini yang, meskipun juga berasal dari Allah, sangat berbeda dari jenis otoritas yang didelegasikan. Untuk penjelasannya, saya percaya jenis otoritas ini dapat disebut sebagai otoritas yang "diturunkan".

Otoritas ini tidak dimiliki oleh orang yang sedang melaksanakannya. Ini bukan sesuatu yang "diberikan" kepadanya untuk digunakan sesuai keinginannya. Sebaliknya, otoritas yang diturunkan dilaksanakan ketika seseorang hanya meneruskan otoritas dari Allah. Orang yang terlibat di sini hanyalah sebuah bejana, sebuah alat di mana otoritas Ilahi mengalir.

Mereka tidak memiliki otoritas mereka "sendiri", tetapi hanya menanggapi arahan-arahan dari Yang Maha Tinggi. Ketika Dia berbicara kepada mereka untuk orang lain, mereka akan mengatakannya. Ketika Dia mengarahkan mereka untuk mengambil tindakan, maka mereka bergerak. Namun mereka tidak pernah mengambil otoritas ini atas diri mereka sendiri. Tidak peduli seberapa sering mereka dipakai oleh Allah untuk menurunkan otoritas-Nya, mereka tidak pernah menjadi otoritas ini.

MENGAPA MANUSIA MENDELEGASIKAN OTORITAS

Mari kita merenungkan ini bersama-sama. Mengapa seseorang perlu mendelegasikan otoritasnya kepada orang lain? Ini mungkin karena ketidakmampuan mereka untuk melakukan pekerjaan yang diperlukan atau mungkin karena ketidakhadiran mereka di tempat di mana sesuatu perlu diputuskan atau dilakukan.

Kepala perusahaan besar selalu perlu mendelegasikan otoritas mereka kepada bawahan yang bertindak atas nama mereka. Para direktur utamanya tidak mampu melakukan setiap pekerjaan di tempat kerja. Mereka tidak bisa hadir di setiap tempat setiap saat. Oleh karena itu, keterbatasan mereka sendiri menuntut mereka untuk mendelegasikan sebagian otoritas mereka kepada orang lain yang bertindak untuk mereka karena ketidakmampuan atau ketidakhadiran mereka. Orang-orang ini menjadi "otoritas yang didelegasikan" yang memiliki otoritas yang bergantung pada kedudukan mereka dalam hubungan dengan atasan mereka.

Di gereja saat ini, Yesus telah ditunjuk oleh Bapa untuk menjadi Kepala atas segala sesuatu (Ef. 1:22). Pemerintahan atas kelompok istimewa dari orang-orang ini "ada di atas bahunya" (Yes. 9:5). Hanya Dia yang harus memerintah dan mengarahkan umat-Nya. Semua otoritas di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18).

Dalam memenuhi tugas ini, Yesus tidak mendelegasikan otoritas-Nya. Dia sama sekali tidak menyerahkan secuil pun otoritas-Nya kepada siapa pun untuk bertindak atas nama-Nya. Tidak ada tugas di gereja yang Dia tidak mampu lakukan. Dia Maha Kuasa. Selanjutnya, Dia tidak absen dari tubuh-Nya. Dia Maha Hadir. Dia ada bersama setiap kita di setiap saat. Oleh karena itu, Dia sama sekali tidak perlu mendelegasikan otoritasnya kepada orang lain untuk bertindak bagi Dia.

Yesus secara fisik absen di dunia ini. Oleh karena itu, Dia mendelegasikan otoritas-Nya kepada orang-orang untuk bertindak bagi Dia dalam "ketidakhadiran-Nya". Ini adalah otoritas pemerintahan yang kita kenal. Namun, Dia secara rohani hadir dalam tubuh-Nya, yaitu Gereja. Jadi, karena hadir, Dia yang seharusnya mengarahkan, memimpin, dan memprakarsai segala sesuatu. Di gereja, tidak ada manusia lain yang pernah mendapatkan sedikit bagian dari otoritas ini untuk dirinya sendiri yang digunakan untuk melakukan apa yang dia anggap sesuai.

Tepat sebelum Yesus naik ke surga, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: "[...] Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku [?]". (Mat. 28:18, 19). Yang tidak Dia katakan adalah: "Sekarang saya membagi sedikit dari otoritas ini kepada setiap orang dari kalian untuk melakukan pekerjaan selama saya pergi".

Dia melanjutkan dengan berkata: "Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman." (Mat. 28:20). Pribadi yang memiliki Otoritas itu sendiri berjanji akan selalu bersama mereka, menyatakan otoritas-Nya melalui mereka kapan pun dan di mana pun diperlukan.

Kita melihat bahwa dalam gereja, setiap kali otoritas sejati dinyatakan, bukanlah orang yang tampak di hadapan kita yang memiliki atau menjadi sumber otoritas itu. Sebaliknya, yang terjadi adalah penyataan Yesus yang tak kasatmata, mengalir melalui orang tersebut. Inilah yang kita sebut sebagai "otoritas yang diturunkan."

OTORITAS MANUSIA YANG LEMAH DAN TIDAK BERDAYA

Perlu kita pahami bahwa "otoritas jabatan" atau "otoritas yang didelegasikan" hanya dijalankan dalam ranah jasmani dan alami. Ini didengar oleh telinga dan menghasilkan reaksi yang manusiawi. Ini adalah sarana di mana manusia mengendalikan satu sama lain di dunia jasmani ini. Otoritas yang demikian yang dilakukan oleh orang tua, polisi, dan penguasa lainnya benar-benar memiliki tempatnya. Ini adalah bagian penting dari dunia ini. Namun, itu tidak berguna dalam membangun tubuh Kristus.

Banyak yang telah mencoba selama berabad-abad untuk menggunakan otoritas jabatan semacam itu untuk membangun gereja. Namun sayangnya, itu adalah sebuah kegagalan yang menyedihkan. Tokoh-tokoh otoritas yang tak terhitung jumlahnya telah mencoba menggiring anak-anak Allah kepada satu arah atau lainnya. Mereka telah mengajar, membujuk, menuntut, bahkan memerintahkan, namun tanpa hasil yang rohani. Banyak pendeta, uskup, penatua, dan lainnya telah menggunakan semua energi dan otoritas mereka untuk mencoba menggerakkan orang-orang percaya ke arah yang mereka percaya seharusnya mereka tuju secara rohani. Namun, hasilnya belum menjadi kesempurnaan dari orang-orang kudus.

Meskipun otoritas yang didelegasikan dapat digunakan untuk menghasilkan beberapa efek yang terlihat pada kehidupan beberapa orang Kristen, hasil-hasil ini tidak kekal. Ini bukanlah perubahan sejati. Misalnya, beberapa tokoh otoritas di gereja telah memberi tekanan pada orang lain di bawah pengaruh mereka dan berhasil mengubah kebiasaan atau perilaku mereka. Mungkin "orang percaya yang patuh" ini telah mengubah gaya pakaian, pola bicara, atau bahkan mulai mengelola uang mereka dengan cara yang lebih baik.

Namun, perubahan seperti itu hanya bersifat duniawi dan sementara. Mereka bekerja dari luar ke dalam bukan dari dalam ke luar (di mana manusia rohani berada). Perubahan-perubahan ini bukan hasil dari pertumbuhan rohani, tetapi tekanan manusia duniawi. Orang-orang ini telah disesuaikan dengan sebuah pola, tetapi tidak diubah menjadi gambar Kristus.

Kenyataannya adalah bahwa tentara jauh lebih baik dalam "mengubah" perilaku manusia secara duniawi daripada gereja. Di sana, orang-orang yang direkrut dikenakan sebuah tekanan yang besar, siang dan malam, hingga mereka memenuhi standar tentara. Namun, ini bukanlah perubahan yang sejati. Ini bukan menyelamatkan jiwa yang diinginkan Allah. Ini bukan sesuatu yang bernilai kekal yang dihasilkan dari Hidup Allah yang tumbuh di dalam mereka.

Otoritas jabatan semacam ini berasal dari dunia dan tidak dapat menghasilkan perubahan rohani. Otoritas ini tidak dapat menolong manusia untuk bertumbuh dalam Kristus, apalagi membawa perubahan yang bersifat kekal. Hanya otoritas rohani yang sejati yang dapat bekerja secara efektif untuk benar-benar mengubah orang menjadi serupa dengan Kristus. Tujuannya bukan sekadar mengubah perilaku manusia. Sebaliknya, yang diinginkan adalah melihat Yesus Kristus bertumbuh dan terbentuk di dalam setiap orang percaya. Agar hal ini terjadi, hanya otoritas dari Allah sendiri yang dapat bekerja. Hanya suara Allah yang berbicara ke dalam roh anak-anak-Nya yang dapat membentuk di dalam mereka apa yang Ia kehendaki. Ketika mereka mendengar suara-Nya, mereka akan dipenuhi dengan hidup-Nya (Yoh. 5:25). Sering kali, "firman" Allah disampaikan melalui orang-orang percaya lainnya.

Ada banyak anggota tubuh Kristus yang dapat dipakai Allah. Namun, bukan suara mereka yang didengar, tetapi suara-Nya. Dialah yang berbicara melalui mereka untuk mewujudkan ciptaan baru di hati para pendengar.

CONTOH DARI MUSA

Musa adalah sebuah gambaran seseorang yang menggunakan otoritas "yang diturunkan" ini. Dia tidak sedang memimpin Bani Israel menurut ide-ide atau arahan-arahan dia sendiri. Dia tidak sedang mengekspresikan dirinya sendiri. Saat Anda membaca catatan Perjanjian Lama tentang bagaimana dia memimpin orang Israel keluar dari perbudakan, cukup jelas bahwa dia hanya bergerak dan berbicara sesuai dengan petunjuk-petunjuk supernatural. Setiap langkah, setiap hukum dan peraturan, setiap detail kemah suci - semuanya dilakukan sesuai dengan petunjuk surgawi. Dia tidak sedang menggunakan otoritas jabatan yang Allah telah berikan kepadanya. Dia tidak sedang merumuskan rencana-rencananya sendiri dan membuat keputusan-keputusannya sendiri.

Sebaliknya, dia hanya membiarkan Allah memakainya untuk menurunkan otoritas-Nya kepada umat. Ketika otoritas Musa ditantang oleh Korah dan rombongannya, dia menjelaskan posisinya dengan cara ini: "Degan hal inilah kamu akan tahu bahwa aku diutus oleh Tuhan untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri" (Bil. 16:28).

Tuhan kita Yesus Kristus adalah contoh terbaik dari otoritas rohani yang diturunkan. Dia tidak datang untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa (Yoh. 6:38). Dia tidak melakukan pekerjaan-Nya sendiri atau bahkan mengucapkan kata-kata-Nya sendiri, tetapi hanya memberikan diri-Nya sebagai saluran di mana otoritas Bapa dapat mengalir (Yoh. 14:10).

Ketika Yesus mengusir setan, Dia menunjukkan otoritas Bapa. Ketika Dia mengutuk pohon ara, suara Bapa yang terdengar (Mat. 21:19). Ketika Dia menghardik angin dan gelombang, otoritas Bapa yang didemonstrasikan (Luk. 8:24). Setiap aspek hidup-Nya adalah sebuah manifestasi dari Allah yang tak terlihat.

Meskipun Dia mampu untuk melakukannya, Dia tidak pernah menggunakan otoritas-Nya sendiri, tetapi membiarkan Bapa-Nya mengalir melalui Dia.

Jadi, kita melihat bahwa ada dua jenis otoritas yang berbeda yang ada di dunia saat ini. Yang satu adalah otoritas manusia duniawi - otoritas yang didelegasikan - yang dijalankan oleh manusia, direspons oleh manusia, dan dikenal oleh mereka yang hidup di bumi ini.

Otoritas ini selalu disertai dengan pemberian pujian yang sebatas pada permukaan yang membantu ras yang jatuh dalam mengidentifikasi otoritas-otoritas ini. Posisi, gelar, seragam, dan banyak faktor eksternal yang lain, semuanya berfungsi untuk mengidentifikasi mereka yang memiliki otoritas yang didelegasikan.

Jenis otoritas ini selalu mencari pengakuan dari orang lain. Faktanya, ia membutuhkan pengakuan ini untuk berfungsi. Ini adalah otoritas duniawi alami yang dirancang oleh Allah untuk menarik sifat kejatuhan manusia. Ini adalah sesuatu yang Allah dirikan, yang berjalan menurut cara dunia ini untuk mengatur penduduk dunia.

Jenis otoritas lainnya adalah otoritas rohani. Ini adalah jenis yang diturunkan. Melalui otoritas ini, Allah bermaksud untuk memerintah umat-Nya. Jenis ini dimanifestasikan dalam orangorang yang berbeda, tetapi tidak menjadi milik mereka. Mereka sendiri tidak pernah menjadi otoritas, melainkan hanya saluran di mana otoritas ilahi mengalir.

KEINGINAN ALLAH

Satu kerinduan yang berakar kuat dalam hati Allah adalah agar umat-Nya menjadi sangat responsif terhadap-Nya. Dia merindukan untuk menjadi penguasa tertinggi atas milik-Nya. Pada akhirnya, keinginan-Nya adalah agar setiap orang menjadi intim dengan-Nya dan mampu mengikuti kepemimpinan-Nya secara pribadi. Angan-angan-Nya adalah agar tidak ada penghalang antara diri-Nya dan umat-Nya.

Tujuan-Nya mengenai Bani Israel adalah agar mereka semua menjadi imam-imam-Nya (Kel. 19:6). Hari ini, di dalam Gereja-Nya, kerinduan-Nya tetap sama. Dia merindukan agar setiap orang dari umat-Nya tumbuh dalam pengenalan pribadi yang mendalam akan Dia, yang akan memampukan mereka untuk menanggapi sekecil apa pun kehendak dan kerinduan-Nya.

Namun, kenyataan yang sebenarnya adalah tidak semua umat Allah (dulu atau sekarang) sedang menikmati pengalaman ini. Untuk mengatasi masalah ini, Allah memilih orang-orang untuk menurunkan otoritas-Nya dan dengan demikian mereka memimpin yang lainnya ke arah yang benar. Dia pertama menyiapkan bejana-bejana pilihan ini dan kemudian mengurapinya untuk dipakai sebagai saluran khusus dari otoritas-Nya.

Para pria dan wanita ini harus terlebih dahulu diremukkan oleh Allah sehingga mereka menjadi takut untuk menggunakan otoritas mereka sendiri. Kemudian, Allah mulai memakai mereka untuk menurunkan otoritas-Nya kepada umat-Nya. Mereka menjadi penyambung lidah ketika Allah berbicara dalam situasi-situasi di mana orang lain tidak mau atau tidak mampu mendengarkan Dia berbicara bagi diri mereka sendiri. Tujuan Allah melakukan hal itu - yang tercermin dalam hati hamba yang sungguh-sungguh dipakai - adalah untuk membawa orang-orang percaya lainnya ke dalam keintiman dengan Allah yang Dia rindukan.

Setelah Musa, Allah terus menggunakan otoritas rohani jenis ini untuk memimpin umat-Nya. Pemimpin selanjutnya yang sangat dipakai Allah adalah Yosua yang memimpin orang Israel ke tanah perjanjian. Kemudian, dari waktu ke waktu saat kebutuhan muncul, Tuhan membangkitkan hakim-hakim untuk menyampaikan kehendak-Nya.

Ada banyak bagian yang menarik dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan bagaimana Allah berbicara melalui para hakim dan nabi, dan bagaimana Dia memimpin mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang luar biasa. Namun, sepanjang waktu itu, kerinduan Allah adalah agar semua orang mengenal Dia secara intim dan dapat mengikuti pimpinan-Nya sendiri. Dia membangkitkan para pemimpin ketika diperlukan, tetapi hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa Dia merindukan agar otoritas-Nya - kedudukan-Nya sebagai Raja - dikenal oleh setiap pribadi.

Namun entah mengapa, Bani Israel tidak puas dengan pengaturan ini. Mereka memiliki keinginan yang berbeda di dalam hati mereka. Mereka ingin memiliki seorang raja. Mereka menginginkan otoritas yang berwujud manusia. Mereka merindukan seseorang yang dapat berfungsi sebagai wakil. Maka mereka datang kepada Samuel dan mendesak agar ia menetapkan bagi mereka seorang penguasa duniawi (1Sam. 8:5-20).

Mungkin kita dapat mengidentifikasi dua alasan di balik keinginan yang membingungkan ini. Pertama-tama, memiliki raja semacam itu akan membebaskan mereka dari tanggung jawab pribadi untuk mencari Allah sendiri. Kini "pemimpin" mereka bisa melakukannya untuk mereka: memikul semua tanggung jawab, mengurus semua persoalan, menentukan arah yang harus diambil, dan memerangi pertempuran mereka.

Kedua, mereka ingin menjadi seperti orang lain. Mereka tampaknya merasa sangat aneh karena tidak memiliki otoritas duniawi. Mereka pasti merasa agak tidak aman hanya dengan Pemimpin yang tak terlihat, tak berwujud. Mereka merindukan seseorang yang bisa mereka lihat dan dengar dengan indra jasmani mereka. Bagi mereka, otoritas rohani Allah tidaklah cukup. Jadi mereka memilih untuk menjadi seperti semua bangsa kafir lainnya.

Ketika Samuel mendengar permintaan ini, dia menjadi sangat marah. Dia tahu sesuatu tentang apa yang menjadi maksud Allah, dan dia mengerti bahwa Allah sedang memakainya untuk menyatakan arahan ilahi kepada umat-Nya. Dia bersedih bahwa bangsa yang telah dipilih Allah sebagai milik-Nya akan menuju ke jalan yang salah.

Namun, Tuhan mengingatkan Samuel bahwa mereka tidak sedang menolaknya, tetapi sebenarnya sedang menolak Dia sendiri. Mereka tidak sedang berpaling dari seorang manusia, tetapi menolak kedudukan Allah sebagai Raja dalam hidup mereka (1Sam. 8:7, 8).

Ini adalah bukti dari kasih Allah yang besar bagi manusia dan anugerah-Nya yang berlimpah bahwa Dia tidak meninggalkan orang Israel meskipun mereka meninggalkan Dia. Dia membiarkan mereka memilih jalan mereka sendiri, tetapi pertama-tama Dia menjelaskan bahwa permintaan ini hanya akan membuat mereka malang. Otoritas manusia duniawi akan mengambil anak-anak laki-laki dan perempuan mereka, menuntut bagian dari harta benda mereka, dan membawa mereka ke dalam perbudakan di mana Allah tidak akan melepaskan mereka (1Sam. 8:9-18).

Dia mengizinkan mereka memilih jalan mereka karena Dia melihat bahwa hati mereka sudah berpaling dari Dia. Namun, sangat jelas bahwa ini bukan kehendak-Nya. Dari pembahasan di atas, seharusnya jelas bahwa ada dua jenis otoritas dasar di dunia saat ini. Ada jenis otoritas duniawi yang dangkal, yang disebut "otoritas yang didelegasikan", yang Allah gunakan untuk menjalankan beberapa kontrol atas mereka yang tidak mengenal dan mengikuti Dia.

Ada juga otoritas rohani, yang diturunkan, yang selalu menjadi pilihan Allah untuk memerintah umat-Nya. Yang satu adalah untuk dunia, yang lain adalah untuk apa yang hari ini disebut Gereja-Nya. Yang satu berfungsi agak tidak bergantung kepada Allah, sedangkan yang lainnya tidak - dan sebenarnya tidak dapat - berfungsi kecuali Allah sedang berbicara dan bergerak.

SEBUAH PESAN UNTUK HARI INI

Marilah kita menyadari di sini bahwa semua contoh yang ada di Perjanjian Lama ini bukan hanyalah kisah-kisah yang menarik. Sebaliknya, contoh-contoh tersebut dicatat dengan sebuah tujuan tertentu: agar kita dapat memahami kebenaran-kebenaran rohani dari contoh-contoh tersebut. Sama seperti saat itu, hari ini kita juga memiliki beberapa pilihan untuk diambil yang berkaitan dengan otoritas.

Tentu saja sebagai penghuni dunia ini kita harus menundukkan diri kita kepada otoritas-otoritas duniawi. Kita seharusnya taat kepada mereka (1Ptr. 2:13). Mengenai interaksi kita dengan dunia ini, sangat jelas bahwa otoritas yang didelegasikan mereka berlaku bagi kita. Namun, mengenai fungsi kita di gereja, kedua jenis kepemimpinan ini juga tersedia - otoritas manusia dan otoritas rohani. Jenis otoritas yang satu ditetapkan oleh manusia dan didukung oleh semua alat bantu biasa dari gelar, posisi, jubah, dan lain-lain. Yang lain ditetapkan oleh Allah dan diteguhkan oleh Roh-Nya.

Di dalam tubuh Kristus, kita memang memiliki sebuah pilihan. Di satu sisi, kita dapat belajar untuk mengenali dan menundukkan diri kita kepada otoritas Allah, baik ketika Dia berbicara kepada kita secara pribadi dan ketika kehendak-Nya sedang dinyatakan melalui salah satu alat-Nya.

Di sisi lain, kita dapat menundukkan diri kita kepada semacam otoritas manusia, yang didelegasikan yang ditetapkan dan diakui oleh manusia. Hari ini kita memiliki jalan duniawi dan jalan surgawi di hadapan kita.

Tidak diragukan lagi bahwa Yesus Kristus ingin menjalankan otoritas-Nya yang sah atas Gereja-Nya. Doktrin kepemimpinan-Nya atas segala sesuatu (Ef. 1:22), keunggulan-Nya (Kol. 1:18), dan kendali-Nya yang penuh atas setiap aspek gereja bukanlah sebuah pengajaran yang samar.

Fakta bahwa setiap anggota tubuh dimaksudkan untuk mengembangkan hubungan yang intim dengan-Nya yang memampukan mereka untuk semakin merasakan kepemimpinan-Nya dalam hidup mereka seharusnya tidak mengejutkan siapa pun.

Lagi, kita mengerti bahwa kehendak-Nya bagi kita semua untuk menjadi imam (1Ptr. 2:5). Sekali lagi, bukanlah kehendak-Nya bahwa ada manusia yang menjadi perantara antara kita dengan Dia sendiri. Allah merindukan untuk memerintah setiap individu secara pribadi sehingga umat-Nya secara keseluruhan menyatakan kesempurnaan tujuan dan kehendak-Nya. Ini selalu menjadi dan masih merupakan salah satu titik fokus dari semua hubungan-Nya dengan manusia.

OTORITAS DALAM GEREJA

Tentunya ada sebuah kebutuhan akan otoritas Yesus dalam gereja. Selanjutnya, tidak diragukan lagi bahwa Allah memakai manusia untuk menjadi pemimpin dan teladan bagi yang lain dan menarik mereka ke dalam sebuah hubungan dengan Kristus. Namun, otoritas seperti apa seharusnya ini? Apakah ini otoritas yang berasal dari "posisi" dalam perhimpunan? Apakah ini berasal dari pengangkatan menjadi seorang penatua, pendeta, diakon, atau yang serupa? Apakah sebuah gelar atau "jabatan" membuat seseorang memenuhi syarat untuk memimpin umat Tuhan?

Apakah tanggung jawab ini diberikan kepada seseorang oleh orang lain yang juga memiliki gelar, pendidikan, atau posisi? Apakah ini datang dari semacam pemungutan suara atas kepercayaan dari mayoritas? Atau apakah kehormatan ini diambil alih seseorang atas dasar keberadaan kepribadiannya yang paling kuat di dalam kelompok? Semua ini hanyalah cara-cara duniawi yang hanya dapat berfungsi untuk menghalangi tujuan-tujuan Tuhan dan membawa orang lain ke dalam perbudakan!

Seperti yang telah kita lihat, otoritas rohani sejati berasal dari Allah sendiri. Mereka yang menunjukkan otoritas seperti itu adalah bejana-bejana yang disiapkan yang menyatakan anganangan dan kerinduan-kerinduan Allah kepada umat-Nya. Inilah jenis otoritas yang seharusnya kita lihat di gereja saat ini.

Yang sangat kita butuhkan saat ini adalah pria-pria pilihan Allah - mereka yang hanya akan berbicara ketika Tuhan sendiri berbicara kepada mereka, yang akan memimpin sesuai dengan arahan-Nya, dan yang akan menyatakan pewahyuan-Nya. Yang paling mendesak bukanlah mereka yang telah dididik, dipilih, atau ditunjuk ke dalam posisi otoritas, melainkan mereka yang hidup intim dengan Allah dan menjadi saluran yang bebas bagi kehendak-Nya untuk dinyatakan.

Ada perbedaan yang luar biasa antara jenis otoritas ini dan yang dilakukan oleh daging. Ya, Alkitab memang mengatakan bahwa Para Rasul "mengangkat" penatua di setiap jemaat (Kis. 14:23).

Namun, apakah arti ini sebenarnya?

Menurut Kamus Ekspositori Vine tentang Kata-Kata Perjanjian Baru, yang dimaksud "[...] bukan sebuah pentahbisan gerejawi yang resmi yang dipandang, tetapi pengangkatan ["menunjuk", dalam bahasa Yunani] untuk pengakuan dari jemaat-jemaat terhadap mereka yang telah lebih dahulu dibangkitkan dan diperlengkapi oleh Roh Kudus, serta yang telah memberikan bukti akan hal itu dalam kehidupan dan pelayanan mereka". (Edisi 1966, dalam bahasa Inggris. Sayangnya, edisi terbaru tidak lagi mencerminkan pemikiran asli A.W. Vine.)

Para rasul tidak sembarangan memilih orang hanya karena memenuhi syarat-syarat tertentu, atau karena tampak paling bersedia mengikuti program mereka, atau mungkin karena memiliki banyak uang atau pengaruh di tengah komunitas. Sebaliknya, dengan mata rohani, mereka menunjukkan - demi kebaikan mereka yang tidak dapat melihat dengan sejelas itu - siapa yang telah dipilih dan dipersiapkan oleh Allah untuk dipakai sebagai bejana-Nya.

Otoritas rohani sejati tidak datang dari penunjukan pada suatu posisi atau "jabatan". Bahkan, kata "jabatan" yang digunakan di 1 Timotius 3:1 versi King James sebenarnya tidak mewakili satu pun kata dalam bahasa Yunani asli; itu hanyalah ciptaan para penerjemah. Meskipun dalam Perjanjian Baru beberapa orang disebut sebagai "penatua", "diaken", atau "rasul", otoritas mereka tidak berasal dari posisi yang mereka duduki. Yang benar justru sebaliknya.

Sebutan-sebutan ini muncul sebagai hasil dari pekerjaan rohani yang telah Allah kerjakan di dalam batin mereka. Itu hanyalah cara untuk menggambarkan peran khusus yang mereka jalankan dalam tubuh Kristus. Dalam bidang tertentu yang unik, Allah telah mempersiapkan para pria ini untuk menjadi saluran otoritas-Nya. Nama-nama itu digunakan untuk mengidentifikasi bidang pelayanan tersebut, bukan untuk menjadikan mereka layak melakukannya.

Kerusakan yang tak terhitung jumlahnya telah dialami umat Tuhan melalui kesalahpahaman terhadap prinsip ini. Terlalu sering, para pria ditunjuk oleh sesamanya untuk menduduki suatu "posisi" dengan anggapan bahwa beberapa jenis otoritas diperlukan di dalam gereja. Kerugian dan cedera besar telah dialami oleh umat Tuhan melalui kebiasaan semacam ini.

Ketika kita menetapkan otoritas duniawi yang didelegasikan di dalam gereja Tuhan, kita dengan demikian sedang menawarkan sebuah pengganti bagi otoritas sejati! Ketika kita memilih atau menunjuk pria-pria menurut penalaran atau persepsi manusia, kita menetapkan semacam otoritas yang asing bagi rencana Tuhan dan yang hanya akan menjadi penghalang bagi kehendak-Nya yang sempurna.

Alasannya adalah karena, betapapun "alkitabiah" kelihatannya, otoritas yang bersifat jabatan tidak akan pernah mampu menghasilkan buah rohani. Apa pun yang berasal dari tingkat duniawi tidak akan sanggup memenuhi rancangan Allah. Alkitab dengan jelas menyatakan: "Daging sama sekali tidak berguna" (Yoh. 6:63). Namun, jangan salah paham - upaya manusia yang didukung oleh otoritas alami memang bisa menghasilkan banyak hal yang mengesankan di dunia keagamaan. Kampanye "kebangunan rohani", perekrutan anggota, penggalangan dana, dan pembangunan gedung dapat semua dilakukan oleh kepemimpinan manusia yang kuat.

Namun, mari kita ingat bahwa "keberhasilan" bukanlah ukuran pencapaian rohani kita. Tidak peduli seberapa luar biasa atau mengesankan pekerjaan-pekerjaan kita yang tampak, jika hal itu telah dibangun dengan bahan yang salah - bahan-bahan duniawi daripada supernatural - mereka akan hancur pada hari penghakiman. Hanya yang merupakan hasil dari pekerjaan Roh Kudus yang akan bertahan dalam ujian itu.

AKIBAT-AKIBAT DARI RAJA-RAJA MASA KINI

Sungguh, Allah mengizinkan umat-Nya untuk mengikuti keinginan mereka dan menetapkan seorang raja bagi mereka. Meskipun Dia tidak menghendakinya, Dia tetap bekerja melalui sistem yang salah ini sebanyak mungkin untuk membawa umat-Nya ke dalam keintiman dengan Diri-Nya. Demikian pula hari ini, Dia mentolerir sikap ketidaktaatan kita ketika kita menetapkan otoritas duniawi bagi kita dalam Gereja-Nya.

Dalam kasih karunia dan rahmat-Nya yang melimpah, Dia bahkan bekerja melalui "sistem-sistem raja" kita sebanyak yang Dia bisa untuk mencapai tujuan-Nya. Namun, itu bukan kehendak sempurna-Nya dan tidak akan pernah memenuhi keinginan tertinggi-Nya. Sebaliknya, Alkitab dengan sangat jelas menyatakan bahwa penetapan otoritas seperti itu adalah sebuah penolakan terhadap kepemimpinan-Nya sendiri dan merupakan kesalahan yang serius.

Tiga akibat dari kesalahan ini, yang diramalkan Samuel dengan sangat jelas, adalah sebagai berikut:

Ini merampas orang-orang dari buah rohani mereka, yakni anak-anak rohani. Otoritas manusia melumpuhkan tubuh Kristus dengan menggantikan arahan dan rencana Roh Kudus dengan kehendaknya sendiri. Meskipun otoritas ini mungkin dimaksudkan baik dan bahkan memiliki banyak program seperti "kegiatan penginjilan", kuasa Injil yang dahsyat akan berkurang ketika penggantian ini terjadi.

Efek buruk terkait adalah bahwa para pengikut secara alami cenderung mulai mencari arahan dan persetujuan dari otoritas manusia daripada terus-menerus dipimpin oleh Kepala mereka yang sejati. Akibatnya, mereka yang berada di bawah otoritas semacam ini menjadi ragu-ragu untuk memulai sesuatu sendiri agar tidak dianggap sebagai suatu tantangan terhadap posisi pemimpinnya.

Semakin lama, mereka menjadi tidak mampu dipimpin secara langsung oleh Roh Kudus. Ini merampas para pengikut dari kuasa rohani. Ketika keintiman hidup dengan Otoritas sejati digantikan dengan sesuatu yang lemah dan manusiawi, kapasitas berbuah dari setiap aspek kehidupan rohani menjadi terbatas.

Otoritas alamiah menuntut dari orang-orang uang mereka (harta benda). Tidak diragukan lagi bahwa pentingnya seseorang dengan kedudukan duniawi dinilai dari lingkup pengaruh mereka dan dari kemewahan mereka. Semakin banyak orang yang ada di bawah otoritas seorang pemimpin, semakin penting dia. Semakin luas wilayah yang dia kuasai, semakin tinggi harga dirinya. Biasanya yang menyertai peningkatan ini di mata manusia adalah pakaian yang lebih mewah, alat transportasi yang lebih mahal, dan tempat tinggal yang lebih megah.

Di gereja saat ini tidak berbeda. Hampir selalu, seiring bertambahnya pengaruh seorang pemimpin, begitu pula keinginannya untuk tempat pertemuan yang lebih besar, lebih mengesankan, pakaian yang lebih sesuai dengan posisinya, dan secara umum, kenaikan gaji. Ini pasti membutuhkan uang dan uang ini berasal dari mereka yang telah menempatkan diri mereka di bawah pengaruh otoritas duniawi ini.

Berpikirlah sejenak dan bandingkan hal ini dengan teladan Tuhan kita Yesus. Dia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, dan kemungkinan besar bahkan tidak memiliki pakaian ganti. Dia tidak pernah membangun istana atau bait suci. Dia dengan tegas menolak diberikan posisi otoritas duniawi. Upah-Nya hanyalah apa yang Bapa minta orang-orang lain berikan. Bagaimana yang kita lakukan sekarang ini sebanding dengan teladan itu?

Memang benar bahwa Kitab Suci menasihati kita untuk memberikan uang kita kepada pekerjaan dan para pekerja Allah. Tetapi jika kita menggunakan dana kita untuk mendukung usaha dan otoritas manusia semata, kita tidak akan mendapat pahala. Ketika api Allah turun, apa pun yang telah dibangun dari bahan alami (kayu, jerami, dan sekam) akan terbakar dan uang hasil jerih payah kita akan terbakar bersama mereka.

Di sisi lain, jika kita berhati-hati untuk menginvestasikan uang kita pada hal-hal yang benar-benar rohani, investasi kita akan berbuah untuk kekekalan. Ketika kita menggunakan keuangan kita untuk mendukung pekerjaan-pekerjaan dan pemimpin-pemimpin rohani yang sejati, kita tidak akan pernah kehilangan pahala kita.

3. Otoritas jabatan membawa umat Allah ke dalam perbudakan terhadap kehendak manusia dengan menggunakan waktu, energi, dan bakat mereka untuk membangun organisasi duniawi dan bukan tubuh rohani. Otoritas alamiah dengan semua rencana dan programnya membutuhkan orang untuk melakukan pekerjaan. Jadi, ketika Anda menempatkan diri Anda di bawah otoritas semacam itu, Anda mulai membiarkan diri Anda menjadi alat dari usaha semacam itu.

Semakin Anda tunduk pada otoritas manusia untuk mengatur hidup Anda, semakin Anda menutup ruang bagi otoritas Roh Kudus. Anda tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Yang pasti terjadi akan ada sebuah pertentangan antara keduanya. Tuan Anda di surga ingin mengarahkan setiap aspek dari keberadaan Anda dan otoritas lain hanya akan terbukti sebagai persaingan dan kekecewaan. Ketika Anda memilih cara duniawi seperti yang dilakukan orang Israel, Anda menjadi seorang budak dari kehendak dan keinginan manusia, daripada mengalami kebebasan sejati dalam penyerahan kepada Allah.

Ini adalah sebuah perbudakan yang mana Allah tidak akan melepaskan kita (1Sam. 8:18). Allah tidak akan pernah mengganggu kehendak kita. Ketika kita memilih sesuatu, Dia tidak akan mengubah keputusan itu dengan cara memaksa kita. Dia mungkin bekerja dengan banyak cara yang berbeda untuk membantu kita menyadari kesalahan kita. Kita mungkin menemukan kepekaan akan kehadiran-Nya dalam hidup kita menurun. Kita mungkin mulai menemukan bahwa masalah-masalah yang tampak kecil ketika kita sedang berjalan dalam keintiman dengan Yesus kini tampak tidak dapat diatasi. Dia bahkan mungkin membiarkan kita menjadi sangat menderita di jalan yang telah kita pilih.

Namun, ketika kita dengan sukarela menyerahkan diri kita kepada otoritas manusia, Dia tidak akan melepaskan kita darinya. Satu-satunya alternatif kita adalah mengubah pilihan kita. Kita harus melakukan kehendak kita sendiri dan memilih untuk melepaskan diri dari kontrol otoritas apa pun di dalam gereja yang merupakan pengganti dari otoritas milik Allah sendiri.

Hal berikut mungkin mengejutkan banyak orang, tetapi itu tetaplah benar. Ketika kita menyerahkan diri kita kepada otoritas duniawi, kita sebenarnya membawa diri kita di bawah sebuah kutuk. Beginilah firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk." (Yer. 17:5, 6).

Perhatikan di sini bagaimana mengandalkan manusia dan berpaling dari Allah dikaitkan. Ketika Anda mengandalkan manusia, Anda tidak bisa tidak berpaling dari Allah. Ayat lain mengingatkan kita: Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila napasnya berhenti, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah segala rencananya. Berbahagialah orang yang menerima pertolongan dari Allah Yakub, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya" (Mzm. 146:3-5).

Hari ini di gereja Kristus ada dua jenis otoritas yang dijalankan. Oleh karena itu, sebagai anggota gereja, setiap kita dihadapkan dengan sebuah pilihan yang penting. Jika kita menyerahkan diri kita kepada jenis jabatan manusiawi, itu akan menghalangi dan akhirnya menggantikan yang rohani. Sebaliknya, jika kita menyerahkan diri kita kepada otoritas surgawi, itu pasti akan bertentangan dengan yang duniawi.

Seperti yang telah kita lihat, keputusan ini sangat penting; bahkan, itu sangat krusial. Jika kita memilih untuk berjalan di jalan yang luas dan mudah, kita mungkin akan menemukan banyak teman dan bahkan mungkin menikmati tingkat popularitas yang baik, tetapi akibat-akibat yang Allah telah peringatkan dengan sangat jelas akan menimpa kita.

Jika di sisi lain, kita memilih jalan yang lebih sulit, sempit, tidak diragukan lagi akan ada saat-saat kita akan merasa sangat kesepian dan, mau tidak mau, kita akan terlibat dalam pertentangan antara dua jenis otoritas ini.

Para rasul pertama dan, pada kenyataannya, Yesus sendiri, menemukan diri mereka dalam situasi seperti ini. Meskipun mereka tidak mencarinya, mereka menghadapi perlawanan terus-menerus dari mereka yang memegang "jabatan-jabatan" dalam organisasi keagamaan yang ditetapkan pada zaman mereka.

Otoritas-otoritas tradisional melihat satu hal dengan sangat jelas: jika mereka membiarkan manifestasi otoritas rohani ini tidak terkendali, akhirnya itu akan menggantikan otoritas mereka sendiri. Entah bagaimana, mereka dapat mengenali bahwa itu, pada hakikatnya, merupakan jenis otoritas yang lebih unggul yang ditakdirkan untuk menggantikan variasi mereka yang lebih rendah dan duniawi. Hati mereka tidak selaras dengan hati Allah sehingga mereka berjuang untuk mempertahankan "tempat" mereka yang sangat mereka nikmati (Yoh. 11:48).

Dalam prosesnya, mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk menekan otoritas yang lebih tinggi itu. Akhirnya, ketika mereka telah menghabiskan semua pilihan lainnya, mereka beralih kepada pembunuhan wakil-wakil Allah.

Betapa mudahnya bagi kita untuk ingin menghindari masalah. Memang kecenderungan alami bagi kita untuk hanya mengikuti status quo dan "menjadi seperti orang lain" (1Sam. 8:5). Namun, kita tidak berada dalam posisi yang berbeda dari pendahulu kita atau Tuhan kita.

Jika kita benar-benar ingin mengikuti Yesus, pertentangan-pertentangan-Nya akan menjadi milik kita. Jadi, sekali lagi, kita memiliki dua pilihan ini. Kita bisa mempertahankan kebahagiaan dan kedamaian pribadi kita atau kita bisa mempersiapkan diri kita untuk berbagi dalam penderitaan Kristus. Kita bisa menyerahkan diri kita kepada manusia atau merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat (1Ptr. 5:6).

MASALAH KETIDAKNAMPAKAN

Salah satu masalah utama yang kita hadapi ketika berbicara tentang otoritas yang diturunkan dibandingkan otoritas jabatan adalah bahwa Yesus hari ini tidak kelihatan secara fisik. Kita tidak dapat melihat-Nya dengan mata kita. Namun, manusia alami memiliki kepercayaan pada hal-hal yang nyata, hal-hal yang dapat dia lihat, dengar, rasa, atau cicip. Bagi manusia alami, hal-hal yang tak kelihatan sulit untuk dipahami dan dicerna, sehingga dianggap tidak dapat diandalkan.

Akibat dari hal ini adalah bahwa bagi orang percaya yang baru dan mereka yang belum bertumbuh secara rohani, jauh lebih mudah untuk condong kepada otoritas jabatan yang bersifat duniawi. Mereka tidak mudah memahami hal-hal yang bersifat rohani. Bagi banyak dari mereka, seseorang dengan gelar dan posisi otoritas yang mengarahkan hidup mereka jauh lebih sederhana dan lebih aman daripada pemikiran untuk perlu mendengar dari dan mengikuti Seseorang yang tidak tampak.

Hubungan kita dengan Yesus yang bangkit dan hidup terjalin oleh iman. Melalui iman, kita memahami dan menangkap hal-hal yang tidak tampak Di dalamnya termasuk kehadiran serta kepemimpinan Tuhan kita, Yesus Kristus. Mustahil untuk mengenal-Nya dan mengikuti-Nya tanpa iman. Hanya mengikuti instruksi Alkitab saja tidak akan cukup. Kita harus melalui iman masuk ke dalam keintiman pribadi dengan Yesus, belajar mengenal suara-Nya, dan mengikuti-Nya. Dengan cara ini, Dia dapat memimpin kita ke dalam seluruh kehendak-Nya.

TIDAK SELALU HITAM DAN PUTIH

Sayangnya, di dalam gereja saat ini, perbedaan antara otoritas jabatan yang bersifat duniawi dan otoritas rohani yang sejati tidak didefinisikan dengan jelas. Sebaliknya, sering kali ada campuran dari kedua jenis otoritas ini. Situasi ini tidak selalu hanya hitam atau putih. Di gereja ada beberapa orang yang memanifestasikan sebagian otoritas rohani tetapi telah membiarkan orang lain untuk menempatkan mereka dalam jabatan-jabatan duniawi. Mungkin beberapa dari mereka bahkan telah mengambil jabatan ini untuk diri mereka sendiri.

Hal ini kemudian menempatkan pemimpin-pemimpin ini dalam sebuah situasi di mana mereka bisa dan mungkin memang menggunakan kedua jenis otoritas. (Kita akan membahas masalah unik mereka dalam tulisan-tulisan selanjutnya tentang semua topik yang penting ini). Satu jenis membangun umat Allah, yang lainnya menghambat tujuan-Nya. Satu adalah apa yang harus kita patuhi, sementara yang lain harus dihindari.

Sering kali, pemimpin-pemimpin ini sendiri tidak dapat membedakan antara kedua jenis otoritas ini. Mereka belum diajarkan atau belum cukup matang untuk memahami dampak dari penggunaan masing-masing jenis. Oleh karena itu, terserah kepada kita masing-masing secara individu untuk mengetahui, menurut wahyu Roh Kudus, kepada arahan dan kepemimpinan mana kita harus menyerahkan diri kita dan mana yang harus ditolak.

Dalam keputusan yang sangat penting ini, kita harus sangat hati-hati. Ada dua cara di mana kita dapat benar-benar melakukan kesalahan. Di satu sisi, pemberontakan daging terhadap otoritas duniawi bukanlah cara Allah. Ketika kita mengerti bahwa otoritas alami sedang digantikan oleh otoritas Allah di gereja, jika reaksi kita terhadap hal ini tidak ditandai dengan kelembutan, kerendahan hati, dan kasih, itu bukanlah respons Roh.

Ketika kita menunjukkan kebencian dan kemarahan, itu tidak mengerjakan pekerjaan Allah. Kita tidak boleh mengizinkan daging kita bereaksi terhadap apa yang kita lihat tetapi lebih baik dipimpin dalam segala hal oleh Otoritas yang Lebih Tinggi. Secara umum, respons-Nya saat di bumi bukanlah untuk menentang dan mengutuk, tetapi untuk melanjutkan pekerjaan sejati Allah. Kita tidak dipanggil untuk pemberontakan yang terang-terangan terhadap otoritas jabatan apa pun, melainkan untuk menyerahkan diri kita kepada kehendak Allah yang paling utama.

Di sisi lain, kita tidak berharap dan, pada kenyataannya, kita tidak boleh melewatkan arahan supernatural Allah - terutama ketika arahan ini datang melalui bejana-bejana manusia lainnya. Kita tidak bisa sekadar menolak segala jenis otoritas yang diungkapkan melalui manusia. Sangat penting bagi kita untuk merendahkan diri dalam hal ini di hadapan Pencipta kita dan pastikan bahwa kita bersedia menaati suara-Nya di mana pun itu didengar.

Kita harus bersedia menaati Dia dalam apa pun yang Dia katakan. Jika kita tidak memiliki sikap hati ini, kita pasti akan berakhir tidak hanya menolak otoritas manusia tetapi, pada kenyataannya, semua otoritas. Kondisi kita akan menjadi pemberontak-pemberontak independen yang sedikit gunanya bagi Allah. Kebenarannya adalah jika kita tidak dapat menundukkan diri kepada Tuhan yang berbicara melalui saudara-saudari kita, kita sebenarnya tidak menundukkan diri kepada-Nya sama sekali.

Pertanyaan jelas yang muncul dari semua diskusi ini adalah: "Bagaimana kita bisa mengetahui perbedaan antara otoritas yang bersifat rohani dan yang bersifat duniawi?" Jawabannya sangat sederhana tetapi sama sekali tidak mudah. Satu-satunya cara untuk membedakan antara kedua jenis otoritas ini adalah memiliki ketajaman rohani. Di luar wahyu Roh Kudus, tidak ada cara untuk mengetahuinya. Manusia alami tidak mampu membedakan antara keduanya. Hanya mereka yang memiliki penglihatan rohani yang akan dapat mengetahui apa yang berasal dari Allah dan yang bukan. Ini adalah sesuatu yang harus dibedakan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap anak Allah untuk menumbuhkan keintiman dengan-Nya. Setiap dari kita bertanggung jawab untuk mengembangkan dan memelihara sebuah hubungan rohani dengan Tuhan kita. Tidak ada orang lain yang akan melakukannya untuk kita. Kita tidak bisa mengandalkan semacam "raja" untuk menanggung beban.

Sama seperti dengan Bani Israel, begitu juga hari ini kerinduan Allah masih sama. Dalam hati-Nya, Dia merindukan kita untuk membiarkan diri kita ditarik ke dalam hubungan cinta yang dalam dengan diri-Nya. Dari posisi ini, bersandar di dada Yesus (Yoh. 13:23), kita akan memahami semua yang Dia anggap perlu untuk kita ketahui.

Akhir bab 1

Baca bab-bab lain secara online:

Bab 1: DUA JENIS OTORITAS (Bab saat ini)

Bab 2: PEMBERONTAKAN KORAH

Bab 3: SEMAK YANG TERBAKAR

Bab 4: WUJUD SEORANG PELAYAN

Bab 5: KEPALA DARI SETIAP MANUSIA

Bab 6: KEPALA DARI TUBUH